Mohon tunggu...
Sony Kusumo
Sony Kusumo Mohon Tunggu... Insinyur - Menuju Indonesia Surplus

Sony Kusumo merupakan pengusaha yang peduli dengan kemajuan bangsa Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan featured

Kediaman Sie Kong Lian, Saksi Bisu Lahirnya Sumpah Pemuda

22 Februari 2020   09:00 Diperbarui: 29 Oktober 2020   05:58 1122
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mendukung pergerakan Indonesia dalam meraih kemerdekaan bisa lewat tindakan apapun. Seperti halnya yang dilakukan oleh Sie Kong Lian

Sosok Tionghoa ini, memang tak terlibat langsung. Tetapi kediamannya yang terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Senen, Jakarta Pusat adalah saksi bisu lahirnya Sumpah Pemuda.

Pada eranya kediaman Lian adalah indekos bagi mahasiswa. Tak hanya jadi rumah, para pelajar kerap kali menjadikannya sebagai tempat berdiskusi politik, bermain tenis meja dan biliar ataupun berlatih kesenian.

Tak heran bila berbagai kegiatan bisa dilakukan ditempat tersebut. Pasalnya kediaman Lian bisa dibilang sangatlah luas, kira-kira lebih dari 1.000 meter persegi.

Ada bangunan utama dan 14 paviliun di dalam gedung tersebut. Luas bangunan utama 460 meter dan tiap paviliun berukuran 45 meter persegi.

Awalnya kediaman itu dihuni anggota Jong Java. Kebanyakan dari mereka berkuliah di Sekolah Dokter Hindia di Gedung Stovia.

Jong Java sendiri merupakan organisasi pemuda yang dipelopori oleh Satiman Wirjosandjojo. Semula Jong Java bernama Tri Koro Dharmo yang berarti 'Tiga Tujuan Mulia'.

Sebelum di kediaman Lian, Jong Java bertempat tinggal di Jalan Kwitang Nomor 3. Namun karena kian sempit membuat mereka tak lagi leluasa untuk berdiskusi maupun berlatih kesenian.

Jong Java sudah menempati kediaman Lian sejak 1925. Seiring berjalannya waktu indekos itu kian ramai dihuni mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan daerah.

Di tahun 1926, penghuni mahasiswa mendirikan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Di situ pula dijadikan pusat kegiatan alias 'basecamp'-nya PPPI.

Tahun berganti, kediaman Lian kian akrab dengan berbagai gerakan pemuda. Dan pada 1928, penghuni lagi-lagi mendirikan Indonesische Clubgebouw (IC) atau nama populer lainnya adalah Indonesische Clubhuis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun