Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Kebiasaan Berburuk Sangka Dapat Jadi Penyebab Hancurnya Keluarga

21 Mei 2016   16:44 Diperbarui: 21 Mei 2016   16:51 682
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kebiasaan Berburuk Sangka Dapat Jadi Penyebab Hancurnya Keluarga

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Apapun suku bangsanya, apapun agama yang diimaninya dan setinggi apapun tingkat spiritual ,serta keimanannya, tetap saja manusia itu bisa salah dan keliru.  Sengaja atau tidak sengaja, bisa saja terjadi dalam perjalanan hidup ,menyenggol  dan melukai perasaan orang, baik karena sikap,maupun tutur kata atau tulisan yang disebarkan. Mungkin saja niat awal adalah sangat mulia,namun dalam perjalanannya  telah berubah ujud dan menjelma menjadi sebuah kenistaan.dalam pandangan orang lain. Karena apa yang kita anggap baik,belum tentu baik juga bagi orang lain.Bahkan dapat dicurigai ,menyimpan maksud maksud tertentu..Mengapa bisa terjadi demikian? Karena tidak sedikit orang yang hidupnya dipenuhi dengan prasangka buruk terhadap semua orang,

Kejadian kejadian ini ,telah menyebabkan orang harus berpikir berkali kali sebelum menolong orang. Baik menolong korban tabrak lari, maupun orang yang jatuh,karena tergelincir. 

Pengalaman Pribadi

Saya pernah menolong seorang anak yang terluka parah,disambar truk ,yang kemudian melarikan diri. Saking marah dan paniknya sang ayah dari anak ini,yang menengok dengan mata kepala sendiri putranya yang sedang menyeberang di sambar truk dan kemudian sopir bukannya berhenti untuk menolong,malah tancap gas dan lari. Pria yang dalam keadaan panik dan marah ini,bukannya menolong anaknya yang mengelepar gelepar penuh darah,malahan berlari sekencang kencangnya mengejar truk tersebut. Sudah jelas,mana mungkin manusia dapat berlari lebih kencang dari pada  truk. Namun yang namanya orang yang sudah dikuasai kepanikan dan kemarahan,sudah kehilangan akal sehat

Saya menghentikan kendaraan,walaupun sesungguhnya pada waktu itu ada kepentingan yang mendesak.Tapi menolong nyawa orang,tentu beribu kali lebih penting daripada urusan keuangan. Saya minta kakaknya yang memangku adiknya dan bengong mau berbuat apa, menaikkan adiknya kekendaraan saya dan ia sendiri ikut menjaga ,Karena saya harus menyetir kendaraan.

Tiba di Rumah Sakit

Dengan mengendarai  mobil agak kencang dan tetap hati hati , akhirnya tiba di Rumah Sakit terdekat.  Saya membantu kakaknya yang kewalahan mengendong adiknya seorang diri,walaupun akibatnya pakaian saya basah dengan darah. Saya lapor ke piket dan minta segera kereta dorong untuk membawa anak tersebut keruang gawat darurat . Saya serahkan KTP saya sebagai penanggung biaya.walaupun anak tersebut tidak ada hubungan apapun dengan saya.

Kereta dorong datang dan anak langsung dibawa ke bagian unit gawat darurat. Saya mengikuti kedalam. Namun begitu anak tersebut berada dalam perawatan  dokter,tiba tiba ada dua orang Pria yang langsung ,tanpa bertanya,menuduh:”Pasti anda yang menabrak ya. Jangan kemana mana” kata yang seorang dengan gaya “aparat” . Dalam hitungan detik belasan orang sudah mengurung saya.Saya berusaha menjelaskan,bahwa saya hanya menolong,karena menengok anak tersebut terluka parah dan tidak ada kendaraan yang mau berhenti menolong, Namun yang mengelilingi saya semakin garang .Bahkan ada yang mengatakan :”Tidak mungkin anda mau menolong orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan anda, “

Syukur kakak anak korban tabrak lari ini, tampil kedepan dan menjelaskan:’ “ Ini adik kandung saya,.Bapak ini yang menolong, mengerti!” .Maka berangsur ,tanpa suara semuanya bubar. Bayangkan bila tidak ada kakak anak tersebut,saya bisa dibantai disana..Karena mereka menilai orang dengan mengukur pada diri mereka sendiri, Yang tidak mungkin mau menolong orang lain,kalau tidak ada hubungan apa apa.

Berprasangka Buruk Bisa Terbawa Dalam Keluarga

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun