Mohon tunggu...
Tommy TRD
Tommy TRD Mohon Tunggu... Just a Writer...

Jumpa juga di @tommytrd

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pilgub Sumbar 2020, Empat Nama yang Mengerucut

9 Januari 2020   00:41 Diperbarui: 9 Januari 2020   00:54 529 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pilgub Sumbar 2020, Empat Nama yang Mengerucut
Gambar : harianhaluan.com

Hanya hitungan bulan, Sumatera Barat akan memilih Gubernur yang akan menerima tongkat kepemimpinan dari Irwan Prayitno. Tadinya ada lebih kurang 10 nama yang beredar. Namun belakangan, tersisa 4 nama yang diperkirakan akan bertarung ketat. Konklusi ini dihasilkan oleh lembaga survey yang terkenal kompeten. Mulyadi, Mahyeldi, Nasrul Abit dan Fakhrizal. Diperkirakan salah satu dari empat nama ini akan berkantor di rumah bagonjong jalan Sudirman Padang.

Dimulai dari Mulyadi sebagai pemuncak di banyak lembaga survey. Mulyadi berhasil membranding dirinya sebagai legislator yang berguna bagi Sumbar. Legislator yang berhasil membawa uang APBN untuk pembangunan Sumbar. Lebih kurang seperti itu. Balihonya yang mendominasi kabupaten kota di Sumbar seperti menegaskan itu.

Berkaca dari Gubernur Sumbar sekarang, Irwan Prayitno akrab disebut IP, Mulyadi punya trah, karena IP pun merupakan anggota DPR RI yang kemudian turun gunung untuk maju pada Pilgub Sumbar, dan menang. Tantangan Mulyadi ke depan, seberapa jauh Mulyadi mampu menyelami birokrasi ? Sebuah dunia yang kelak akan dia pimpin jika menang.

Mahyeldi, terlepas dari janjinya pada Pemilihan Walikota Padang yang lalu, ia kader PKS yang paling populer saat ini. Riza Pahlevi yang tadinya disiapkan untuk mewakili PKS harus berkerja 5 kali lipat lagi untuk mengimbangi kompatriotnya itu. Dengan waktu yang tersisa, itu terasa tidak masuk akal.

Dari masa jabatan, Riza memang paling pas. Tapi Mahyeldi di atas angin. Dan sepertinya ia tidak akan melepas peluang ini. Soal janji, selain dikenal sebagai buya, sekarang ia seorang politisi, jadi tidak ada yang luar biasa jika akhirnya ia maju pada Pilgub Sumbar 2020 ini. Ia mungkin pernah berjanji untuk tidak mencalonkan diri sebagai Gubernur, tapi ia bisa berdalih kalau ia dicalonkan. Simple. Lagipula belum tentu 5 tahun lagi ia masih akan sepopuler ini.

Nasrul Abit atau NA. Sebagai petahana "serangan" NA bisa dibilang di bawah rata-rata. Sepertinya Wakil Gubernur Sumbar ini masih lebih fokus kepada pekerjaannya saat ini dibandingkan pencalonannya beberapa bulan lagi. Agak berbeda dengan beberapa bakal calon lainnya.

Beberapa kabar menyebutkan bahwa Gerindra belum tentu mengusung NA. Saya pribadi menganggap hal itu sulit terjadi. Sebanyak buku yang saya baca, Prabowo bukan orang seperti itu. Di tangan NA Gerindra menjadi juara 1 pada Pemilu lalu di Sumbar. Mungkin ada yang suka dan tidak dengan pernyataan itu, tapi begitulah kenyataannya. Apakah Prabowo akan meninggalkan orang yang memberikannya kemenangan ? I don't think so.

Terakhir Fakhrizal. Ini salah satu yang paling unik. Jenderal Polisi yang memilih jalur politik. Mantan Kapolda Sumbar ini berpeluang mengikuti jejak seniornya Murad Ismail di Maluku. Atau dulu I Made Mangku Pastika di Bali. Satu lagi yang membuat dia unik, jenderal ini maju melalui jalur independen dan sudah menetapkan pasangannya, Walikota Pariaman Genius Umar.

Fakhrizal berhasil dengan brand Jenderal Ninik Mamaknya. Alias Jenderal yang membina anak kemenakan. Hal semacam ini adalah sesuatu yang seksi di ranah minang. Di satu sisi ia seorang Jenderal yang dikenal harus tegas, tapi di sisi lain ia menggunakan ketegasannya sebagai Ninik Mamak yang mengayomi. Jika Fakhrizal konsisten dengan platform Jenderal Ninik Mamaknya, hal itu bisa menjadi kunci popularitas dan elektabilitasnya.

Memang saat ini ia belum mampu mengungguli 3 kandidat lainnya dalam survey. Tapi survey juga membuktikan bahwa popularitasnya terus meningkat hari ke hari. Tergantung kreatifitas timsesnya untuk membawa sosok Fakhrizal lebih "muncul" di setiap platform kehidupan masyarakat sumbar.

Berbeda dengan para calon lainnya, Fakhrizal sudah memiliki pasangan Wagubnya. Soal pemilihan Wakilnya ini pun Fakhrizal cukup cerdik. Manajemen Polri dan PNS sedikit berbeda. Dan ia menunjuk Genius Umar yang memang seorang Pamong. Lulusan STPDN yang memang dididik dalam ilmu pemerintahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN