Mohon tunggu...
Tiara Fitriyani
Tiara Fitriyani Mohon Tunggu... sedikit cemas, banyak tertawanya

satu-satunya jalan untuk mendapatkan jawaban adalah dengan mencoba

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Shibori dan Rona Biru yang Menghipnotis

7 Oktober 2019   17:31 Diperbarui: 9 Oktober 2019   18:48 0 5 4 Mohon Tunggu...
Shibori dan Rona Biru yang Menghipnotis
dokumen pribadi

Dianggap sebagai salah satu teknik pewarnaan indigo paling tua di Jepang, sejatinya shibori berasal dari Cina. Pada zaman Edo, atau sekitar abad ke 16 dan 17, kain bercorak shibori menjadi primadona di kalangan kelas sosial bawah masyarakat Jepang. Bukan tanpa alasan, kala itu mereka memang membutuhkan alternatif untuk menggantikan kain sutra yang haram dikenakan olehnya.

Shibori sendiri berasal dari kata “shiboru” yang dalam bahasa Jepang memiliki makna harafiah “memeras”. Ya, dalam proses pembuatannya sendiri pun memang melibatkan adegan pemerasan di samping menyimpul dan mengikat. Lantas, apa bedanya shibori dengan tie dye yang sempat populer dan lekat dengan potret anak reggae? Jika dilihat sekilas, memang ada resemblance antara kedua teknik ini.

Perbedaan mendasarnya terletak pada penggunaan warna. Jika tie dye dikenal dengan warna-warni pelangi yang meriah dan psychedelic, umumnya shibori tampil lebih sederhana dengan satu warna saja.

Oke, cukup sampai di situ saja perkenalannya. Jujur, saya pun belum genap dua bulan menggemari rona biru kain ini, jadi masih banyak sekali yang bisa saya gali tentangnya.

Nah, sekitar satu bulan lalu saya pun berkesempatan mengikuti sebuah workshop membuat shibori pada sehelai scarf. Berawal dari iseng-iseng saja, ternyata hasil akhirnya cukup membuat hati saya senang. Sebuah cara yang baik untuk membangun kehidupan di luar pekerjaan, pikir saya waktu itu.

Saya membayar biaya workshop sebesar Rp 300 ribu untuk mendapatkan satu set peralatan shibori, yakni sehelai scarf, dua potong papan kayu mini berukuran sekitar 10 cm x 10 cm, seonggok karet gelang, dan makanan ringan beserta minumannya.

Buat saya, angka tersebut adalah harga yang pantas untuk wawasan baru yang bisa saya praktikkan berulang-ulang di masa depan.

Menurut sumber yang saya baca, ada enam teknik utama dalam praktik shibori tradisional. Dalam workshop yang saya ikuti, ada tiga teknik yang kami terapkan yakni Kumo, Itajime, dan Arashi.

Singkat cerita, jadilah kami mengikuti langkah demi langkah untuk membuat shibori. Setelah dijelaskan oleh para mentor tentang teknik pengaplikasiannya, saya dan sekitar sepuluh peserta lainnya mulai sibuk membuat simpul di atas scarf masing-masing.

Teknik pertama yang kami buat adalah kumo yang paling sederhana. Cukup dengan melipat permukaan kain membentuk kerucut kecil lantas mengikatnya erat-erat dengan karet gelang. Harusnya motif yang dihasilkan adalah berupa bentuk simetris dengan gurat lurus di porosnya.

Teknik selanjutnya yang lebih membutuhkan ketelitian adalah itajime. Saya melipat scarf seperti lipatan kipas mengikuti ukuran papan kayu cetakan. Setelahnya, saya letakkan kain tersebut di antara papan kayu dan mengikatnya dengan karet gelang agar tidak terlepas dan membentuk motif persegi sesuai cetakan.

Teknik terakhir sekaligus yang paling menantang dan membutuhkan usaha adalah teknik arashi. Teknik ini bukan sekedar mengikat, namun juga melibatkan adegan mendorong dan melilitkan tali.

Pertama, kain dilipat sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, jika ingin timbul dua motif garis simetris, maka kain harus dilipat satu kali, begitu pula seterusnya. Setelah dilipat, saatnya mengikatkan kain ke alat bantu, yakni pipa plastik. Setelahnya, kain yang sudah diikat kencang di pipa lalu didorong hingga berkumpul di satu sisi.

Prosedur ikat mengikat inilah yang menjadi inti dari shibori. Setiap ikatan tersebut menahan penyerapan warna ketika kain dicelupkan. Jadi, bagian yang terkena ikatan akan tetap berwarna putih sesuai dengan warna dasar kain.

Anyway, setelah kami semua selesai mengikat dan menyimpul kain masing-masing, kami beralih ke proses pewarnaannya. Ada 3 ember air yang disiapkan oleh pengajar hari itu.

Satu berisi warna dasar yang terdiri dari naftol dan garam, sementara dua lainnya telah dicampur dengan pewarna merah dan biru. Proses pewarnaannya sendiri cukup sederhana, pertama celupkan kain di warna dasar, lalu lanjutkan dengan mencelupkannya ke warna pilihan.

Lama perendaman di pewarna menentukan seberapa deep warna yang akan timbul. Scarf saya butuh sekitar 5-6 kali celup dengan durasi 2 menit untuk memunculkan rona biru yang saya rasa cukup tegas.

Setelahnya, hasil yang sudah setengah jadi ini dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa-sisa pewarnaan yang tidak terserap. Lalu, bagian favorit saya, semua simpul dibuka dan voila! Motif yang sedari pagi kami idam-idamkan pun menampakkan wujudnya.

Wajah-wajah puas dan senyum sumringah pun menghiasi lokasi workshop saat satu per satu peserta menjemur hasil karyanya. Meski bagi sebagian peserta workshop kali ini bukan yang pertama kali mereka ikuti, masih tampak ekspresi terkejut yang tulus di raut wajahnya.

Shibori sukses memberi kejutan manis buat saya di akhir pekan itu. Satu hal yang saya senangi dari proses ini adalah unsur kejutan di dalamnya. Saya benar-benar tidak tahu motif seperti apa yang akan muncul di akhir prosesnya nanti. 

Saya bisa memasang cetakan, melipat dengan presisi, atau mendorong sekuar-kuatnya agar si kain yang malang itu bertumpu di titik yang saya kehendaki. Tapi tetap saja, semua usaha saya tidak menjamin akan timbul motif yang sesuai dengan keinginan saya. 

Kalau dipikir-pikir, ya mirip sedikit dengan kehidupan yang kita jalani. Sekuat apapun saya berusaha, sedetail apapun rencana saya, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa menjamin hasilnya akan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tapi tentu tidak ada salahnya untuk mencoba sebaik mungkin, bukan? Maaf, agaknya saya pun terlarut sedikit dengan mengibaratkan proses pembuatan shibori dengan kehidupan saya yang tidak seberapa ini, hehehe.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2