Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Secuil Obituari dari Perjuangan Mencapai Citra "Otak Habibie" dalam Catatan Hidup Indonesia

12 September 2019   18:16 Diperbarui: 13 September 2019   00:10 129
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(The neuroscience of creativity: How the brains of innovators are wired differently-https://newatlas.com)

Pada masa kanak-kanak, di era tahun 1980-an hingga 1990-an, sudah sangat umum diketahui di kalangan keluarga-keluarga di kampung ini, bila ada orang tua yang bertanya tentang cita-cita kepada anak-anak sekolah, maka si anak jarang sekali tidak menyebutkan cita-cita menjadi pilot di masa depannya. Selanjutnya, orang tua juga sudah sangat umum akan mendukung cita-cita itu sambil berpesan kepada si anak agar belajar giat, agar menjadi pintar seperti Habibie.

Habibie yang dimaksudkan oleh para orang tua di kampung-kampung kecil di Tanah Karo ini, yang berjarak ribuan kilo meter dari Pare-Pare, Sulawesi Selatan, benar adalah Bacharuddin Jusuf Habibie yang lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Padahal pada masa itu, sumber-sumber informasi belumlah sebanjir seperti saat ini. 

Mungkin itu adalah sisi positif pencarian role model pada masa lalu, sebagai rujukan pendidikan bagi anak-anak dari tokoh-tokoh nasional yang layak menjadi teladan. Bagaimanakah kenyataan itu di masa kini?

Masa kini tidak akan kita bahas panjang lebar di lembaran ini karena informasi tentang masa kini sangat aktual, real time, dan dapat diperoleh dari mana saja. Kita hanya akan fokus kepada sosok keteladanan seorang B.J. Habibie. Belajar dari masa lalunya, dari sikap dan keteladanannya, untuk menarik nilai manfaat bagi kita dan anak-anak kita yang masih hidup sampai masa ini.

Prof. Dr. Ing. H. B.J. Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Juni 1936 dan meninggal dunia pada Rabu, 11 September 2019, dalam usia 83 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. 

Beliau adalah Presiden Republik Indonesia (RI) ke-3, yang menerima estafet kepemimpinan nasional dari Presiden Suharto pada tanggal 21 Mei 1998, pada saat situasi politik dan ekonomi Indonesia mengalami goncangan karena ketidakpercayaan publik terhadap kepemimpinan nasional yang ada pada saat itu. Tentu saja, menjadi Presiden Indonesia pada saat kondisi negara seperti pada masa itu bukanlah sebuah perkara mudah dan merupakan tantangan tersendiri.

Dua hal yang mungkin patut menjadi sorotan pada sosok Habibie pada masa kepemimpinannya adalah komitmen dirinya yang tidak mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu tahun 1999 dimana dia merupakan pimpinan kabinet yang mempersiapkan pelaksanaan Pemilu tersebut. 

Selanjutnya, meskipun merupakan kenyataan pahit, di masa beliau menjadi Presidenlah terjadi arus deras tuntutan yang akhirnya memaksa dilakukannya referendum rakyat Timor Timur yang berujung pada lepasnya Timor Timur dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Itu adalah masa lalu yang lebih dekat terkait Habibie. Masa lalu dirinya yang agak lebih jauh, meninggalkan berbagai hal lainnya yang masih relevan dipakai sebagai pelajaran terutama untuk memotivasi generasi muda Indonesia.

Pada prosesi pemakamannya secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada Kamis, 12 September 2019, Presiden Jokowi yang bertindak sebagai inspektur upacara mengucapkan sambutan: "Selamat jalan Mr. Crack. Keteladananmu akan selalu kami kenang, untuk tidak mudah menyerah dan untuk tidak menjadi cengeng dalam menghadapi tantangan hidup," demikian kurang lebih.

Presiden ke-3 RI ini, merupakan Presiden RI pertama yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, di samping makam mendiang istrinya, ibu Hj. Ainun Habibie. Itu adalah wasiat dirinya, yang bisa dimaknai sebagai tanda bukti kesetiaan sebagai seorang suami, seorang ayah, bagi keluarganya, hingga akhir hayatnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun