Mohon tunggu...
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widarmanto Mohon Tunggu... Guru - Penulis dan praktisi pendidikan

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Pendidikan terakhir S2 di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis dalam genre puisi, cerpen, artikel/esai/opini. Beberapa bukunya telah terbit. Buku puisinya "Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak" menjadi salah satu buku terbaik tk. nasional versi Hari Puisi Indonesia tahun 2016. Tinggal di Ngawi dan bisa dihubungi melalui email: cahyont@yahoo.co.id, WA 085643653271. No.Rek BCA Cabang Ngawi 7790121109, a.n.Tjahjono Widarmanto

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sastra Indonesia Penjaga dan Perawat Kebhinekaan

26 Januari 2021   22:41 Diperbarui: 26 Januari 2021   22:56 258
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Ada beberapa hal penting yang dapat dijadikan pijakan dan menjadi dasar bahwa sastra Indonesia mampu sebagai penjaga kebinekaan. Pijakan utamanya adalah bahwa keberangkatan sastra Indonesia adalah bermula dari tradisi. Pengertian tradisi tentu saja tidak boleh dimaknai dalam kerangka antropologis semata yang menyempitkan makna tradisi hanya sebagai bagian masa lalu. Pandangan yang linear semacam itu memunculkan anggapan yang terlampau subjektif sehingga memunculkan bahwa tradisi adalah bagian masa lampau sehingga eksistensinya tidak lagi lagi relevan.

Tradisi harus dimaknai sebagai sebuah konteks memori dan sejarah yang melandasi proses penciptaan teks sastra. Tradisi harus dipandang, seperti kata Gadamer, sebagai konteks yang dibentuk dari sejarah dan memori penikmatan atas perjumpaan sastrawan dengan perjumpaannya dengan 'sejarah' yang dijumpainya. Itu berarti setiap teks sastra tidak mungkin lahir dari kekosongan sejarah dan penikmatannya atas berbagai konteks sejarah.

Teks sastra mustahil diciptakan tanpa adanya memori-memori atas teks-teks sebelumnya. Rifaterre dengan jelas mengatakan bahwa karya seorang penyair (sastrawan) adalah jawaban terhadap karya sebelumnya. Sebuah teks sastra lama tidak mati begitu saja tapi selalu memberi inspirasi bagi teks-teks sastra selanjutnya. Teks sastra yang baru lahir merupakan respon terhadap teks-teks sastra sebelumnya. Tradisi memang dibentuk oleh masa lalu tetapi selalu berpotensi untuk membentuk tradisi-tradis berikutnya di masa kini dan masa mendatang. 

Tradisi, seperti kata Eliot, bukan sesuatu yang mati dan tetap hadir dalam kehidupan masa kini. Tradisi selalu memiliki potensi memberikan rangsangan penciptaan baru, memiliki daya pikat, serta memberikan pengaruh, baik secara sadar maupun bawah sadar, yang vital bagi perkembangan intelektual dan sastra. 

Tradisi memberi pengaruh atau rangsangan kreativitas terhadap gagasan-gagasan, kesadaran, dan pemikiran-pemiran yang memberi warna teks-teks sastra. Abdul Hadi WM menyebutnya sebagai pembentuk kesadaran tidak hanya pada masa silam, tetapi juga berkenaan dengan masa kini dan masa depan.. Melalui dialektika yang terus menerus dengan tradisinya seorang sastrawan dapat menjadikan masa lalu menjadi bagian dari kekinian kita.

Salah satu bentuk dan bagian dari  tradisi adalah kultur etnik. Kultur etniklah yang dibahasakan oleh Sumito A Sayuti, sebagai sangkan-paran atau terminal keberangkatan dan kembali dalam proses kreatif seorang sastrawan. Setiap bentuk kreativitas dalam teks sastra selalu merujuk pada konteks kultural tertentu yang muncul secara nyata dalam teks sastra yang diciptakan, baik yang tercermin dalam bentuk maupun kontensnya, baik dalam gagasan tematik maupun kedalaman subjek matternya.

Kondisi kultur etnik sastrawan Indonesia memang beragam. Menempatkan kultur etnik sebagai pijakan kreatif dapat menyajikan gagasan alternatif yang bisa berperan mengukuhkan kultur etnik itu sendiri, bisa mempertanyakan kultur etnik itu sendiri, bisa  memberi tafsir baru pada kultur etnik itu senidri, bahkan dapat pula menjadikan kultur etnik sebagai pijakan untuk melakukan perlawanan terhadap bentuk segala dominasi.

Sastrawan Indonesia modern tidak beradala dalam situasi dan kondisi pasif. Mereka menghadirkan, menafsirkan, menciptakan tafsir baru atas berbagai hal yang diturunkan oleh kutur etniknya. Kultur etnik tidak hanya dipinjam namun diberi unsur kreativitas baru. Kultur etnik dalam teks sastra tidak hanya muncul sebagai imitasi tetapi imitasi kreatif, menciptakan ambivalensi imitatif sekaligus subversif. Sebagai contoh, misalnya kehadiran kultur etnik wayang pada sastrawan Indonesia modern dalam teks sastranya memunculkan wayang yang berbeda dalam kultur etnik sebelumnya. Demikian juga Kaba dalam khazanah kutur etnik Melalyu, boleh jadi berbeda dengan Kaba dalam racikan kreatif sastrawan saat ini.

Penciptaan teks sastra sesungguhnya merupakan tindakan konstitutif dalam pemebentukan tradisi tematis. Tindakan konstitutif seorang sastrawan akan mencerminkan tindakan menafsir, menggabungkan, memisahkan turunan kultur etniknya, bahkan bisa mendialogkan dengan kultur etnik yang lain. 

Hal ini menjadikan seorang sastrawan berada dalam situasi dialektika yang terus menerus dengan kultur etniknya. Melalui dialektika itu akan memungkinkan terbentuknya penciptaan kultur etnik kedua, ketiga dan berikutnya, tanpa menghilangkan kultur etnik pertama sebagai hipotek atau memori ingatan.

Dalam realitasnya, sastra Indonesia hidup dalam situasi kebinekaan. Kebinekaan mengaju pada hiteroginatas dan pluralitas. Kebinekaan yang mengacu pada heterogenitas merupakan keanekaan budaya yang sudah begitu saja ada secara alamiah, keanekaan budaya yang sudah terberi, sesuatu yang given. Sedangkan kebinekaan dalam konteks pluralitas mengacu pada istilah antropologi politik yang menegaskan bahwa keanekaan budaya merupakan kenyataan yang harus dijaga, diperjuangkan dan dirawat dengan selalu melihat perbedaan budaya sebagai sesuatu yang sah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun