Mohon tunggu...
Tholut Hasan
Tholut Hasan Mohon Tunggu... Maaf

Maaf

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Kunci-kunci Berbangsa Ibnu Khaldun

2 Juni 2019   19:33 Diperbarui: 2 Juni 2019   19:37 0 1 1 Mohon Tunggu...

Kalau kita mendengar Ibnu Khaldun, pasti pertama kali yang diingat adalah kitab Muqaddimahnya. Cendikiawan yang memiliki ide cemerlang, hingga membuat kagum  profesor-profesor masa kini. Dengan kecemerlangannya itu, kitabnya masih tetap dipakai hingga saat ini untuk bahan referensi.

 Ibnu Khaldun berpandangan bahwa, "Besarnya suatu bangsa, luasnya suatu daerah dan panjang usianya, tergantung pada besarnya kekuatan pendukungnya (solidaritas)." Demikianlah Ibnu Khaldun mengutip dalam Muqaddimahnya.

Selain itu, semangat agama bisa meredakan pertentangan dan menuntun ke arah kebenaran. Kalau perhatian sudah terpusat pada kebenaran dan tujuan menjadi satu serta serupa, maka tak ada satu pun yang menghalanginya walaupun dalam jumlah yang begitu banyak.

Adapun Islam adalah agama yang benar. Agama yang benar bagaikan pelita atau alat untuk menjadi maju. Melaksanakannya secara serentak dan bersama-sama adalah satu petunjuk menuju kemajuan.

Oleh karena itu, andaikan tidak ada Islam, niscaya segala kesulitan manusia di alam ini tidak dapat diatasi dan tidak akan lurus sesuatu yang bengkok.

Inilah yang terjadi pada bangsa Arab dalam peperangan bersama orang Islam. Tentara Islam pada perang Yarmuk dan Qadisiyah sebanyak 30.000 pasukan. Padahal tentara Persia berjumlah 120.000 dan tentara Heraklius sebanyak 400.000 pasukan. Jumlah pasukan mereka dua kali lipat lebih banyak dari pasukan Islam. Tapi kenyataannya, mereka semua tidak sanggup berhadapan dengan tentara Islam. Mereka dipaksa mundur dengan pasukan yang sedikit, hingga akhirnya pasukan Islam memperoleh kemenangan dan menjadi pasukan yang ditakuti oleh imperium.

Maka, gerakan apapun, terutama gerakan keagamaan, tanpa disertai solidaritas yang kuat, tanpa disertai perasaan satu rasa, tanpa disertai perasaan setia kawan, tentu saja tidak akan berhasil, karena kekuasaan hanya bisa diperoleh dengan kemenangan, sedangkan kemenangan hanya dimiliki oleh golongan yang mempunyai solidaritas yang kuat dan bersatu dalam tujuan. Maka hati umat disatukan berkat pertolongan Allah dengan memeluk agama yang sama dan benar, yakni Islam. Allah berfirman:

"Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana." (QS al-Anfal;[8]:63)

Rahasia untuk menyatukan hati umat adalah, bila kebatilan dilakukan, bahkan sampai menjadi kebiasaan dan cenderung pada dunia melebihi daripada kecenderungan akhirat, maka kecemburuan (ghirah) muncul. Dan jika hati cenderung pada kebenaran, maka tujuan dan arahnya menyatu.

Tentu saja yang dimaksud kecemburuan di sini bersih dari berahi dan nafsu duniawi. Cemburu dalam pengertian syar'i yaitu mendatangkan kebaikan dan menghalangi keburukan serta mencegah ketidakberkaitannya dengan agama di masyarakat. Rasa ini juga akan menciptakan suasana yang mendukung dan pengawasan sosial yang tinggi di masyarakat.

Hal ini ditunjukkan dengan tegas oleh Abu Bakar kala memerangi orang-orang  murtad dan yang menolak membayar zakat. Ketika Umar bin Khaththab mencoba menenangkan sahabatnya itu, Abu Bakar marah. Hai Umar jawablah, "Apa kita harus bersikap keras semasa jahiliyah dan justru lembek sewaktu Islam?"

Di sini tampak Ibnu Khaldun telah mengembangkan teori berbangsa berdasarkan pada sunnatullah. Berbangsa berbasis sunnatullah berarti penyatuan negara dalam arti yang sesungguhnya. Benar-benar membela negara dengan menggerakkan hati semua masyarakat untuk bangkit menghilangkan kemungkaran. Tindakan dengan jelas dalam bentuk fisik saat Islam diinjak-injak. Bukan membela negara dengan hanya pasang poster dengan tulisan "Ayo Bela Agama Kita". Atau hanya omong kosong belaka tanpa ada tindakan.

Kemudian Ibnu Khaldun menjelaskan lebih lanjut, bahwa tujuan terakhir solidaritas adalah kedaulatan, karena yang membikin orang menyatukan usaha untuk tujuan yang sama. Juga kita telah mengetahui bahwa masyarakat memerlukan kekuatan yang berfungsi mencegah dan butuh pemimpin yang bisa mencegah manusia dari saling menyakiti.

Tidak hanya  pemimpin saja, tapi harus mempunyai kekuatan pembantu, sebab kalau tidak, tidak dapat menjalankan tugas pencegahan. Dengan demikian, nyatalah bahwa kedaulatan adalah akhir dari solidaritas sosial.

Solidaritas hanya didapati pada pertalian lain yang mempunyai arti sama, karena pertalian darah mempunyai kekuatan mengikat yang membuat ikut merasakan tiap kesakitan yang diderita kaumnya. Apabila pertalian itu dekat sekali, maka jelas solidaritas membawa pada yang sesungguhnya. Apabila tingkat kedaulatan itu jauh, maka ikatan darah itu semakin lemah. Inilah arti sabda Rasulullah, "Pelajarilah silsilah keuargamu untuk mengetahui siapa saudaramu sedarah yang dekat."

Demikianlah yang dilakukan oleh Habib Rizieq Syihab dalam menegakkan syari'at Islam. Beliau tidak dapat berdiri sendirian menghadapai orang-orang zalim, namun dibelakang beliau bertumpukan simpatisan yang ikut mendukung, baik dalam segi yang kasat mata atau yang tak kasat mata.

Oleh karena itulah, sampai sekarang beliau masih tetap dipercaya sebagai imam besar atau pemimpin umat Islam Indonesia.

Kita juga tahu aksi 411 dan 212 yang dikenal dengan Aksi Bela Islam, dimana umat Islam se-Indonesia berkumpul dan bersatu untuk menuntut pemerintahan yang kurang bijak kepada Islam. Mereka semua bersatu, karena murni pertalian saudara Islam yang sangat erat. Umat Islam satu dengan yang lainnya bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh disakiti, maka semuanya juga merasakan sakit.