Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mari Kita Saksikan

15 Januari 2022   05:09 Diperbarui: 15 Januari 2022   09:41 263 41 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
keterangan : foto ini adalah

Kapan  Mereka  Akan Tersentuh Rencana "Bedah Rumah?"

Beberapa tahun  yang lalu,sebelum Covid menjajah semesta ,setiap tahun kami pasti pulang ke Kampuang Halaman yakni kota Padang tercinta. Dan setiap kali ada kesempatan,maka kami melakukan nostalgia seperti masa kami masih tinggal di Padang.Yakni membeli ikan langsung dari para nelayan,karena ikan hasil tangkapan mereka masih segar ,fresh from the sea. Bagi yang sudah pernah menyempatkan diri untuk berkunjung kerumah para nelayan ini,maka dijamin tidak akan tega lagi ,tawar menawar dengan Nelayan,saat membeli ikan.

Mereka tinggal di gubuk yang sesungguhnya sama sekali tidak layak huni. Tapi setiap kali kami pulang kampung,rumah yang sama tetap setia menanti kunjungan kami. Bila hujan lebat dan angin kencang,maka di dalam gubuk mereka ,dibeberapa lokasi ditempatkan ember untuk menampung air yang menetes dari atap yang bocor. 

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Bila hujan lebat dan angin kencang selama berhari hari,maka keluarga nelayan harus mampu hidup dari apa yang ada pada mereka.Karena dalam kondisi semacam itu,disamping sangat berbahaya bila tetap melaut,juga hasilnya sama sekali tidak dapat diharapkan. 

Para nelayan sekampung selalu kompak,karena mereka secara bersama sama,melakukan upaya penangkapan ikan secara kolektif. Membawa pukek (pukat) yakni semacam jala dengan perahu ke laut yang dalam dan kemudian,kembali ketepi pantai dengan membawa tali yang berhubungan denan pukat. Mereka menantikan dengan sabar sambil duduk dibebatuan yang ada dan mengisi perut dengan secangkir kopi dan pisang rebus 

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Minim Perhatian Pemerintah

Beberapa tahun lalu,sewaktu kami menyempatkan pulang kampung, dapat kabar bahwa demi untuk membantu meringankan beban hidup para nelayan di Padang,pemerintah setempat merencanakan untuk menjadikan :"Elo Pukek" sebagai salah satu destinasi wisata. Tetapi seiring dengan waktu,ternyata hanya tinggal sebatas wacana .Nelayan masih tetap berbisik lirik:"Kami masih seperti yang dulu"

Sebagai seorang Penulis,saya tidak berani mengatakan bahwa diri saya adalah:"Pengamat Sosial " ,karena hanya pulang kampung setahun sekali. Tetapi sebagai satu dari 265 juta orang Indonesia, selalu terbayang betapa nelangsanya nasib nelayan di kampung  halaman kami. Bahkan sebuah warung makan yang dibangun di tepi pantai,selama bertahun tahun ,tanahnya tergerus ombak dan tidak pernah tampak ada perhatian dari pemerintah setempat. 

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
mudah mudahan pemda setempat sudah turun tangan membantu ,hingga satu satunya warung di desa nelayan ini tidak ikut punah ditelan ombak 

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dimana dan bagaimana para nelayan kecil ini menjalani hidup mereka bersama keluarga,sungguh menyebabkan air mata kita menetes. Tapi apalah arti tetesan air mata,dibandingkan dengan bantingan ombak kehidupan  yang mengerus tenaga mereka,hingga suatu saat tak berdaya lagi ?

Apakah cara menangkap ikan yang unik ini akan dibiarkan punah dan menyisakan sepotong kenangan ,tentang kelamnya kehidupan para nelayan Elo Pukek?   Kapan Pemerintah setempat melirik :"istana " para nelayan ini dalam bentuk "Bedah Rumah?" Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang .....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan