Mohon tunggu...
Ulviana
Ulviana Mohon Tunggu... Mahasiswa

Saya adalah presiden untuk diri saya sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Apakah Kita Sudah Move On?

1 April 2021   10:55 Diperbarui: 1 April 2021   11:04 99 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apakah Kita Sudah Move On?
Dok. pribadi

Yang namanya sayang, pasti pinginnya selalu membahagiakan. Sehingga, apa-apa yang kita lakukan tujuannya hanya untuk membahagiakan orang yang kita sayang. Kita lupa bahwa dunia mempunyai dua sisi. Semuanya serba meragukan dan tidak ada yang pasti. Ia bisa saja tiba-tiba pergi setelah mengkhianati. Ya itu kemungkinannya hanya 50 % saja. Takdir Tuhan mana kita mengerti.

Saat bunga-bunga cinta bermekaran, apakah pernah terlintas di benak kita sebuah kekhawatiran sang kekasih akan tiba-tiba meninggalkan? Ya sepertinya ada ya, tapi kita lebih memilih merendam ketakutan itu dalam-dalam karena malas merasakan kekhawatiran yang mengusik kebahagiaan. Saya katakan sepertinya karena biasanya kita tanpa sadar menenggelamkannya begitu saja. Padahal, seperti halnya bom, semuanya hanya menunggu waktu untuk meledak pada waktunya saja.

Yang namanya bunga mekar pasti akan ada saatnya layu juga. Ketika bunga-bunga cinta itu mulai layu, kekhawatiran itu akan semakin tercium. Bisa berupa kecemburuan yang berlebihan, atau posesif karena takut kehilangan. Dasarnya memang cinta, yang katanya itu anugerah Tuhan. Tapi, bagaimana bisa anugerah Tuhan dijadikan lapisan untuk menutupi kekhawatiran akan kehilangan seseorang? Pertanyaannya, kita pecinta atau cuma gombal saja? Jadi, sebenarnya bagaimana untuk bisa menjadi seorang pecinta? Apakah bisa kita menghilangkan kekhawatiran terpendam itu? Rumusnya "cinta adalah bius". Hal semenyakitkan apapun, jika jiwamu pecinta, maka kamu akan menerimanya dengan lapang dada. Bukan karena sudah mati rasa, tapi lebih kepada menikmati dan menerima keanekaragaman rasa. Seorang pecinta tidak akan memiliki rasa ketakutan akan kehilangan yang dicinta, karena cinta tidak membutuhkan kepemilikan, tapi hanya membutuhkan penerimaan.

Mengapa ketika kita merasa sudah menjadi pecinta namun masih merasa kehilangan saat yang dicinta hilang? Itu karena proses mencintai kita belum sampai pada ahwal itu, tapi bukankah itu sebuah kode Tuhan agar kita lebih mendalami lagi sebenarnya cinta itu apa?. Patah hati tidak apa-apa. toh cinta bukan sebuah pelabelan sehingga kita harus terlihat seperti itu ini. Jadi, ya kita terima saja daripada pura-pura baik-baik saja tapi rasa kesakitan itu masih ada. Jika tidak mau mendapat pelabelan dari orang-orang, kenapa juga kita harus memperlihatkannya?

Cinta adalah proses mencintai, jadi segalanya akan selalu dinamis. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang bisa bijak, tidak bisa dipungkiri akan ada saatnya terjatuh pula. Jika kita berhenti, tidak akan ada usaha untuk berjalan lagi bukan? Lalu bagaimana kita bisa sampai kepada cinta sejati?

Move on, adalah PR untuk mereka yang hatinya telah dipatah-patahkan harapan. Tapi apakah menemukan objek untuk dicintai adalah solusi? Jika pemaknaan kita terhadap cinta masih sama saja seperti yang sebelumnya, bukannya sama saja kita memasukkan diri ke dalam lubang yang sama? Jadi, biarkan kita kehilangan objek yang kita cintai tapi jangan sampai kita kehilangan cinta. Mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan adalah kuncinya. Akan membuang-buang waktu jika kita menghabiskan 'masa untuk mengerjakan PR' dengan menyalah-nyalahkan keadaan yang aslinya itu kehendak Tuhan. Kita tahu kan, mana mungkin kita bisa mengambil alih tugas Tuhan?

Jadi, ayolah kita move on, mendalami lagi bagaimana SOP mencintai yang tidak menyakitkan ketika disakiti, mencintai yang menerima ketika dikhianati, mencintai yang hanya takut jika kehilangan diri sendiri, dan mencintai yang tidak menginginkan apa-apa dari yang kita cintai. Memang mudah untuk membacanya, tapi mempraktekkannya kita membutuhkan waktu. Sedikit demi sedikit belajar dari kesalahan yang dilakukan, konsisten dan bersungguh-sungguh, maka kita akan sampai pada titik "nyaman pada ketidaknyamanan".

VIDEO PILIHAN