Mohon tunggu...
Toni Yoyo
Toni Yoyo Mohon Tunggu... Konsultan Keluarga, Konsultan Manajemen & Bisnis, Pembicara Publik, Trainer, Pengajar, Narasumber Radio & TV, Penulis, Grafologis, dan Hipnoterapis

Toni Yoyo sudah menjalani kehidupan berpasangan dan berkeluarga lebih kurang 22 tahun bersama seorang istri dan tiga orang anak. Memiliki lebih dari 23 tahun pengalaman kerja di berbagai perusahaan besar. Menyelesaikan pendidikan S1 Teknologi Pangan, S2 Manajemen Keuangan, S2 Teknik Industri, dan S3 Manajemen Strategik dari berbagai universitas ternama di Indonesia, semuanya dengan predikat Cum Laude dan hampir selalu menjadi lulusan terbaik. Gelar sertifikasi profesi yang disandangnya adalah ELT (Essential Licensed Trainer), CPM® (Certified Professional Motivator), CPS® (Certified Public Speaker), CG (Certified Graphologist/Handwriting Analyst), dan C.Ht (Certified Hypnotherapist).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Bangunlah Jembatan, Bukan Tembok Pemisah

27 Juni 2019   10:07 Diperbarui: 29 Juni 2019   14:29 0 4 2 Mohon Tunggu...
Bangunlah Jembatan, Bukan Tembok Pemisah
Ilustrasi: experiencelife.com/Gracia Lam

"Miscommunication is the number one cause of all problems; communication is your bridge to other people. Without it, there's nothing. So when it's damaged, you have to solve all these problems it creates."

"Salah komunikasi adalah penyebab utama dari banyak masalah; komunikasi adalah jembatan ke orang lain. Tanpanya, tidak ada apa-apa. Jadi ketika komunikasi rusak, Anda harus menyelesaikan semua masalah yang diakibatkannya. "

~ Earl Sweatshirt ~

Konflik yang terjadi dalam hidup dua orang yang berpasangan dan berkeluarga adalah wajar dan biasa. Perbedaan yang dapat ditemukan antarpasangan adalah dalam mencegah, menghadapi, dan menyelesaikan konflik, serta memulihkan segala sesuatu setelah konflik terjadi. Meskipun konflik lebih cenderung bersifat merusak, jika dikelola dengan baik maka konflik dapat membawa manfaat positif.

Sepanjang konflik terjadi dan setelahnya, seringkali muncul tembok pemisah antar dua orang yang berpasangan. Tembok pemisah ini meskipun imajiner alias hanya ada di pikiran dan perasaan saja, namun keberadaannya terasa sangat jelas.

Jika tidak ditangani dengan baik, tembok pemisah ini semakin lama akan semakin tebal dan tinggi dengan bertambahnya konflik yang tak terselesaikan tuntas. Alhasil, komunikasi dan interaksi menjadi berkurang atau terbatas sehingga memperburuk hubungan berpasangan dan berkeluarga.

Adanya tembok pemisah menyebabkan meski dua orang berpasangan secara jarak fisik dekat dan sering bertemu namun secara hubungan terasa hambar dan kurang menggairahkan.

Apapun level konflik yang terjadi, akan cenderung membangkitkan naluri perlindungan dalam diri masing-masing orang yang berpasangan. Kita umumnya tidak suka merasa disalahkan, apalagi ditolak, diserang, atau disepelekan. 

Meskipun misalnya kita memang bersalah tetapi tata cara penanganan oleh pasangan kita akan menghasilkan dampak yang berbeda terhadap diri kita. Jika penanganan kurang pas, kita mungkin merasa kecewa dan tidak puas terhadap pasangan kita. 

Secara faktual, kita mungkin menjauhkan diri dari pasangan kita sebagai akibat dari sisa-sisa ketersinggungan dan kecurigaan yang terus bertahan dan mengendap dalam diri kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x