Mohon tunggu...
Abubakar Albaar (Uday)
Abubakar Albaar (Uday) Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Akan merasa lega untuk melakukan kegiatan selanjutnya jika sudah menuangkan apa yang ada dikepalanya ke dalam sebuah tulisan. ARSITEKTUR, URBAN DESIGN, FOTOGRAFI

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Antara Galileo Galilei dan Ahok

11 Mei 2017   08:58 Diperbarui: 16 Mei 2017   02:45 489
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Galileo Galilei adalah ilmuwan yang sangat populer dan punya andil besar dalam revolusi ilmu pengetahuan. Namun, sejarah mencatat ia pernah dihukum atas tuduhan menistakan agama.

Pemikiran yang dikemukakannya pada saat itu mungkin bisa dibaca sebagai sebuah kritik terhadap kalangan konservatif yang mengekang kebebasan berpikir dengan serangkaian dogma-dogma yang bersifat absolut.

Pemikirannya tentang bumi itu bulat, tidak datar dan bumi bukanlah pusat tata surya dianggap oleh otoritas agama saat itu sebagai sebuah pelecehan terhadap apa yang tertulis di kitab suci. Pemikiran yang justru dianggap dunia sebagai sebuah perjuangan kebenaran dan sumbangan terbesar bagi ilmu pengetahuan saat ini.

Namun, jika ditelusuri sejatinya di mata para otoritas agama, Galileo dihukum bukan semata-mata karena dia telah menjatuhkan martabat otoritas agama di mata masyarakat. Galileo dihukum karena tidak mampu membuktikan teori yang diusungnya (saat itu). Terlebih ajaran teori Heliosentrisnya terindikasi menyimpang secara teologis. Ia sangat fanatik pada Copernicus, ilmuwan yang mengemukakan Teori Heliosentris, sedangkan Copernicus sendiri mengaku sangat terinspirasi pada Martianus Capella, penulis prosa latin Penyembah Matahari.

Sebenarnya Galileo sebelumnya diberi kesempatan oleh otoritas agama untuk mengemukakan teorinya sekaligus membuktikannya dihadapan para pemuka agama, sayangnya ia gagal untuk membuktikannya (saat itu). Namun, bukannya meminta maaf, ia tetap bersikukuh dengan teori “gagal” nya dan dengan arogan mencela Pemimpin agama waktu itu sebagai orang bodoh. Dalam teorinya sendiri ia menegaskan, bahwa matahari bukan hanya pusat dari tata surya, namun juga pusat dari seluruh jagat raya. Sebuah pernyataan sensitif yang dianggap selaras dengan cara pandang Martianus Capella yang menyembah matahari, sehingga didakwa sebagai tindakan “syirik”.

Pernyataan terakhir itulah yang dianggap otoritas agama sebagai blashpemyterhadap kitab suci, pernyataan yang kemudian menyeret Galileo Galilei ke meja pengadilan pada 1633.

Well, jika dikaitkan dengan fenomena akhir-akhir ini, kita setidaknya bisa mengumpamakan seorang Galileo-Galilei seperti Ahok (kurang lebih). Ahok dan Galileo-Galilei memang tidak dihukum atas kasus korupsi, tindakan asusila, atau kasus-kasus umum lainnya. Mereka dihukum karena keteledoran dalam memanfaatkan kebebasan dalam berpikir dan berpendapat.

Sama seperti Ahok, Galileo Galilei sebenarnya bisa dibilang hanya dihukum ringan, Galileo dihukum 1633 dan setahun kemudian dibebaskan atas kebijakan para petinggi agama.

Belajar dari peristiwa diatas, seorang Galileo Galilei yang ditasbihkan sebagai pembawa kebenaran pun pada akhirnya terbukti tidak sepenuhnya benar (teorinya tentang matahari sebagai pusat seluruh alam semesta telah dipatahkan oleh Teori Relativitas Albert Einstein). Begitu juga dengan seorang Ahok yang tidak luput dari kekeliruan.

Namun apapun itu, keduanya berserta yang terlibat didalamnya telah dan akan menjadi potret sekaligus cermin dinamika umat manusia. Sebuah refleksi, tidak hanya untuk “si penista” saja namun untuk semua bahwa hukum kausalitas selalu bekerja. Sama halnya dengan Galileo Galilei, ucapan “melecehkan” Ahok pada hakikatnya adalah sebuah bentuk autokritik terhadap apa yang dia anggap politisasi agama. Kemurnian agama yang seringkali dibenturkan dengan asas kebebasan berpikir, berpendapat dan hak bernegara, kebebasan yang sulit ia dapatkan di masa – masa (pilkada) sebelumnya.

Tentu saja untuk “si pelaku” tidak serta merta harus membalas perlakuan buruk dengan perlakuan yang sama persis. Sebuah kritik sekeras apapun harus disampaikan sesuai dengan tata krama adat ketimuran yang melekat di masyarakat Indonesia selama ini, apalagi didengungkan oleh pesohor yang selalu dibuntuti media.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun