Mohon tunggu...
T.H. Salengke
T.H. Salengke Mohon Tunggu... Tukang Ketik

Ora et Labora

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Saat Kurdi Menentukan Nasib Sendiri

26 September 2017   02:04 Diperbarui: 26 September 2017   06:43 1574 17 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Kurdi Menentukan Nasib Sendiri
Kaum Kurdi mengusung poster besar Masoud Barzani dan mengibarkan bendera Kurdi (Aljazeera.com)

Membujuk Barzani yang sudah merajuk

Rakyat di wilayah Semi Otonom Kurdistan bisa dibilang sudah putus urat takutnya. Pasalnya dalam situasi tegang karena ditentang keras oleh pemerintah di Baghdad dan negara tetangga Irak, mereka tetap melaksanakan referendum yang berlangsung kemarin, Senin (25/9/2017). Mulai pukul 08:00 s.d 18:00 waktu setempat, dengan penuh yakin warga Kurdi berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara untuk memberikan hak suara masing-masing, apakah akan tetap bersama Baghdad atau berpisah menjadi negara sendiri yang berdaulat.

Pemimpin pergerakan pembebasan Kurdi Masoud Barzani jauh sebelum ini telah menyatakan pendiriannya bahwa pihaknya akan menentukan nasib sendiri melalui referendum karena ini merupakan sebuah janji yang harus ditepati. Sejak itulah Parlemen Irak mulai meradang dan minta agar dibatalkan niat tersdebut karena melanggar konstitusi. 

Tekanan dan ancaman datang dari berbagai negara tetangga Irak yakni khususnya Iran dan Turki yang khawatir berdampak buruk pada situasi politik di negaranya karena rakyat Iran dan Turki juga banyak dari suku Kurdi. Mesir dan Arab Saudi juga tidak mau tinggal diam, berusaha menekan supaya referendum tidak terlaksana.

Menjelang berlangsungnya referendum, Amerika dan Inggris, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga angkat bicara. Alasan negara adi kuasa ini bahwa dengan berhasilnya referendum Kusdistan akan merubah peta rencana memberangus ISIS. 

Tetapi Masoud Barzani sudah kadung merajuk, sesuai tanggal dan jam yang ditentukan Barzani, referendum dilaksanakan di tiga provinsi yang selama ini diklaim bangsa Kurdi dalam wilayah semi otonomi yaitu Arbil, Dohuk, dan Sulaimaniyah. Bahkan tanpa menghiraukan ancaman dari Pemerintah Irak, referendum juga diadakan di Kirkuk, daerah yang selama ini masih sengketa yang terkenal kaya miyak itu.

Sumber: theowp.org
Sumber: theowp.org
Dampak paska referendum

Di mana-mana, jarang sekali rakyat sebuah negara tetap ingin bersatu dengan negara sebelumnya. Apalagi sebelum ini kurang mendapat perlakuan yang sewajarnya dari pemerintah pusat. Maka tak salah kalau ada yang bilang bahwa referendum merupakan kesalahan sejarah yang tidak boleh terjadi karena masyarakat di daerah tersebut pasti akan memilih untuk berpisah.

Oleh karena itulah Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi dengan keras akan melakukan intervensi militer jika dengan terlakanakanya referendum di wilayah Kurdi membuat warga Irak terancam dari segi keamanannya. Dan pasti Baghdad tidak akan semudah itu legowo terhadap tuntutan masyarakat Kurdi.

Kekhawatiran Turki dan Iran masih bisa diterima karena alasan tingginya populasi penduduk Kurdi di negaranya yang bisa-bisa saja menuntut hal yang sama atau setidaknya menjalin hubungan yang lebih intens dengan kelompok Barzani. Tetapi kekhawatiran Amerika dan Inggris terkait memerangi  kelompok ISIS tidaklah tepat karena berhasil atau tidaknya referedum Kurdi, toh ISIS selama ini tetap bisa diperangi.

Lalu apa yang yang diingini oleh Amerika di Negeri 1001 Malam itu? Tak lain dan tak bukan demi memperkuat hegemoni Amerika di Padang Pasir dan menguasai telaga-telaga minyaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN