Thomson Cyrus
Thomson Cyrus wiraswasta

My Passion : Ble$$ing To oThers dan Selalu Bersyukur Dalam Segala HAL Email : thomson.cyrus@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Ali Mochtar Ngabalin, Gelandang Bertahan Rekrutan Terbaik Jokowi Tahun Ini

1 Agustus 2018   13:51 Diperbarui: 2 Agustus 2018   01:24 4206 17 14
Ali Mochtar Ngabalin, Gelandang Bertahan Rekrutan Terbaik Jokowi Tahun Ini
(sumber gambar: Foto: Dok. Ali Mochtar Ngabalin)

Ibarat tim sepakbola, tim juara selalu mempersiapkan timnya dengan baik dan serius jika memasuki musim pertandingan baru. Tim juara selalu mengevaluasi, mana kelebihan dan mana kekurangan timnya. Segala daya upaya akan dilakukan untuk menambal lubang - lubang yang sering digunakan lawan untuk menyerang.

Dalam politik juga begitu. Petahana akan selalu mengevaluasi kelemahan tim juaranya, yang seringkali kebobolan oleh tim oposisi dan dimanfaatkan sebagai jalan untuk menyerang petahana. Kita tahu selama ini Jokowi dan Kabinet kerjanya sudah bekerja cakep, banyak capaian, banyak keberhasilan, tetapi banyak yang tidak tersampaikan dengan baik ke masyarakat.

Isu-isu keberhasilan Jokowi dan Kabinet kerjanya bisa tertutupi dengan sempurna oleh isu - isu yang dibangun oleh pihak oposisi. Padahal kebenaran isu yang diusung oleh tim oposisi itu belum teruji kebenarannya sesuai fakta dilapangan. Sebutlah misalnya isu TKA yang massif dihembuskan kubu Gerindra dan PKS, lalu kemudian terbantahkan dari hasil kunjungan DPR ke Sulawesi beberapa waktu yang lalu. Dimana jumlah TKA sangat sedikit dibanding Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut.

Demikian isu-isu harga pangan yang melonjak padahal faktanya harga pangan stabil. Isu - isu BUMN mau bangkrut, isu-isu ekonomi lagi susah, isu isu soal demokrasi yang semakin terkekang, isu - isu tentang kebohongan divestasi 51% saham PT Freeport, yang semua ini di framing akan membawa Indonesia menjadi Negara yang hancur dan berujunglah #2019GantiPresiden.

Hastag 2019 ganti Presiden ini juga begitu massif pergerakannya di medsos lalu diwujudkan dengan aksi - aksi pengumpulan massa dimana - mana yang digerakkan oleh pasangan Mardhani Ali Sera dan Neno Warisman yang di back up penuh oleh duet Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Menyadari pergerakan #2019gantipresiden, Presiden Jokowi mencium aroma tidak sedap menjelang Pilpres 2019 ini. Jokowi mencium ada celah kelemahan tim juara yang dia punya untuk mempertahankan tim juara Nawacita jilid2-nya. Menteri - menterinya sudah bekerja cukup baik, tetapi lemah dalam menyampaikan hasil ke masyarakat.

Capaian sudah banyak, tetapi  banyak yang tak terdengar.  Oposisi jeli melihat celah kelemahan tim Jokowi itu, sehingga sempat kebobolan dengan berbagai serangan hebat dari oposisi. Putar otak sana - sini, sebagai Pemimpin sekaligus user,  Jokowi melihat ada satu titik yang belum sempurna dalam timnya.

Jika Ibarat sepakbola, Jokowi sudah memiliki Kiper terbaik dalam diri Jenderal Moeldoko yang siap kapan saja menangkap isu isu yang ditendang ke Jokowi, memiliki bek terbaik dalam diri Jenderal Tito Karnavian dan Marsekal Hadi Tjahjanto dan Jenderal Ryamizard Ryacudu, mereka inilah tembok tembok kokoh  pertahanan Jokowi saat ini, yang siap kapan saja mengamankan isu isu liar yang terus ditendang ke area lapangan Jokowi. 

Memiliki penyerang terbaik dalam diri Susi Pudjiastuti menggolkan target-target perikanan, ada juga penyerang terbaik Arief Yahya yang terus meningkatkan capaian target Pariwisata, Ada juga Penyerang handal Basuki Hadimuliono yang terus gencar menggolkan infrastruktur di se-antero nusantara, jangan lupakan penyerang sayap Amran Sulaiman pelan tapi pasti menggolkan target target swasembada pangan, penyerang sayap Iganasius Jonan yang sempat dihukum Jokowi juga tak kalah bagusnya.

Playmaker Murni dihuni oleh ibu kita Sri Mulyani yang siap mengatur anggaran seperti indahnya Zidane membagi bagi bola buat striker sehingga dengan muda menggolkan Nawacita. Jokowi juga punya Rini M Sumarno di playmaker bayangan yang siap menggunakan BUMN sebagai agen pembangunan.

Sayangnya Jokowi melihat ada celah yang besar dalam gelandang bertahan yaitu orang yang siap merebut bola (isu-isu) dari tim lawan (oposisi) untuk kemudian diolah, jika perlu sesekali ditendang ke wilayah lawan agar menjadi pergumulan di area lawan. Nah, Kejelian Pak Jokowi merekrut Jenderal Moeldoko berimbas kepada kejelian Moeldoko merekrut Ali Mochtar Ngabalin ke dalam timnya, dimana Ali Mochtar Ngabalin bisa digunakan sewaktu - waktu sebagai juru bicara Pemerintah meski kedudukannya hanya sebagai Staf Ahli dibawah Deputi IV sebagai bawahan Eko Sulistyo.

Memang selama ini kita tahu ada Tim Komunikasi Presiden yang di dalamnya ada Johan Budi sebagai Juru Bicara Presiden, dimana seharusnya tim inilah yang pertama kali mencounter serangan - serangan yang ditujukan ke pemerintah sebelum sampai ke area bek dan kiper.

Nyatanya kita tidak menemukan Makalele atau Ngolo Kante dalam diri Tim Komunikasi Presiden  dan tidak cukup tangguh untuk mengatasi  serangan-serangan yang dilancarkan kubu lawan. Menyadari itu, Presiden sebagai tim Juara tidak mau dipermalukan. Dia mengincar seorang pemain yang potensial, dimana sejak Pelantikan Jokowi JK, tidak pernah lagi dimainkan, meski sebenarnya dia sangat bugar dan fit.

Tim pencari bakat Jokowi segera merekomendasikan pemain jangkar, Ali Mochtar Ngabalin. Pemain ini komplit, bisa dimainkan sebagai gelandang bertahan, tetapi jika diperlukan, dan tim merasa mentok dalam menggolkan segala informasi kehebatan gol Nawacita Jokowi, maka sewaktu waktu Ali Mochtar Ngabalin mampu dimanfaatkan sebagai penyerang lobang yang handal.

Lihatlah misalnya dia mencounter serangan-serangan hebat dari tim lawan. Saat Amin Rais sibuk menyerang divestasi freeport, Ali Mochtar Ngabalin, cukup mengatakan, "Hei Pak Tua, hati-hati bicaranya!" setelah itu, AR mereda! Bung ali sebut AR sebagai Pak Tua aja, dia sudah terdiam sesaat.

Lalu kemudian serangan kembali dilakukan AR, muncullah Ali Mochtar Ngabalin sebagai penyerang lobang. AMN berpikir, ini tidak cukup hanya di counter, maka dia maju sebagai penyerang, mengubah strategy, pertahanan terbaik adalah menyerang!

Lalu dia berkata, "PAN adalah pengkhianat!" dia ada dalam koalisi tetapi saat diminta bicara tentang masa depan bangsa dan negara ini, PAN tidak mau. PAN hanya mau kursi Menterinya saja, tetapi tidak mau duduk bersama untuk kepentingan bangsa, sekali lagi dia berkata, PAN pengkhianat. Itu serangan balik lewat lobang kecil yang tersedia dan tentu saja gol. PAN kikuk! Hingga kini bingung, mau mundur apa mau oposisi!

Keberadaan Ali Mochtar Ngabalin (AMN) di tim juara Jokowi ibarat Paul Pogba dalam tim Juara Piala Dunia tahun 2018, Prancis. Pogba sangat tenang bermain, bahkan membosankan, tetapi di saat yang tak terduga dia muncul memberikan umpan - umpan jitu yang bisa menghasilkan gol dan itu vital buat kemenangan Prancis.

Ali Mochtar Ngabalin juga sama, dia bukanlah Menteri Sekretaris Negara, dia hanya diselipkan di Deputi IV KSP. Tetapi jsutru disitu keleluasaan AMN. Mata tidak pernah tertuju kepadanya sebab dia bukanlah Menteri, KSP atau Juru Bicara PResiden, tetapi dia bisa berlari kemana-mana untuk mencuri bola (isu) lalu dia olah, bahwa kemudian dia mau tendang bola itu ke pihak lawan atau justru mengoper ke timnya sendiri, itulah kelincahan dan kecerdasan yang dimilikinya dengan segala macam pengalamannya yang luar biasa itu.

Tahun 2018, Jokowi sudah menemukan rekrutan terbaiknya dalam diri Ali Mochtar Ngabalin untuk menutup celah-celah kelemahan itu, sehingga tim juara Jokowi dalam mengikuti pertandingan pilpres 2019 ini sangat siap dan sangat bugar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2