Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Contoh Teladan yang Sudah Langka

2 Maret 2021   09:50 Diperbarui: 2 Maret 2021   09:53 153 30 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Contoh Teladan yang Sudah Langka
ilustrasi : Ikhwanul Halim

Mengaku Salah dan Berusaha Menebus :'Dosa"

Hampir setiap hari kita membaca berbagai berita, setiap kali terjadi  kesalahan,maka sosok yang seharusnya bertanggung jawab ,dengan seribu dalil mengelak dan melemparkan kesalahan kepada orang lain atau pada keadaan. Hal ini agaknya sudah menjadi konsumsi rutin bagi masyarakat,yakni sudah jelas salah,tapi tetap tidak mau mengakui. Lama kelamaan,tanpa sadar kita akan digiring,bahwa sudah memang begitulah hidup ini,yakni jangan mau mengakui kesalahan. 

Karena itu apa yang telah dilakukan oleh seorang Kompasianer bernama Ikhwanul Halim ini,sesungguhnya merupakan suatu hal yang patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Karena telah memberikan contoh nyata,bagaimana seharusnya menyikapi sebuah kesalahan yang telah terjadi.Bukan dengan "tanggung menjawab " melainkan dengan sikap bertanggung jawab. Kalau sekedar :"tanggung menjawab" semua orang bisa melakukannya.Yakni kalau sudah salah,cari alasan  dan berkilah sana sini,bahwa kesalahan bukan terletak pada dirinya,titik.

Tapi yang dilakukan oleh sosok yang bernama Ikhwanul ini sungguh berbeda dari apa yang selama ini mendominasi berita ditanah air kita. Untuk jelasnya silakan disimak inti tulisannya ,yang berjudul:"Yang (Masih) Tersisa dari Penyuntingan dan Penerbitan Buku 150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi (1)"

Setelah buku 150 Kompasianers Menulis selesai dicetak,bahkan sudah dikirimkan kealamat masing masing, ada pesan masuk via WA,dari keluarga Abdul Aziz alm.,,menanyakan bagaimana caranya agar dapat memiliki buku  150 Kompasianer Menulis ini,karena didalamnya ada tulisan alm yang berjudul

"Teruntuk Ayah Tjiptadinata: Tulisan Kasih dan Sayang"

Sadar bahwa ternyata justru tulisan ini ketinggalan dan tidak dimuat dalam buku,menyebabkan pak Ikhwanul Halim merasa sangat bersalah .Hal ini dapat dibaca lewat postingan :"

Saya sangat jarang posting 'status' atau 'story' di media sosial atau aplikasi pesan. Entah mengapa, Selasa, 23 Februari lalu, foto tumpukan buku 150 KMTE yang siap untuk dikirim saya jadikan status WhatsApp.Selepas magrib, saya mendapat pesan.

[2/23, 18:27] Abdul Azis: Selamat sore bapak? Apakah tulisan almarhum mas azis ada di buku tersebut?

[2/23, 18:31] Abdul Azis: Kalau ada berapa harganya pak?

[2/23, 18:31] Abdul Azis: Saya mau membelinya untuk kenang2an

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN