Theresia Suganda
Theresia Suganda

Pekerja di industri digital marketing (yukcoba.in, think.web.id). Penulis di blog (twiras.net) dan di jurnal harian. Mengamati dunia dari pojok kedai kopi.

Selanjutnya

Tutup

Jalan Jalan

Kapan Kita ke Mana?

16 September 2013   14:55 Diperbarui: 24 Juni 2015   07:49 473 1 0

Semua berawal dari perjalanan mengantar seorang sahabat ke Bandara Soekarno Hatta pada Jumat lalu. Sahabat saya memutuskan untuk "kabur cantik" selama sebulan ke Jogjakarta -- kota yang menurutnya lebih nyaman untuk dihuni daripada ibu kota. Suasana bandara memberi kesan tersendiri untuk saya (dan mungkin untuk banyak orang lainnya) yang belum tentu sebulan sekali bertamasya keluar kota, apalagi keluar negeri menggunakan pesawat udara. Malam itu, saya menemani sahabat saya sampai larut; sampai suasana Terminal 3 sepi pengunjung, hanya calon penumpang yang menanti flight mereka. Lamunan pada malam itu membawa saya kembali ke hari-hari hampir setahun yang lalu, saat saya memilih Ho Chi Minh City, Vietnam sebagai destinasi birthday escape. Berbekal tiket PP promo, booking 1 bed untuk malam pertama di female dorm Phan Anh Backpacker Hostel di Pham Ngu Lau street, itinerary asal-asalan hasil nyontek buku travel guide, rekomendasi dari seorang teman, info di Trip Advisor, dan kontak dari Couch Surfing; saya memantapkan langkah berangkat ke kota yang juga dikenal dengan nama Saigon. Berjalan-jalan di kota yang penduduknya tidak berbahasa sama, atau setidaknya berbahasa Inggris, jadi tantangan tersendiri. Di menit pertama berinteraksi dengan warga lokal, saya sudah menghadapi kendala komunikasi. Selama 3 hari 3 malam di sana, saya hanya bertemu dengan sedikit orang yang berbahasa Inggris dengan fasih. Hari pertama saya habiskan mengunjungi tempat-tempat wisata "wajib" bersama kenalan dari CouchSurfing dan teman-temannya. Beruntung, mereka adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang fasih berbahasa Inggris. Hari itu cukup mudah buat saya lalui.

Hari berikutnya saya mengunjungi area Cholon -- Chinatown di HCMC -- seorang diri. Nah, di sinilah kekuatan bahasa tubuh diuji. Berbekal notes dan pena, saya menuliskan nama tempat yang ingin saya kunjungi atau nama makanan yang ingin saya cicipi, dan berkomunikasi dengan warga lokal. Secara umum, trik ini berhasil. Di hari itu saya juga menyempatkan berinteraksi dengan sesama traveler yang menginap di hostel yang sama, dan mendapat beberapa cerita menarik dari mereka.
Hari terakhir di HCMC saya tutup dengan makan siang di pasar Ben Than. Siapa sangka kalau saya justru bertemu kenalan baru di sana -- seorang warga lokal dan expatriat dari Amerika yang sudah belasan tahun menetap di HCMC; keduanya bekerja di perusahaan yang sama di dekat pasar itu. Saat itu saya bercerita tentang niat saya mengunjungi Vietnam bagian utara suatu hari nanti, dan mereka setuju. Hanoi sangat berbeda dari Saigon, kata mereka. Yang paling menyenangkan dari trip ini adalah kesempatan untuk mengeksploasi tempat-tempat baru (bukan hanya tempat-tempat yang direkomendasikan untuk turis), budaya dan kebiasaan yang saya dapatkan dari berinteraksi dengan orang-orang lokal, dan tentu saja tersesat -- yang adalah bagian dari rencana. Ah.. saya semakin bersemangat untuk mengunjungi tempat-tempat baru!