Mohon tunggu...
setiadi ihsan
setiadi ihsan Mohon Tunggu... Social Worker, Lecturer.

Menulis itu tentang pemahaman. Apa yang kita tulis itulah kita.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Ied Mubarak" Menyisakan Sampah

7 Juni 2019   11:21 Diperbarui: 7 Juni 2019   14:36 0 1 0 Mohon Tunggu...
"Ied Mubarak" Menyisakan Sampah
Dokpri

Menarik, 2 butir himbauan yang disampaikan pembawa acara dan saya dengar dalam shalat Ied di Alun-alun/Lapangan Otista, Kota Garut, 2 hari lalu.Pertama, tidak beranjak dari tempat duduk sebelum selesai khotbah Ied, "Cing atuh, satahun sakali mah!" demikian penegasan sang pembawa acara.

Kedua, soal himbauan tidak meninggalkan sampah kertas koran, tentunya ini bagi jamaah yang membawa dan menggelar kertas koran sebagai alas sajadah mereka.

Al hasil, kedua himbauan tersebut gagal dijalankan jamaah. Untuk himbauan pertama, belum beres Khatib mengucapkan salam, 1-2 jamaah sudah berdiri, bersiap meninggalkan lapangan yang akhirnya diikuti oleh beberapa jama'ah lainnya.

Himbauan kedua mengenai dibersihkan lagi lapangan dari sampah koran bekas, juga mengalami kegagalan.
Bisa jadi, ini hikmah lain, hehe, rezeki bagi sang pemulung koran bekas.

Pertanyaannya adalah, apakah mereka yang tidak berlaku sesuai himbauan di atas adalah mereka yang tidak mendengarkan himbauan sang pembawa acara? atau karena satu dan banyak hal lain ada alasan yang menjadikan mereka tidak mengikuti himbauan?

Saya hanya mau mencoba membedahnya dari aspek komunikasi.

Sesingkat apapun sang pembawa acara baik dari peran dan waktu, tidak bisa dielakkan ia sedang melalukan tugas public speaking.

Komunikasi yang melibatkan massa, public speaking (PS), memang tidak akan berjalan efektif ketika sang komunikator tidak menguasai pilar utama PS. 

Pilar yang pertama yang harus dipunyai adalah adanya aspek trust dr massa/komunikan bahwa sang komunikator ketika itu diakui keberadaanya oleh massa, sehingga pesan penting yang disampaikan menjadi efektif, tidak hanya cukup didengar tetapi juga dipastikan perlu ditindaklanjuti.

"Cing satahun sakali mah atuh...." frase yang menurut saya telah menempatkan massa sebagai pion/anak buah/subordinat dari pembawa acara, yang akhirnya bukan lagi himbauan atau persuasi tetapi lebih kepada instruksi, yang bisa jadi beresponse, "siapa lo!".

Dari pilar koneksitivitas massa, sang pembawa acara tidak memahami, psikologis massa yang saat itu bukan hanya suasana emosi keceriaan/kehangatan yang ditunjukkan dengan obrolan di antara mereka yang masih dipenuhi kerinduan akan berbagi cerita.

Dalam kondisi seperti ini, himbauan tanpa melakukan pendekatan emosional atau merangkul perhatian terlebih dahulu, apalagi dalam massa yang banyak, bisa dianggap kesia-siaan. Belum lagi, himbauan yang hanya dilakukan sekali.

Dari pilar kejelasan pesan, himbauan yang  hanya diucapkan sekali, tanpa disertai alasan dan impact kalau pesan itu tidak diikuti, ini juga memperburuk efektivitas komunikasi.

Oh, iyaa... satu lagi yang menarik, saya tidak melihat adanya antusiasme salaman dengan Bapak Bupati yang dijelaskan pembawa acara, Pa Bupati ada didepan, dekat podium, bagi warga yang ingin bersalaman.
Saya pun salah satu yang tidak berantusian saya. heehe
Semua berhamburan mencari jalan keluar, bukan menuju podium.

Maklum, pengumuman diumumkan di saat jamaah berhamburan keluar lapangan, ini menambah point bahwa teknik
komunikasi massa tidak dimainkan sang pembawa acara.

Al-hasil dendang shalawat yang biasa menyertai prosesi salaman berjalan "cawerang"/garing tanpa greget.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x