Mohon tunggu...
TOMY PERUCHO
TOMY PERUCHO Mohon Tunggu... Penulis - Praktisi Perbankan, berkeluarga dan memiliki 2 orang anak.
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Agama : Islam. Pengalaman kerja : 1994-2020 di Perbankan. Aktif menulis di dalam perusahaan dan aktif mengajar (trainer di internal perusahaan) dan di kampus.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mampukah Kita?

4 Juli 2020   22:00 Diperbarui: 4 Juli 2020   22:30 34
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Suatu ketika di sebuah panti werda (panti jompo) "Maaf Bu, keliatannya Ibu sedang memikirkan sesuatu? Iya Nak, tadi katanya anak saya mau datang, tetapi entah kenapa tiba2 saya mendapat informasi bahwa dia tidak jadi karena katanya mendadak ada meeting penting. 

Adik sedang menjenguk siapa? Oh...tidak Bu, saya kebetulan singgah untuk bertemu teman yang kebetulan salah satu pengurus di sini. Tidak terasa terjadi percakapan dengan si Ibu tadi. Usianya memang sudah tua (berusia sekitar 70 tahunan), tetapi fisiknya masih terlihat sehat. 

Si Ibu pun bercerita panjang mengenai perjalanan hidupnya. Sejak ditinggal suami meninggal beberapa tahun lalu, ia memilih untuk tinggal di panti jompo tersebut karena ia tidak ingin merepotkan anak2nya.

Waah... hebat dan salut dengan perjuangan Ibu. Ibu sukses membesarkan dan membawa putra-putri Ibu menjadi orang-orang yang berhasil. Lantas dimana mereka sekarang, Bu?

Si Ibu terdiam sejenak, sambil melanjutkan cerita tentang anak2nya. Anak2 saya beberapa tinggal di Jakarta, juga ada yang tinggal di luar kota, ada juga yang tinggal di luar negeri bersama keluarga mereka masing2. Mereka memang banyak dan sukses. 

Tetapi... sayang, hidup saya terasa sepi...mereka jarang sekali melihat dan menjenguk saya. Jangankan datang, sekedar menelepon saya juga jarang. Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaan dan karir serta keluarganya masing2 ya...demikian tutur si Ibu, ibu dari 10 orang anak. 

Di mata mereka kebutuhan Ibu seolah hanya sekedar dikirimi uang setiap bulannya. Padahal Ibu tidak mengharapkan itu semua, nak. Yang Ibu harapkan dari mereka hanyalah sedikit perhatian walaupun sebentar... ketika Ibu sendiri seringkali hati ini menangis...ingin mengatakan kepada anak2 Ibu... Tengoklah Ibumu ini walau sebentar Nak..."tapi ah, sudahlah...mudah2an mereka masih ingat saya Nak...", lanjut si Ibu.

Artikel ini ingin mengajak kita semua, yang saat ini berada di posisi dan jabatannya masing-masing, siapapun kita setinggi apapun kedudukan kita untuk merenung sejenak... betapa bangganya orang tua kita atas apa yang telah kita raih saat ini. 

Namun jangan pernah lupa bahwa apa yang kita capai tersebut karena tetesan keringat, darah dan air mata serta perjuangan mereka khususnya pengorbanan dan perjuangan Ibu, yang menjadikan kita bisa duduk dan berada di tempat serta lingkungan yang baik seperti sekarang. Benar adanya ungkapan bahwa Satu IBU bisa merawat Sepuluh Anak, tetapi Sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang IBU!

Mari kita hentikan langkah sejenak, renungkanlah kembali belaian dan kasih sayangnya yang tulus dari Ibu, datang dan temanilah ia, sebagaimana Ibu yang tidak pernah mengenal lelah dan tidak pernah berhenti menyayangi kita sejak kecil hingga saat ini...siapapun dan apapun kita. 

Selagi masih ada kesempatan bersamanya, dengarkanlah nasehat2 terbaiknya, mintakanlah doa2nya agar hidup kita selamat dan bahagia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun