Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Media

Hai, Arswendo: Piye Enake?

6 Juni 2017   06:20 Diperbarui: 6 Juni 2017   06:20 0 2 2 Mohon Tunggu...
Hai, Arswendo: Piye Enake?
Majalah Hai delapan puluhan. Jadul(foto:Kumparan)

"Rin, kamu nulis Rhoma, ya!" kata Arswendo Atmowiloto yang kerap aku panggil Mas Wendo seperti umumnya kami yang bergerak di majalah HAI.

Kalimatnya bukan dengan pertanyaan. Tapi memang "perintah". Padahal, aku statusnya magang atawa nyantrik di majalah Remaja yang berada di Lantai 3 (tiga) Jalan Palmerah Selatan 22, Jakarta dengan gedungnya yang sengaja tak dicat itu. Itu tahun delapan puluh tigaan.

Suasana di majalah HAI di lingkungan Kompas-Gramedia memang seperti itu, seperti mengikuti gaya wong Solo adik Satmowi -- yang kupanggil Mas juga.  Di ruang nyaman kantor redaksi majalah HAI -- paling menghebohkan dibandingkan dengan redaksi majalah Bobo/ AWD, Intisari, yang memang diasuh oleh para sesepuh itu: Ibu Irawati, Pak Slamet Suseno, dan di majalah Bobo ada Mas Wishnu, Mas Adi Permadi, Mas Yahyono, Mas Isman Santoso, Mas Piet Ompong dan lain-lain.

Tugas atawa perintah Mas Wendo agar aku nulis Si Raja Dangdut ini nyelenehi? Memang. Tapi intuisi pengarang paling produktif di negeri ini -- selain Mas Putu Wijaya yang kita kenal -- kerap antitesis. Termasuk dalam mengomandoi majalah Hai, yang awalnya digawangi bareng Mas Ardus M Sawega -- memilih menjadi wartawan KOMPAS di Solo -- sejak bernama majalah Midi.

Gimana ndak nyeleneh? Bagaimanapun, majalah Hai untuk remaja -- waktu itu nggak atau bersegmen majalah remaja pria -- sudah menampilkan komik Coki, Garth dan yang tidak mendayu-dayu sebagaimana majalah remaja yang ngetren saat itu. Isinya pun, kadang menabrak impian remaja yang muluk. Tapi justru, istilah Syamsudin Noer Munadi (kerap disapa senem dengan singkatannya SNM, sebagai redaktur pelaksana HAI) kita tawarkan anak-anak potensial, termasuk dari daerah. Dan itulah yang kerap aku tulis: anak pembuat gerabah, pembuat kendang, atau seniman-seniman belia dan olahragawan yang masih sekolah. Laki-laki, dan bahkan wanita dengan rubriknya Dara.

Jam kantor di lingkungan HAI delapan puluhan itu, bersih setelah pukul tiga sore. (Di mana awak majalah Intisari, Bobo bubaran). Dan saat itulah awak lepasan di majalah remaja itu berpesta. Ada yang main krambol, nonton VCD (yang serem juga), nyelesain tulisan atawa bagian kreatif: desain, dan gitaran.

Suasana gayeng itu tak lepas dari tangan Mas Wendo. Yang didampingi Mas Wedha -- kemudian kita kenal dengan Wedha's Pop Artnya yang mendunia. Lha, foto-foto peserta KAA ke-60 di Bandung dilukis dengan cara itu -- yang pernah diolok-olok Mas Wendo gara-gara aku menuliskan profilnya di koran sore nomor satu saat itu: Sinar Harapan. Juga Aries Tanjung yang sama-sama bujangan denganku -- kini karikaturis Tabloid NOVA. Di samping Joko, Q-Bro.

Di tangan Mas Wendo, HAI menjadi sebuah daya tampung orang-orang seperti aku, termasuk Hilman Hariwijaya (dengan Lupus-nya yang pertama menghebohkan dengan "Kejar Daku, Kau Kujitak), Gusur  atau Gola Gong, Denny MR anak Cianjur yang piawai soal musik itu. Meski yang lebih serius, ada. Semisal AGS Arya Dipayana yang mencipta lagu Dengan Menyebut NamaMu yang dinyanyikan Novia Kolopaking atau Toni Danoe yang mencipta lagu ACI (sound track untuk FS remaja di TVRI).

Belum lagi, menampung tulisan begawan Umar Kayam. Atau WS Rendra, M Sobary dan sastrawan punya nama lainnya: Subagio Sastrowardojo atau Sapardi Djoko Damono. Ya, majalah remaja yang seperti kolam renang umum di Jakarta saat itu. Meski tetap, HAI menampung para gelandangan yang tak jelas asal-usulnya (termasuk aku, hehehe yang nulis apa saja, cerpen, cerbung atau musik): Gunawan Wibisono (Fotografer). Sehingga muncul rubrik-rubrik nyeleneh: Koma (Koran Remaja), Manja (Roman Remaja), Pulpen (Kumpulan Cerpen) atau Cerbung untuk Cerita Bersambung yang saat itu lebih populer Cerita Bersambung (Cerber).

Maka nggak aneh, kalau HAI ketika Mas Wendo konsentrasi di Tabloid Monitor yang kemudian membuatnya masuk Hotel Prodeo, lebih fokus ke musik dan muncul sebagai majalah remaja pria. HAI digawangi Iwan, Dharmawan, Elwin Siregar (kini, bos divisi Majalah KG).  Mas Wedha yang ditinggalMas Wendo selama mendekam di Cipinang dan ketika keluar ya out dari lingkungan KOMPAS/ Gramedia mentok jabatannya. (Ada Mas Kochis, sebaya yang sudah hengkang bersama Mas Wendo di Subentra). Lha, orang artistik, kan nggak bisa jadi Pemred, hehehe. (Aku yo wis ngene angon cah-bocah, Rin, katanya kepadaku suatu ketika).

Jika kemudian per Juni 2017 HAI takkan terbit sebagai majalah dengan lembaran-lembarannya lagi, apa aku kaget?        

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x