Tutut Setyorinie
Tutut Setyorinie Mahasiswa

A muslimah. Author. Novel Reader. Painter. Stargazer. And a public accountant in the future. Aamiin! | 🥀 @tututsety | ✉️ tututsetyorinie@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Museum MACAN dan Pelajaran tentang Waktu

12 September 2018   07:00 Diperbarui: 12 September 2018   07:32 369 25 12
Museum MACAN dan Pelajaran tentang Waktu
Ilustrasi: www.platform-ad.com

Life is the heart of a rainbow

Hidup adalah jantung dari sebuah pelangi. Begitulah tajuk dari pameran karya seniman asal Jepang, Yayoi Kusama. Semenjak melihat ulasan dari seorang teman di instagram tentang Museum MACAN, saya jadi penasaran tentang seperti apa rupa dan penampakan museum tersebut. 

Pikiran saya tentang benda-benda kuno khas museum, langsung sirna seketika. Tidak ada lukisan tua dengan cahaya redup, atau benda-benda kuno yang mulai diselimuti debu. Museum Macan adalah museum paling instagrammable yang saya tahu. Bahkan saya sendiri bertanya-tanya, cocokkah tempat itu disebut museum?

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ketika saya sangat ingin mengunjungi Museum MACAN, salah satu komunitas mengadakan event untuk berkunjung ke sana secara gratis. Dan tanpa disangka, nama saya terdapat dalam daftar nama-nama yang terpilih. Saya tidak dapat menahan senyum lebar saat itu. Namun apa daya ketika deadline tugas kuliah bertepatan dengan jadwal kunjungan. Walau sudah saya jadwalkan sebaik mungkin, saya akhirnya telat sampai ke sana.

Dikarenakan pengunjung yang meledak di hari terakhir pameran, pihak museum akhirnya membatasi jadwal kunjungan. Saya yang telat dari jadwal kunjungan, akhirnya tidak dapat masuk, bersama dua teman saya yang ikut telat. Namun ternyata bukan hanya kami, pengunjung yang baru datang pun banyak yang tidak bisa masuk, karena tiketnya sudah habis terjual. 

Karena sudah terlanjur datang, saya akhirnya memutuskan untuk berkeliling di luar ruang museum. Toh sudah basah, lebih baik berenang sekalian, dari pada mengeringkan baju sekarang. Senyum saya akhirnya melebar ketika menemukan bola-bola kuning dengan motif polkadot yang menggantung di langit-langit. Dots obsession.

Ilustrasi: dokpri
Ilustrasi: dokpri
Bola-bola itu tergantung di pintu masuk ruang museum. Motif bola kuning dengan titik-titik hitam, membuat saya berpikir tentang nama museum ini. Ya, Museum MACAN. Untuk orang awam yang baru pertama kali mendengar nama Museum MACAN, mungkin mengira museum ini menyimpan arkeologi atau tulang belulang macan. Namun ternyata tidak. Maka saat itu saya berpikir, mungkin dinamakan "Macan" karena dots obsession ini. Bukankah motif dots obsession mirip dengan macan tutul?

Namun setelah ditelisik lebih jauh, ternyata MACAN merupakan singkatan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Maka, penulisan yang benar adalah "Museum MACAN" bukan "Museum Macan", karena MACAN itu sendiri merupakan sebuah singkatan. 

Setelah puas melihat bola kuning bermotif polkadot, saya beralih ke tembok yang tampak ditempeli oleh banyak tulisan. Tulisan tersebut ternyata rangkuman sejarah sang seniman, yakni Yayoi Kusama. Wanita yang akrab dengan wig bewarna merah menyala itu ternyata mengalami kisah hidup yang cukup rumit.

Salah satu kisah hidup Yayoi Kusama di Museum MACAN. Ilustrasi: dokpri.
Salah satu kisah hidup Yayoi Kusama di Museum MACAN. Ilustrasi: dokpri.
Yayoi Kusama lahir di kota Matsumoto, Jepang pada 22 Maret 1929. Masa kecilnya tidak terlalu baik. Kusama mengalami gangguan mental karena ia sering mengalami kekerasan di rumah. Kekalahan perang dunia II membuat psikis Kusama rapuh. Terlebih ketika ia memutuskan menjadi seniman profesional, yang jelas ditentang orang tuanya karena menganggap itu sebagai profesi yang sia-sia. Meski begitu, Kusama akhirnya belajar di Kyoto Municipal School of Arts and Crafts, Jepang, sebelum akhirnya pindah ke Amerika dan menyelenggarakan beberapa pameran di sana. 

Pada 1962, Yayoi Kusama bertemu dan memulai hubungan dengan seniman Amerika, Joseph Cornell. Namun setelah Joseph Cornell meninggal, Yayoi Kusama kembali ke Jepang dan kesehatannya juga memburuk. Sejak tahun 1977, Kusama memilih tinggal di rumah sakit jiwa karena halusinasi dan gangguan kecemasan yang ia derita sejak kecil. 

Walau beberapa kali mengalami penolakan dalam karya-karyanya, Kusama akhirnya sukses dan melakukan pameran di berbagai belahan dunia. Salah satu motifnya yang paling terkenal adalah polkadot. Karena hal itu, Yayoi Kusama pun akhirnya dijuluki dengan Ratu Polkadot.

Setelah puas membaca sejarah sang Ratu Polkadot, saya tersadar bahwa museum ini dipenuhi dengan motif polkadot. Eskalator yang saya naiki ditempeli hiasan polkadot merah. Begitu juga dengan lift yang bernuansa polkadot. Belum lagi tembok dan bola kuning polkadot yang menggantung di langit-langit. Saya seperti berada di dunia polkadot. Yayoi Kusama sukses membawa seseorang masuk ke dalam dunianya!

Eskalator Polkadot di Museum MACAN. Ilustrasi: dokpri.
Eskalator Polkadot di Museum MACAN. Ilustrasi: dokpri.
Selanjutnya saya beralih ke sisi ruangan yang menjual beraneka ragam merchandise khas Yayoi Kusama. Mulai dari buku tulis, buku gambar, postcard, notes, hingga totebag. Merchandise ini dijual mulai dari harga 50.000 sampai ratusan ribu rupiah. Jadi, jangan kaget ketika melihat buku gambar dibandrol dengan harga 230.000 rupiah, hikss...
berbagai macam merchandise khas Yayoi Kusama. iIlustrasi: dokpri.
berbagai macam merchandise khas Yayoi Kusama. iIlustrasi: dokpri.
Selain tempat merchandise, Museum MACAN juga menyediakan beberapa aktivitas dan program di luar kunjungan museum. Ada workshop untuk membuat Seed Mosaic, Self-portrait Drawing, dan yang paling menarik adalah membuat Ikebana.

Ikebana adalah seni merangkai bunga khas Jepang. Ya, ternyata di Jepang bunga tidak disusun secara asal, melainkan ada seninya. Ikebana sering memadukan unsur bunga, rumput, daun dan tanaman yang berbeda warna dan aroma. Pencampuran unsur ini konon untuk memancarkan 3 kekuatan, yaitu kekuatan bumi, langit, dan manusia.

Ikebana di Museum MACAN. ilustrasi: dokpri.
Ikebana di Museum MACAN. ilustrasi: dokpri.
Setelah puas berkeliling, saya memutuskan untuk pulang. Matahari sudah beranjak tenggelam. Stasiun Tanah Abang juga mulai dipadati calon penumpang. Akhirnya perjalanan ini tidak sia-sia. Walau tidak melihat koleksi inti dari museum, setidaknya saya sudah merasakan "dunia polkadot" dari luar.

Sebelum melangkah ke kereta, dalam hati saya bertekad, besok-besok tidak akan telat lagi! Haha.. 

Tutut Setyorinie, 11 September 2018.