S Aji
S Aji Tukang Keliling

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Si Doel The Movie", Sandera Masa Lalu dan Atun sebagai Koentji!

7 Agustus 2018   08:12 Diperbarui: 8 Agustus 2018   10:03 2333 25 23
"Si Doel The Movie", Sandera Masa Lalu dan Atun sebagai Koentji!
Si Doel The Movie | Medcom.id

Apapun itu, nostalgia wajib dirayakan!

"Nonton Si Doel, yuk?"

Tumben. Biasanya hanya menjadi obyek dari keputusan, kali ini teman saya malah yang mengajukan opsi. Kenapa si Doel the Movie? Bukannya Kafir juga masih tayang?

"Saya dulu sering nunggu dia tayang di RCTI." 

Oke, baiklah brader. Sebab kesadaran selalu berwatak intensional, maka manusia tidak boleh dilarang bernostalgia. Terlebih lagi jika ia pernah jatuh hati pada sosok Zaenab atau mungkin Sarah. Saya akan berlaku dzalim jika menolaknya. Lagi pula, hanya saya semata yang bisa diajaknya. 

"Mending nunggu Wiro Sableng." Kata kawan yang satunya. 

Sebenarnya dalam hubungannya dengan masa lalu yang terus hidup di ingatan, yang satu ini hampir tak ada beda. Wong dia cuma mau mengenang saat-saat berebut membaca novel silat Om Bastian Tito itu. Sisanya, dia lebih suka film kelahi dari pada drama.

Maka berbonceng motor Honda Supra yang mulai klasik, kami meluncur pelan ke gedung Cinema XX yang memiliki fasilitas layar 2D. Saat memesan tiket, di monitor, banyak kursi yang masih kosong. Sepi. 

Jumlah 713.000 penonton di hari keempat itu mungkin penonton di kota yang lain. Sama halnya ketika Infinity War heboh sak dunia, di sini juga sepi. 

Lampu mulai padam. Iklan mulai berakhir. Si Doel The Movie dimulai.

Yang pertama terlihat adalah hidup yang telah tua. Emak yang terbaring sakit, Mandra yang lebih kurus dengan gokil yang terawat, serta Atun yang juga menuju tua tanpa salonnya. Sedang Doel kini membawa perut yang makin bengkak dengan alis yang selalu menyatu. Pemilik wajah yang miskin senyuman. Doel masih hidup dengan kerumitan pikiran-perasaan yang terlatih dipendam. 

Zaenab, apa kabar?

Zaenab masih seperti yang dulu. Rambutnya yang sedikit memerah pun masih dibiar tergerai. Dia tetaplah perempuan ayu dengan tutur bicara lembut bersama sikap hidup yang nrimo

Hidupnya kini diabdikan sebagai penjaga keserasian domestik dari hidup Doel yang masih saja tak makmur walau sudah bergelar Tukang Insinyur. Sesudah Sarah pergi dari rumah dengan membawa perut yang hamil. 14 tahun lamanya tanpa kabar. 

Hingga datang ajak Hans untuk berkunjung ke Belanda. Doel dari awal sudah curiga Hans memiliki maksud tersembunyi. Ada yang menjadi "master mind" dari undangan ini. 

Emak pun telah mengingatkan tak usah lagi mencari Sarah. Cara Sarah pergi dari rumah sulit dimaafkannya. Dan kita juga tidak perlu terlalu sibuk berspekulasi atau berharap ada kerumitan dramatik sebelum keduanya bertemu.  

Bagaimana dengan Sarah sesudah 14 tahun?

Selain lebih bohay-kata Mandra-Sarah tetaplah perempuan yang berakar dalam hiruk-pikuk tradisi urban. Hidupnya bukan saja di kota utama Eropa, namun juga masihlah jiwa yang berani menempuh resiko, guncangan dan berorientasi ke masa depan. Hidup baginya adalah progres yang dirancang, bukan penerimaan akan peran yang sudah digariskan. Stagnasi adalah kutukan! 

Maksud saya, kita hanya bisa memahami Sarah dengan meletakkan karakter Zaenab di depannya. Demikian sebaliknya. Dari keduanya, kita dipertentangkan antara perempuan modern dan tradisional. Sedang Doel tersandera di dalamnya. Lelaki yang tidak memiliki alternatif, ahaai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2