Mohon tunggu...
Titik Nur Farikhah
Titik Nur Farikhah Mohon Tunggu... Writer

Menulis adalah bekerja untuk keabadian

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Lockdown Zaman Rasul

28 Maret 2020   07:10 Diperbarui: 28 Maret 2020   07:35 57 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lockdown Zaman Rasul
Foto: PxHere


PenyebaranPenyebaran COVID-19 mengingatkan kita pada sejarah zaman Rasulullah SAW. Dimana pada masa itu beliau memerintahkan pemberlakuan lockdown terhadap wilayah yang diserang wabah penyakit. Kunci keselamatan itu ada tiga. Pertama, jagalah lisanmu. Sebuah perintah untuk menahan diri dari berbagai kejahatan dan keburukan lisan. Termasuk menjaga diri dari berbicara ataupun menuliskan statemen yang mendatangkan mudhorat,mengshare berita atau informasi yang belum jelas kebenarannya, dan kalaupun berita itu benar apakah ada manfaatnya bagi kita dan orang lain?

Ketika mendapati dua hal bernilai sama antara berbicara dan diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Karena perkataan yang mubah bisa menggiring pada hal-hal yang haram minimal makruh. Seperti yang didapati saat ini, begitu banyak orang yang bersikap ceroboh semau gue. Bahkan merasa puas jika berhasil memposting berita hoax, menyesatkan, dan menyengsarakan banyak pihak. Ada juga yang akhirnya berbuah penyesalan karena dinilai melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sehingga disibukkan dengan klarifikasi permakluman dan rentetan permohonan maaf ke publik. Tentu hal ini tidak akan terjadi, jika sebelumnya menimbang baik buruk atas setiap ucapan dan komentar.

Dalam kondisi seperti ini, berdiam diri adalah solusi yang terbaik seperti dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Rasulullah bersabda “ Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari Muslim).

Kedua, diamlah di rumah (stay at home). Artinya, berusaha untuk lebih banyak berdiam diri di rumah menggunakan waktu untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adalah salah satu usaha untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona. Seperti imbauan yang sampaikan Presiden Jokowi, 15 Maret 2020 di Istana Bogor untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Memaksimalkan teknologi untuk tetap berkomunikasi dan beraktivitas di dalam rumah.

Berdiam diri di rumah yang akrab disebut social distancing di saat wabah pandemi corona mempunyai nilai ibadah dan mendapatkan pahala mati syahid meskipun dia tidak meninggal sebagai wujud ikhtiar manusia atas musibah yang sedang melanda.

Termaktub dalam sebuah hadist riwayat Imam Buchari, Rasulullah bersabda: “Diceritakan dari Aisyiyah RA: Saya bertanya kepada nabi Muhammad SAW tentang wabah tha’un.

Beliau menjawab: Sesungguhnya tha’un itu peringatan Allah bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan rahmat bagi orang-orang beriman. Tiada orang yang pada saat musim wabah tha’un melanda dan dia berdiam diri di rumah dengan sabar dan beribadah keoada Allah, meyakini bahwa dia tidak akan terkena suatu bencana kecuali atas takdir Allah atas dirinya, maka dia akan dicatat mendapatkan pahala orang syahid.”

Ketiga, menangisi dosa-dosamu. Saat berdiam diri di rumah adalah saat yang paling tepat untuk memaksimalkan diri beribadah kepada Allah termasuk introspeksi diri, menangis, menyesali diri atas dosa-dosa yang pernah dilakukan di masa lalu. Bertaubat dan memperbanyak istighfar sebagai bukti kesungguhan atas penyesalan di masa lalu dan berupaya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bagi kaum muslim, tentunya mampu mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari wabah pandemi COVID-19 ini. Tidak perlu khawatir dan takut kecuali hanya takut kepada Allah SWT tentunya dengan ikhtiar menjalankan lockdown sebagai strategi Rasul cegah penyebaran virus.

VIDEO PILIHAN