S Aji
S Aji Pelancong Sosial

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Akhir Duka Seorang Legenda

14 November 2017   08:49 Diperbarui: 14 November 2017   18:41 1860 25 14
Akhir Duka Seorang Legenda
Buffon dan Ventura sesudah Italy gagal lolos ke Piala Dunia Russia 2018 | www.thesun.co.uk/


"Blame is shared equally between everyone. There can't be scapegoats. Win together, lose together."

Sejauh mata memandang di layar tipi, Ventura membuat Buffon, dkk, bermain dengan cara yang monoton: menyerang setengah hati dari sayap melulu. Bertahan dengan cara yang tangggung: memasang Candreva dan Darmian yang aktif di sisi kiri dan kanan. Lebih membingungkan lagi, peran playmaker yang seharusnya dijalankan Marco Veratti justru lebih terlihat diemban Bonucci--dan membenarkan kata-kata Bonucci: saya adalah gelandang yang dipinjamkan sebagai bek!--yang membuat lini tengah paska Pirlo terlihat medioker. Lini tengah miskin kreasi.

Ventura yang sebelumnya memiliki kontrak sampai tahun 2020 memilih kembali pada warisan Conte ketimbang referensi formasinya, 4-2-4. Memang dalam tiga pertemuan terakhir dengan tim dari kampung halaman Zlatan Ibrahimovich ini, Italia bukanlah lawan superior. Italia dua kali menang dengan skor 1:0 dan sekali imbang. Dengan riwayat pertemuan seperti ini mestinya Italia menyerang saja, lebih agresif dengan 3-5-2 yang sudah pernah teruji bisa membalas kekalahan atas Spanyol.

Sedangkan pada partai hidup-mati subuh tadi, Italia memang tampil dengan spirit yang benar, seperti harapan Ventura seperti dilansir theguardian.com. Statistik yang dilansir espn.com memperlihatkan jika Buffon, dkk aktif menyerang dengan penguasaan bola mencapai 74%, 27 kali melepaskan tembakan ke gawang. Malang tak dapat ditolak, Italia tidak bisa mengonversi walau hanya satu bidji gol.

Masuknya Belotti, El-Shaarawy ,hingga Bernardeschi membuat gelombang serangan makin kencang tapi telur tak juga berbuah bidji! Anehnya, Insigne yang memilki potensi sebagai kreator malah tidak dimainkan. Bersama Immobile dan Gabbiadini, mereka semua adalah deretan penyerang mati akal di depan tembok pertahanan anak asuh Jan Anderssen yang memang super disiplin.

Suksesor Antonio Conte ini membuat sejarah keterlibatan Italia tercoreng. Sejak 1958 alias selama lebih kurang 60 tahun, Italia selalu hadir di ajang perebutan tropi yang awalnya bernama Jules Rimet (1930-1970). Berhasil juara di tahun 1934, 1938, 1982 serta 2006. Tahun depan, fans berat Gli Azzurri mungkin akan lebih memilih mematikan televisi. Saya sih ogah, kan masih ada Argentina, yang terseok-seok di penyisihan grup juga.

Sejarah rasanya lebih memberi halaman bagi cerita Messi yang negaranya baru dua kali juara. Dengan 175 kali menjaga gawang tim nas, 58 clean sheet, dengan satu tropi juara dunia edisi 2006 di saat heboh skandal Serie A, Buffon sudah waktunya istirah. Memberi panggung bagi kiper-kiper baru yang terlalu lama menjadi bayang-bayang. Bukan sebatas di Italia namun seluruh dunia.

Maka sudahilah meratapi. Berhentilah menyalahkan Ventura terlalu lama. Jangan ikut memaki-maki.

Duka sempurna Buffon
Gigi Buffon memilih mengatakan jika penyebab gagal lolosnya Italia adalah kesalahan bersama. Tidak ada kambing hitam. Bersama menang, bersama pula menanggung kekalahan. Italia dipastikan tak akan bermain di Piala Dunia Russia tahun depan. Piala Dunia terakhir bagi kiper yang telah menghabiskan dua dasawarsa karirnya dengan keterlibatan di ajang bal-balan antar dunia itu. 

Buffon jelas tahu jika Gian Piero Ventura akan menjadi subyek paling dihakimi. Termasuk oleh saya, pastilah! Sejak pertemuan pertama di markas Swedia, saya sudah cemas dengan pilihan cara bermain yang diinstruksikan pelatih kelahiran Genoa, 69 tahun silam. Memiliki penguasaan bola dengan prosentase 63%, Italia tidak mampu bikin gol. 

Duka Buffon yang dalam dua tahun belakangan ini mencerminkan daya saing Italia yang merosot. Titik merosot pertama adalah pada kegagalan Juventus di final Liga Champions, Juni 2017 silam. Bermain di Cardiff, si Nyonya Tua remuk dikaki Real Madrid yang dilatih salah satu legenda Juventus, Zidane. Di kasta kompetisi Eropa yang lebih rendah, wakil-wakil Negeri Pizza ini pun tak berprestasi banyak.

Tropi Kuping Besar adalah satu-satunya tropi bergengsi yang belum diangkat Buffon selama pengabdian panjangnya di Juventus.

Dalam artikel amatiran berjudul [Ngawur] Memaknai Kekalahan Juventus, saya telah mencurigai sebab sistemik kegagalan itu karena iklim kompetisi Serie A yang datar. Juventus terlalu dominan dalam 6 musim beruntun sejak diasuh Conte lalu Allegri dan dua kali keok di laga pamungkas Liga Champions dalam dua kesempatan yang berdekatan. Juventus lantas disindir sebagai tim tanpa "DNA Liga Champions" oleh Milanisti.

Perkara tambahan dari keok-nya Juventus di Eropa adalah sejarah Juventus sebagai penyuplai pemain ke tim nasional. Peran penyuplai yang membuat klub yang baru merayakan 120 tahun usia ini dijuluki sebagai La Fidazanta d'Italia alias kekasihnya Italia selain AC Milan. Jelas gegabah mengaitkan langsung lemahnya daya saing Eropa dari Juventus dengan kegagalan tim nas, namun jika barisan pertahanan masih mengandalkan kepiawaian trio B+BBC dan terlihat gugup bin gagap di lini tengah paska-Pirlo, apa artinya?

Skuad Ventura yang memble tadi subuh sudah tidak didominasi pasukan dari dua penguasa Serie A ini. Eksperimennya dengan 4-2-4 bukan saja gagal melahirkan Italia yang offensif. Sebaliknya malah berakhir dengan tragis, menyusul Belanda. Walau begitu, salah satu warisan penting Ventura adalah pilihannya mendorong nama-nama segar yang sedang bersinar di liga domestik. 

Mereka masih butuh waktu dan pelatih yang tepat. Orang itu jelas bukan Ventura.

"I'm sorry that my final game coincided with us not qualifying for the World Cup. I am not sorry for myself but all of Italian football. We failed at something which also means something on a social level. There's regret at finishing like that, not because time passes."

Ini kata-kata perpisahan dengan berlinang air mata Super Buffon yang akan menuju pensiun. Menjadi Legenda memang tak melulu berakhir bahagia, Mblo!

***