Ucu Sutarsa
Ucu Sutarsa lainnya

Your body is your home

Selanjutnya

Tutup

Ibu dan Anak

Gluten-Free/Casein-Free Diet untuk Autism

2 Juli 2013   13:39 Diperbarui: 24 Juni 2015   11:07 834 0 1

Autism spectrum disorders (ASD) adalah gangguan perkembangan yang mempengaruhi anak-anak dengan cara mengganggu kemampuan mereka untuk berkomunikasi dari berinteraksi secara sosial.

Untuk mengurangi gejala-gejala autism dari seorang anak, para orang tua seringkali mencoba pengobatan-pengobatan alternatif misalnya diet-diet khusus.

Belakangan ini, gluten-free/casein-free diet menjadi semakin populer. Sebagian orang tua melaporkan peningkatan di dalam gejala-gejala autism dengan aturan pola makan ini.

Akan tetapi, baru sedikit penelitian yang pernah dilakukan terhadap gluten-free/casein-free diet untuk autism.

Akibatnya, banyak orang tua yang penasaran apakah diet ini benar-benar bermanfaat, bahkan, memberikan suatu perbedaan di dalam gejala-gejala dari anak yang menderita autism.

Sebagian juga percaya bahwa anak-anak autism itu membatasi sendiri asupan mereka, karena mereka lebih menyukai makanan yang hambar misalnya roti putih.

Sehingga pertanyaannya menjadi “Ayam dulu atau telur dulu.” Apakah gluten yang menyebabkan autism, atau, lebih mungkin, adalah autism yang membatasi variasi asupan makanan dari sang anak?

Apa itu gluten-free/casein-free diet untuk autism?

Gluten-free/casein-free diet itu dikenal juga sebagai GFCF diet. Diet ini adalah salah satu dari beberapa pengobatan alternatif bagi anak autism.

Saat mengikuti diet eliminasi yang ketat ini, semua makanan yang mengandung gluten (ditemukan di dalam gandum, barley dan rye) dan casein (ditemukan di dalam susu dan produk dairy) itu dihilangkan dari asupan makanan harian sang anak.

Sebagian orang tua dari anak autism percaya bahwa anak mereka alergi atau sensitif terhadap komponen yang ditemukan di dalam makanan ini. Sebagian melakukan pengujian alergi untuk konfirmasi.

Namun, sekalipun tidak ada alergi yang dikonfirmasi, banyak orang tua dari anak autism yang tetap memilih untuk menawarkan GFCF diet. Diantara berbagai manfaat yang mereka laporkan adalah perubahan di dalam perilaku dan berbicara.

Bagaimana cara kerja gluten-free/casein-free diet untuk autism?

Manfaat dari gluten-free/casein-free diet itu di dasarkan pada teori bahwa anak autism itu mungkin alergi atau sangat sensitif terhadap makanan yang mengandung gluten atau casein.

Anak autism, menurut teori tersebut, memproses peptide dan protein di dalam makanan yang mengandung gluten dan casein dengan cara yang berbeda dibanding orang lain. Secara hipotesa, perbedaan di dalam memproses ini mungkin memperparah gejala-gejala autistic.

Sebagian percaya bahwa otak memperlakukan protein ini seperti bahan kimia mirip opium palsu. Reaksi terhadap zat-zat kimia ini, menurut mereka, mengarahkan seorang anak untuk bereaksi dengan suatu cara tertentu.

Ide dibelakang penggunaan diet adalah untuk mengurangi gejala-gejala dan meningkatkan perilaku sosial dan kognitif serta kemampuan berbicara.

Mungkin ada beberapa manfaat ilmiah untuk alasan dibelakang gluten-free/casein-free diet. Para peneliti telah menemukan level peptide yang tidak normal di dalam cairan tubuh dari sebagian orang yang memiliki gejala-gejala autism.

Akan tetapi, efektivitas dari GFCF diet untuk autism belum di dukung oleh penelitian medis; bahkan, sebuah review terbaru dan studi-studi sebelumnya menyimpulkan bahwa masih kurang bukti ilmiah untuk mengatakan apakah diet ini bermanfaat atau tidak.

Sayangnya, untuk mengeliminasi semua sumber gluten dan casein itu begitu sulit sehingga untuk melakukan percobaan-percobaan klinis secara acak pada anak-anak itu mungkin terbukti sangat sulit.