Mohon tunggu...
Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Mohon Tunggu... Manusia Biasa

tuho.sakti@yahoo.co.uk

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Trump Buat Soleimani Tewas tanpa Restu Kongres AS, Motif Diduga Terkait Pilpres 2020?

4 Januari 2020   21:04 Diperbarui: 5 Januari 2020   00:33 479 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Trump Buat Soleimani Tewas tanpa Restu Kongres AS, Motif Diduga Terkait Pilpres 2020?
Presiden AS Donald Trump dan Komandan Pasukan Quds Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani | Gambar: tribunnews.com

Terbunuhnya Komandan Pasukan Quds (Garda Revolusi Iran), Mayor Jenderal Qasem Soleimani pada Jumat, 3 Januari 2020 di Bandara Baghdad, Irak dikonfirmasi oleh Markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon, merupakan hasil dari instruksi Presiden Donald Trump. Soleimani dibunuh karena dianggap bertanggungjawab atas penyerangan diplomat dan kematian warga AS serta koalisi.

"Ini adalah tindakan defensif yang menentukan, untuk melindungi warga AS di luar negeri. Jenderal Soleimani secara aktif mengembangkan rencana penyerangan terhadap diplomat AS di Irak dan wilayah sekitarnya, Jenderal Soleimani dan Pasukan Quds bertanggung jawab atas kematian warga AS dan koalisinya, serta melukai ribuan lainnya," terang Pentagon, dikutip dari AFP, Jumat (3/1).

Tidak hanya Soleimani, serangan militer AS menggunakan drone pengebom tersebut turut menghabisi nyawa 7 (tujuh) orang lain, di mana sebagian besar petinggi militer Irak, serta melukai 3 (tiga) orang lainnya.

Nama-nama korban tewas (selain Soleimani) yang terungkap antara lain Wakil komandan milisi Syiah Irak (PMF), Abu Mahdi al-Muhandis, petinggi milisi Kataib Hizbullah, dan seorang petugas protokoler bandara Irak, Mohammed Reda.

Alasan lain mengapa Soleimani "patut" terbunuh, yakni karena pria berusia 62 tahun itu dianggap AS sebagai sosok kunci dalam agenda politik Iran dan Timur Tengah. Selanjutnya diketahui telah menyusun rencana serangan kepada para diplomat dan personel militer AS di Irak, Suriah, hingga Libanon.

Sebuah mobil yang diklaim ditumpangi Soleimani | Gambar: kumparan.com/reuters
Sebuah mobil yang diklaim ditumpangi Soleimani | Gambar: kumparan.com/reuters
Intinya Pentagon mengakui bahwa serangan terbaru mereka merupakan langkah antisipatif AS dalam mencegah serangan Iran masa depan, di bawah kendali Soleimani. Persis apa yang disampaikan Trump lewat pidato, seperti terdapat dalam akun Twitter pribadinya.

"Kami mengambil tindakan untuk menghentikan perang. Kami tidak mengambil tindakan [meluncurkan serangan udara] untuk memulai sebuah perang. Soleimani menjadikan kematian orang-orang tak berdosa sebagai hasrat miliknya. Kami menangkapnya dan menghentikannya," kata Trump di Florida, Sabtu (4/1).

Trump menegaskan serangan udara yang dilakukan tidak dalam rangka mencampuri urusan politik dalam negeri Iran (mengganti pemerintah atau memunculkan rezim baru). Sebelumnya, tak lama usai serangan, kedutaan besar AS di Irak mengultimatum seluruh warga AS yang berada di sana untuk meninggalkan negeri itu secepatnya.

"Warga AS harus meninggalkan Irak menggunakan pesawat selagi memungkinkan. Jika tidak bisa meninggalkan Irak menggunakan pesawat, gunakan jalur darat," jelas pihak Kedubes AS di Irak (3/1).

Menganehkan, Trump atau AS ingin mengakhiri perang dengan cara perang. Serangan udara mematikan merupakan salah satu wujud perang. Lalu, berniat menjamin keselamatan diplomat dan warganya tetapi justru membuat mereka takut dan terancam sehingga diminta minggat dari Irak.

Apa pun alasan Trump, serangan terhadap Soleimani dan beberapa korban lainnya akan semakin memperburuk hubungan antara AS dan Irak-Iran ke depan. Urusan sederhana misalnya dengan Irak, lokasi korban tewas dan luka terjadi di sana, dan hal itu semacam pemantik emosi tingkat tinggi dari AS.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN