Mohon tunggu...
Mustyana Tya
Mustyana Tya Mohon Tunggu... Penulis, jurnalis dan linguis

Seorang pejalan yang punya kesempatan dan cerita

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Senyum Ceria Anak-anak Pulau Mandioli yang Bikin Meleleh

3 Mei 2021   21:57 Diperbarui: 3 Mei 2021   22:08 21 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Senyum Ceria Anak-anak Pulau Mandioli yang Bikin Meleleh
dokumentasi pribadi

Pelayaran ekspedisi pertama kami adalah Pulau Mandioli. Kocaq ya namanya. Tapi ada lho pulau ini, dan kalau kalian google, itu jarang banget informasi soal tempat ini. Dan sekali lagi ini berarti Syurgaa....hahaha.

Butuh sekitar 2 jam untuk bisa sampai ke tempat itu dengan kapal yang akan mengantar kita keliling kepualauan Halmahera. Kapal buatan Amrik ini lumayan besar karena ada kamar tidurnya juga plus AC. Selain itu, ada ruang makan, ruang bank, atm, dapur wah pokoknya gak kebayang ternyata kapal ini bikin betah juga.

Masuk ke Pulau Mandioli, berbondong-bondong warga sudah menanti, bak penggemar yang siap menyambut artisnya. Dalam kresek hitam mereka menyetor uang bergepok-gepok yang lumayan bikin mata saya melotot. Jadi memang mereka sebelum ada perahu bank ini, mereka harus mengarungi lautan untuk bisa ke bank. Kebayang susahnya, ditambah ombak yang tak tentu datangnya, ngeri amet kan yak. 

Beruntung mereka sudah kedatangan kapal bank ini tak heran jika kapal ini amat dinanti-nanti oleh penduduk kepulauan. Apalagi duit yang mereka hasilkan dari berkebun juga amat banyak bisa belasan sampai puluhan juta, bingung kan may taroh dimana. Dulu mereka banyak menarunya cuma di kasur, atau bahkan dikubur di dalam tanah. Lainnya lagi ditaroh di dalam galon. Ckckc... ternyata kebutuhan perbankan jadi kebutuhan primer juga kan.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Di bagian teras kapal ini ada sudut kecil perpusatakaan. Biasanya anak-anak datang untuk melihat-lihat buku meski buku di sini tak banyak tapi mereka antusias. Pun juga buku-bukunya juga tidak sesuai untuk mereka. Misalnya cara bertanam atau beternak hahaha... tapi mereka suka aja dengan sesuatu yang baru. Itu tentu saja pemandangan baru juga bagi saya hahaha. Setelah mengamati mereka, fokus saya bergeser ke para nelayan.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
 Setelah wawancara sedikit dengan sarjana tapi memilih usaha ikan, saya tiba-tiba diajak untuk melihat bagan. Apaan tuh? bagan itu kayak kapa terapung yang kanan kirinya ada jaring penangkap. Jadi sebenernya si penjaga bagan tinggal tunggu aja ikan-ikan nyamperin saat malam hari. Mereka cuma nembak lampu yang terang banget ke laut. Nanti kalau ikannya udah abis, mereka pindah ke tempat lain. Di dalam bagan ini juga pemilik ini tidur makan sampai nonton tv dengan keadaan yang serba terbatas. Wow banget.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Abis dari bagan ini, saya diajak berperahu dengan kapal kayu lagi untuk ke rumah si ibu pemilik bagan yang ternyata sukses membuat bagan dari modal hasil pinjam bank. Untuk pertama kalinya saya melihat permukiman penduduk Mandioli ini yang ternyata sebagian besar rumahnya sudah bertembok dan beratap seng. Kebanyakan dinding rumah mereka juga tidak dipelur apalagi dicat. Saat sampai di rumah si ibu yang juga ngewarung ini anak-anak yang asik bermain tiba-tiba berkumpul. Entah kenapa, mungkin karena teman saya bawa kamera dan drone. Bahkan saat drone diterbangkan mereka heboh teriak-teriak berlarian, wkwkw lucu anget.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Saya menikmati semua keramahan dan keceriaan anak-anak ini. Dalam sekejap kami pun akrab, bahkan kami bisa berfoto senatural mungkin dengan mereka. Plus saat kami pulang kembali ke kapal induk, mereka pun dengan hangat mengantar kami sembari melambai dan berterak-teriak "dadadada" hahaha seru banget. Ini nih yang bikin saya selalu kangen ekspedisi, polosnya keriaan anak-anak pedalaman selalu membuat saya merasa hangat dan perasaan itu ga pernah saya temui di kota-kota besar. 

Saya pun gak mau melewatkan kesempatan merekam semua senyum mereka. Nih lihat videonya. Cerita lainnya di sini.


VIDEO PILIHAN