Mohon tunggu...
Ulil Lala
Ulil Lala Mohon Tunggu... Deus Providebit - dreaming, working, praying

Bukan penulis

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

My Pictures My Inspiration, Tulisanku, Fotoku

6 Maret 2021   08:00 Diperbarui: 6 Maret 2021   09:28 158 28 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
My Pictures My Inspiration, Tulisanku, Fotoku
My picture my inspiration : fotoku, tulisanku | dok.pri

Menciptakan sebuah foto lebih dulu sebagai ilustrasi untuk tulisan atau ide menulis datang dulu baru menciptkan foto supaya pas dengan narasinya. Manapun yang lebih dulu tercipta foto atau tulisan, keduanya adalah hasil karya sendiri.

Kalau ditanya suka menulis atau suka motret? Tentu akan saya jawab keduanya. Namun jika ditanya mana dulu yang lebih dahulu muncul idenya, foto atau tulisan? Ya jawabnya tak bisa dipastikan. Terkadang narasi sebuah cerita, catatan suatu peristiwa, tulisan diary, rangkuman sudah dibuat lebih dulu, baru mencari ide untuk membuat foto sebagai bahan ilustrasi untuk melengkapi dan mendukung narasi yang ada.

Namun tak dipungkiri juga, ketika melihat-lihat foto lama atau bahkan semenit setelah pengambilan foto, ada banyak ide muncul untuk tema suatu narasi. Bisa dibuat menjadi ilustrasi untuk menulis cerpen, puisi, diary, hobi atau disesuaikan dengan kejadian nyata yang sedang diperbincangkan.

Dulu saya pernah ikut sebuah blog yang cukup lengkap, bisa upload khusus foto seperti Instagram atau Facebook, bisa untuk menulis panjang lebar seperti Blogspot dan Kompasiana, bisa juga untuk ngelempar status singkat seperti Twiter dan status WA, atau gabungan antara tulisan dan gambar. Nama platform tersebut Multiply namun sayang sekali sekitar tahun 2010 kalau ga salah ingat blog tersebut bubar karena diubah menjadi marketplace. Di Multiply tidak ada keharusan partisipan untuk mencantumkan sumber foto atau tulisannya. Jadi dengan bebas pengguna copas-copas saja gambar-gambar dari internet lalu dibuat cerita atau sebagai ilustrasi tanpa perlu mencantumkan sumbernya.

Membidik sasaran | Pic. by Jeng Intan
Membidik sasaran | Pic. by Jeng Intan
Dari situlah saya pertama kali dikenalkan pada dunia menulis di sosial media dan fotografi, meskipun saya tidak benar-benar mendalaminya atau paham benar tentang fotografi. Namun saya menemukan kesenangan dan inspirasi saat hasil foto saya terlihat bagus.

Namun karena kesibukan kerja saya menghentikan aktivitas memotret dengan kamera, tapi beralih pada handphone. Membawa kamera baik yang ukuran besar maupun sekedar kamera saku membuat saya kerepotan dengan transfer foto ke media pc dan editing untuk sekedar mengoreksi. Dengan kamera handphone dapat menyingkat waktu, sehingga hasil foto bisa langsung di publish ke sosial media. 

Tentu saja, pengambilan foto dengan handphone ini juga tetap menggunakan dasar-dasar fotografi yang pernah saya dapatkan dari para suhu fotografer. Bukan tentang rumus-rumus F, ISO, speed dan semacamnya, tapi saya lebih suka menggunakan setting auto dengan mempertimbangkan arah cahaya, kuatnya cahaya yang ada, komposisi, point of view, background dan estetikanya. Bukan asal jepret langsung nongol di sosial media.

Untuk genre foto dengan handphone yang paling saya sukai adalah food photography, untuk macro sepertinya gedget kurang memenuhi kriteria khususnya bila objek terlalu kecil. Meski begitu, foto makro tetap menjadi kesukaan saya juga. Genre foto yang paling saya tidak suka adalah foto narsis baik narsis biasa maupun narsis super alay lebay. Beda ya dengan motret model. Maaf saya paling anti dengan foto-foto macam ini. Untunglah di Kompasiana sejauh ini saya belum menemukannya foto-foto narsis, karena Kompasiana kan lebih asyik untuk menulis.

Beda platform, beda aturan

Di Kompasiana meski tertulis saya bergabung di sini sejak April 2014, namun sesungguhnya saya baru aktif menulis pada akhir Desember 2020, jadi belum genap tiga bulan saya gabung di sini. Belum banyak tulisan yang saya hasilkan dan kebanyakan hanya tulisan biasa bukan tulisan yang berbobot. Masih banyak hal yang harus saya pelajari, saya sering salah klick, bingung mau mengatur tulisan atau gambar supaya tampilannya lebih menarik, bingung kok bisa begini atau begitu, istilah jawanya masih nunak-nunuk. Pengen bertanya, tapi kok terkesan pertanyaannya ga penting banget ya. Jadi sejauh ini saya mencoba belajar dari kesalahan yang saya buat sendiri, pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah pepatah bilang.

Karena ide datang tak mengenal waktu dan tempat | Pic. by Ulil
Karena ide datang tak mengenal waktu dan tempat | Pic. by Ulil
Untuk menulis sendiri, saya sudah mulai sejak SMP, namun hanya di kertas bekas saja atau buku tebal yang saya jadikan diary. Meski menulis diary sendiri terhenti karena kurang telaten. Sementara untuk menulis di media sosial baru mulai tahun 2007. Saya tidak menentukan secara spesifik jenis tulisan apa yang ingin saya geluti, tapi apa saja yang mengalir dan mengganggu di otak, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Sesuatu yang menggelitik, tapi diluar tema politik, meskipun menarik kapasitas saya untuk menulis bidang politik tidak cukup baik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN