S Aji
S Aji Freelancer

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Film "Polar", Atmosfir Neo-Noir di Hidup Pembunuh Bayaran

12 Mei 2019   12:30 Diperbarui: 12 Mei 2019   19:32 409 21 13
Film "Polar", Atmosfir Neo-Noir di Hidup Pembunuh Bayaran
Film Polar (Januari, 2019) | Sumber: Teaser Trailer

Vivian: Why the fuck are you doing this?
[referring to Camille]
Duncan Vizla: 
I don't know. I like her.
Vivian: 
You like her?
Duncan Vizla: 
Why are you doing this?
Vivian: 
Please. This is our fucking job, remember?
 

(Salah satu percakapan dalam film Polar, dikutip dari laman moviequotesandmore.com)

***
Duncan Vizla alias Kaisar Hitam sudah menghendaki hadirnya masa pensiun.

Padahal, sejatinya, dia adalah satu yang memiliki rekam jejak terhebat sebagai pembunuh bayaran. Dan karena itu juga, Democles sebagai perusahaan yang menggunakan keahliannya harus membayar pesangon sebesar 8 juta dolar Amerika.

Blut, sang bos Democles, ternyata ingin memainkan kartu yang lain.

Lelaki gemuk, putih dengan kegairahan yang ganjil terhadap krim kulit ini ingin uang pesangon itu menjadi milik perusahaan. Ia ingin kekayaannya tidak terbagi karena kontrak kerja yang terlanjur disetujui. Caranya hanya satu, dengan kematian Kaisar Hitam. Karena itu, ia menugaskan satu tim pembunuh untuk memburu Kaisar Hitam. Tim yang dihuni jiwa-jiwa bengis, kalau bukan masokis.

Di lapis psikis yang lain, Kaisar Hitam sepertinya telah lelah menanggung mimpi buruk yang berulang dan mendesak-desakan perasaan bersalah.

Mimpi buruk itu berisi ingatan akan pembantaian terhadap keluarga dalam sebuah mobil yang dia lakukan. Mimpi buruk yang bekerja sebagai ingatan trautamis dan insomnia. Ingatan traumatis yang menjadi dorongan dari aksi amalnya. Yakni dengan mengirimkan uang secara teratur kepada rekening tertentu. 

Rekening yang belakangan baru diketahui ditujukan untuk anak perempuan yang selamat dari pembantaian tersebut. Anak perempuan yang ternyata juga bertahun-tahun lama mencari tahu siapa Kaisar Hitam yang telah menanamkan tragedi ke dalam hidupnya.

Jadi, benturan motif hidup Korporasi Vs. Agen dan ingatan traumatis Vs. dendam yang seperti ini adalah poros ketegangannya.

Situasi konfliktual seperti di atas tidak lantas membuat Polar yang diadaptasi dari novel daring karangan Victor Santos (2012) terjatuh pada penceritaan sederhana perihal orang jahat yang berubah baik atau bagaimana cinta memulihkan orang dari dendam dan trauma. 

Polar membangun jalan cerita yang menuntun audiens pada tiga suasana atau "subplot" sebelum meledak.


Tiga Dunia Menuju Ledakan atau Moralitas yang Acak-acakan

Yang pertama, kumpulan pembunuh masokis yang mengejar keberadaan Kaisar Hitam. 

Kumpulan yang membantai sadis daftar yang menggunakan nama Duncan Vizla. Sadisme yang ditampilkan lewat adegan peluru yang dihamburkan dengan brutal dan darah yang memercik kemana-mana sembari ditingkahi oleh tawa atau percakapan-percakapan remeh para pembunuh. Sadisme yang juga menghidupi denyut darah Blut, si bos Democles.

Kedua, dunia si Kaisar Hitam sendiri. 

Sebuah dunia sehari-hari yang mulai menepi dari kota besar dan tugas-tugas yang memicu aksi sadistik. Dunia itu berporos pada sebuah pondok di dekat danau yang sedang diselimuti salju. Sementara di dalamnya, ada seorang lelaki yang menuju paruh baya sedang memulihkan kelembutannya. 

Misalnya dengan mencoba memelihara anjing yang kemudian tertembak mati karena reaksi tak sadar terhadap mimpi buruk. Atau berusaha memelihara ikan mas Koki di akuarium dengan menggunakan buku panduan. 

Mads Mikkelsen berhasil memainkan karakter ini dengan begitu hidup. Matanya yang sendu dan wajahnya yang tirus seperti jendela yang menyembunyikan riwayat getir seorang pembunuh bayaran kelas dunia bersama rasa bersalah yang tak berkesudahan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2