Faridhian Anshari
Faridhian Anshari

Penulis merupakan seorang spectator sejati yang menikmati sepakbola dari luar lapangan, namun tetap mencintai "hype" dan aroma dari pertandingan yang disaksikan dari dalam stadion. Serta masih berharap akan lahir ke dunia seorang striker yang dapat menyaingi "kelicikan" seorang Filippo Inzaghi.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Liga Italia, Gaungmu Kini Terdengar Sunyi

12 Januari 2018   18:56 Diperbarui: 14 Januari 2018   09:36 1246 7 3
Liga Italia, Gaungmu Kini Terdengar Sunyi
Ilustrasi: Firsttouchonlone.com

Andaikan anak zaman milenial di Indonesia mengenal Liga Italia, selayaknya mereka mengenal Liga Inggris saat ini, pasti gaung Liga Italia tidak akan sesunyi ini. Liga Italia memang masih bernafas dan hidup, namun gaungnya mulai terdengar samar. 

Jika ada pertanyaan iseng yang dilontarkan untuk anak SMA yang rajin ngetem di tongkrongan mengenai liga apa yang paling ditunggu untuk nobar di kala weekend? Saya berani bertaruh, jawabannya Liga Inggris. 

Kemudian, jika level pertanyaan dibuat lebih meningkat, dengan bertanya: sebutkan 10 klub Liga Inggris yang kamu ketahui? Saya juga masih berani bertaruh, mereka bisa lah meyebutkan nama sepuluh klub, minus nama-nama seperti Newcastle United atau nama klub yang susah dilafalkan seperti West Bromwich Albion.

Cerdas? Belum tentu, jika dinaikkan levelnya ke pertanyaan menegnai klub liga lain, pasti mereka akan memilih Liga Spanyol sebagai acuan nomor duanya. Mutlak, karena unsur Barca dan Madrid yang bercokol di sana. 

Jika disuruh sebutkan nama 10 klub yang bemain di liga Spanyol, mentok-mentoknya hanya 5 sampai 7 klub yang bisa terjawab, dengan melewatkan nama-nama seperti Real Mallorca, Deportivo La Caruna, hingga Alaves. Nah, jika pertanyaan digeser ke Liga Italia, mungkin beberapa anak zaman now akan hanya tertuju kepada satu nama saja, yaitu Juventus. 

Itu pun kalau diminta sebutkan ikon klub, mereka secepat kilat akan menjawab Buffon, diikuti Chiellini, dan kemungkinan besar baru disusul oleh nama-nama seperti Dybala hingga Higuain. Jika pertanyaannya masih sama, untuk menyebutkan 10 nama klub peserta, dijamin mereka akan berlomba-lomba ria untuk menyebut, Juve-Inter-Milan-Roma, dmana merupakan nama-nama klub yang cukup familiar. 

Cukup ironis, ketika saya mencoba bertanya kepada beberapa anak SMA, palingan mereka hanya akan menjawab empat atau lima saja, di mana terkadang melupakan nama Napoli (yang kebetulan ketika tulisan ini dibuat sedang memimpin puncak klasemen).

Menarik memang, mengetahui pergeseran jaman yang menyebabkan Liga Italia yang dulu begitu digandrungi anak-anak 90an, menjadi terdengar samar di jaman sekarang. Padahal jika bicara dari peringkat klub-klub di UEFA, nama seperi Juventus, AC Milan hingga Internazionale masih lumayan bercokol di rangking yang mumpuni. 

Tapi memang, klub Liga Italia cukup sering kehilangan tajinya dalam beberapa tahun terakhir ini. Jika kita bicara Liga Champions, klub Italia yang paling jauh melaju hanyalah Juventus. Yes, si Nyonya Tua cukup sering bermian di final Liga Champions (tahun 2015 dan tahun 2017) dalam beberapa tahun belakangan ini. Itupun keduanya disingkirkan oleh Barcelona dan Real Madrid. 

