S Aji
S Aji Pelancong Sosial

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Percakapan dari Pinggiran, Sebuah Cerita

12 Oktober 2017   09:42 Diperbarui: 12 Oktober 2017   15:03 1576 23 19
Percakapan dari Pinggiran, Sebuah Cerita
Ilustrasi: Santapan Rohani

Kemarin hari, saya berada dalam perjalanan yang pada mulanya "hanya ingin cepat sampai".

Perjalanan itu menempuh sekitar 136,8 Km atau menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam 35 menit. Perjalanan darat yang melewati wilayah perbukitan, beberapa bagian jalan bergelombang, rumah-rumah kayu, tanah merah, danau rawa, pepohonan sawit dan hutan dengan tutupan yang bertahan di antara pemukiman warga desa dan keramaian kecil. 

Perjalanan dari Kasongan ke Sampit, Kalimantan Tengah.

Mobil pertama yang mengangkut saya hanya diisi sang supir dan seorang muda, mungkin jelang 40-an, bergaya ala turis, topi berlidah pendek, kacamata hitan disangkutkan di atasnya, celana pendek, kaus kaki dan sepatu. Supirnya, mungkin menjelang 60an, menggunakan gamis, kopiah putih dengan janggut yang kalah tebal dan hitam dari janggut saya yang sedang berkibar-kibar mudanya. 

Musik berbahasa Batak menyambut saya yang duduk di bagian tengah. Selanjutnya adalah percakapan-percakapan yang berurusan dengan perkenalan, Anda dari mana, mau kemana, bekerja dimana? Kemudian saya tertidur.

Tidak terlalu jelas berapa lama waktu habis untuk tidur, si supir berhenti di pinggir jalan. Debu berterbangan sebentar. Saya menengok ke luar, dari arah jendela sebelah kanan. Di seberang sana, ada serombongan orang sedang duduk. Salah satunya, laki-laki dan muda usia, matanya agak merah. Saya kira baru saja menangis. 

"Ada penumpang."

Lalu si supir yang tampak alim ini keluar, membuka bagasi belakang, memasukkan beberapa barang yang membuat penuh. Sepasang suami istri masuk dan duduk di sebelah kanan saya. Saya meluruskan duduk. 

Saya hanya ingin cepat sampai. Wahai tubuh, tertidurlah lagi, please. Mobil kecil ini melaju kembali. 

"Anda mau kemana?"

Seorang muda bergaya turis itu bertanya.  

"Kami mau ke Sampit. Mau pulang ke Kupang,' jawab suaminya.

Saya meluruskan duduk. Keinginan tidur demi melenyapkan bosan perjalanan hilang. Sebuah kesaksian sedang meminta disimak, sebuah sejarah sedang meminta ruang bicara. Kepo adalah modal awal seorang pencerita!

"Sudah berapa tahun gak pulang?"

"Sebelas tahun, Pak,"terang suaminya yang menggunakan kuplukberwarna abu-abu dengan baju lengan panjang putih dengan beberapa bagiannya bersepuh kemerahan. Baru menyelesaikan perjalanan lumayan jauh yang berdebu. Wajahnya tirus, tubuhnya kurus. Terlihat jangkung. Istrinya, berambut keriting dengan alis tebal hanya menatap, mungkin berusaha menebak arah percakapan pembuka. 

"Sudah 11 tahun tapi kami tak punya tabungan,"sambung istrinya sambil terkekeh,"tapi anak tiga orang bisa sekolah."

Telinga saya berdiri tegak. Sembari menatap keluar jendela kiri, pada pepohonan yang tampak berlari-lari, kemudian berganti rumah lalu kelapa sawit. Saya berusaha membayangkan tanah Kupang, kehidupan di sana, mengingat-ingat laporan resmi pemerintah soal daerah-daerah miskin tertinggal di Indonesia, kabur semua. Duh.

Lalu imajinasi saya terbang pada arsip-arsip ingatan. Tentang disertasi yang membahas era perdagangan bebas di bandar Makassar abad-XIX yang merupakan salah satu sentra perdagangan budak. Budak yang ditaklukan dari sekitaran Bima, Nusa Tenggara Barat. Disertasi dari Edward Poelinggomang, sejarawan dari Universitas Hasanudin. 

Saya terus ingat pula pada Sultan Nuku dengan "cross-cultural alliance-nya", bikin kejang-kejang Belanda, berkoalisi dengan Inggiris. Kebesarannya ditopang pula oleh perburuan budak dari wilayah taklukan.

Saya lalu ingat riwayat generasi pendahulu dari Sangihe, Sulawesi Utara. Pada cerita yang mengisahkan mereka dikirim ke kantung-kantung perkebunan kelapa di pantai utara yang terletak antara Manado dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, oleh kompeni. Pikiran sibuk sendiri di tengah percakapan mereka. Gara-gara pertanyaan, seperti apa sejarah mereka hingga boleh hadir sebagai buruh perkebunan di sini?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4