Masuk akal. Masuknya Juventus sebagai finalis pagelaran tahun 2015 cukup membuat publik Italia terhibur. Bayangkan, mereka berjarak 5 tahun dengan Inter Milan yang memenangi Liga Champions tahun 2010 dibawah tangan Mourinho. Cukup lama dibandingkan dengan Klub-klub dari Liga Inggris dan Spanyol yang bergantian bermain di babak Final.

Bandingkan dengan klub Liga Spanyol, yang semenjak tahun 2014 dimulai dari era Real Madrid (yang terselip Barcelona ditahun 2015) yang tidak pernah terputus untuk bermain dalam final Liga Champions hingga tahun 2017. Lain lagi jika kita melihat klub asal Liga Inggris yang thampir selalu bermain di final Liga champions semenjak tahun 2005  (milik Liverpool dengan Instanbul Miracle-nya) hingga ke tahun 2012, lewat Chelsea dengan Di Matteo Miracle-nya).

Cukup sudah membandingkan Liga italia, dengan Liga lain. Sakit rasanya ketika kita mengetahui penurunan kualitas peserta liga, padahal dulu kita memuja hampir setengah klub sebagai peserta Liga Italia. 

Jika saya boleh menganalisa, ada beberapa faktor yang menjadikan Liga Italia kalah pamor dibandingkan dengan Liga lain di benua Eropa. Namun, analisis saya ini tidak mengangkat kehebatan liga lain dan lebih terfokus kepada "kesalahan" yang dibuat oleh pengurus hingga ke level penendang bola yang bermain di liga Italia.

Faktor paling utama yang masuk akal adalah, ketika skandal Calciopoli melanda Italia di pertengahan tahun 2006. 

Sebenarnya tahun tersebut merupakan era yang sangat hebat untuk sepakbola Italia. Jelaslah, juara Piala Dunia 2006, dengan mengalahkan Prancis difinal menjadi bukti nyata dari jago-nya generasi emas milik Gianluigi Buffon, Alessandro Del Piero, Fransesco Totti, hingga Filippo Inzaghi. Ketika masa itu, liga italia masih dalam puncak performanya. 

Hampir seluruh pemain-pemian terbaik dunia "masih mau" bermain di Serie A, walau beberapa pemain sudah sempat tergoda untuk menyebrang ke Spanyol dan Inggris. Pada bursa transfer musim 2006/2007, Juventuslah yang menjadi aktor utama dari eksodus ini. Eksodus gila-gilan dijalankan oleh beberapa nama top klub tersebut. Satu paket Lilian Thuram dan Zambrotta pindah ke Barcelona. 

Striker hebat yang menjadi salah satu ikon Serie A (buat yang biasa bermian di Winning Eleven), Andriy Shevchenko juga melipir ke chelsea, yang kemudian juga disusul oleh kompatriotnya sebagai eks top skor Serie A, Hernan Crespo. Namun yang membuat beberapa pecinta Liga Italia patah hati adalah, kepindahan sang kapten tim nasional, Fabio Cannavaro yang memilih hijrah ke Real Madrid. 

Era pertahanan berlapis, serta sistem "grendel" yang menjadi ciri khas klub asal Italia, dipastikan akan mulai redup seiring kepergian Il Capitano.

Faktor kedua, yang merupakan efek domino dari kasus Calciopolli adalah menyingkirnya Juventus ke Serie B. Seberapa besar sih pengaruh Juventus? Pada masa itu, Juve adalah klub yang berisikan pemain bintang layaknya Barcelona dan Real Madrid (jika digabung) saat ini. 

Hampir seluruh pemain top mau bemain di sana. Karena kasus yang menyeret nama Lucio Moggi, sang juru transfer Juventus, maka Juventus terkena vonis untuk menghilang dari nama 18 klub peserta Liga Italia. 

Dapat dipastikan dengan melihat Juventus sebagai slaah satu klub paling populer di Liga Italia, dan tersukses di kancah Eropa menyingkir ke Liga yang lebih rendah, maka pamor Liga Italia agak sedikit tergoncang. 

Memang, masih ada nama AC Milan, Inter Milan, hingga AS Roma, namun banyak orang yang beranggapan bahwa Liga italia tanpa Juventus sudah tidak seru lagi. Juventus adalah salah satu nyawa Liga Italia. Ibarat Barcelona untuk Liga spanyol, dan Liverpool untuk Liga Inggris. Apakah anda akan tetap merasa seru menonton Liga Spanyol tanpa Barcelona? Saya berani bertaruh pasti jawabannya: Engga!

Masih terhubung dengan kedua faktor diatas, maka pengaruh hilangnya Juventus di susuan pesaing scudetto, mulai terlihat membosankan. Nama Inter Milan menjadi faktor ketiga dari analisis saya. 

Semenjak Juventus yang hilang ditelan bumi, dan bersaing di level bawah bersama klub semenjana macam Piacenza dan Genoa, serta bersaing paling sengit dengan Napoli (yang waktu itu masih belum bangun dari tidur lamanya), nama Inter Milan dibawah asuhan Roberto Mancini dan berganti ke Jose Mourniho memenagi Serie A selama empat musim beruntun. Terhitung sejak musim 2006/2007 hingga musim 2009/2010. 

Memang, masa itu Inter Milan sangat jago dan tidak tertandingi. Nama Zlatan Ibrahimovic menjadi simbol dari kedigdayaan mereka dibandingkan seluruh tim lain peserta Liga Italia. Alasan "kebosanan" jelas menjadi jawaban dari melorotnya minat penonton luar untuk mengabdi di Serie A.

Waktu terus berjalan, dan Serie A masih kehilangan pamornya. Apa enaknya menonton Liga yang hanya didominasi satu tim saja. 

Tontonan mulai bergeser ke ranah Inggris, dengan melihat serunya Manchaster United sikut-sikutan dengan Liverpool, dihantam oleh Arsenal, hingga dihadang oleh Klub "kaya baru" saat itu, Chelsea hanya untuk meriah gelar juara diakhir musim. Unsur "kompetisi" dan persaingan menjadi sajian tersendiri yang disenangi oleh penonton yang mencintai sepakbola dengan sistem Liga nya. 

Selama 30 hingga 40 pekan, mereka rela menanti bagamana perjuangan klubnya untuk dapat memuncaki klasemen pada pekan terakhir yang biasanya tersaji antara bulan Mei dan Juni. 

Namanya juga sebuah Liga, yang berangkat dari unsur kompetisi, jadi memang aneh jika melihat Liga hanya di "kuasai" oleh satu klub saja. Faktor keempat, yakni rindu akan kompetisi yang sengit, yang dibungkus oleh unsur kejutan menjadikan Liga Italia mulai ditinggalkan penonton setianya. Penotnon sudah jengah dengan "One Club Show" untuk tontonan satu musim yang seharunya menghibur. 

Sebenarnya jika disimak lebih lanjut, salah satu alasan hingga saat ini Liga Italia masih kalah pamor karena unsur kebosanan itu masih tertancap dalam. Nama Juventus yang bangkit dari skandal tahun 2006, kemudian bercokol menajdi juara Serie A di tahun 2011/201 tidak rela meninggalkan singgasananya hingga musim lalu 2016/2017. 

Bayangkan enam musim beruntun hanya dikuasai oleh Juventus yang sebenarnya sangat salah jika dikatakan "egois". Wajar saja jika tontonan orang mulai berpindah ke Liga lain yang lebih sengit dan deg-degan untuk diikuti.

Rindu rasanya menyaksikan unsur tak terduga dari Liga Italia seperti dijaman 90an akhir, ketika Serie A masih menjadi raja Eropa. 

Kejutan yang diwakili oleh Lazio yang meraih scudetto ditahun 2000, dan disusul AS Roma yang menggapainya setahuan kemudian, cukup mewakili unsur tak terduga yang tidak dimiliki oleh Serie A saat ini. Aaah..andai gaung Liga Italia seperti dulu, pasti anak sekarang sadar kalau Napoli-lah yang memuncaki klasemen.