Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan PNS

Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiranku... Blog Pribadi: https://surantateo.wixsite.com/terraincognita

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Penasihat yang Bijak Menjadi Cermin Sejarah

1 November 2018   17:45 Diperbarui: 3 November 2018   13:24 2897 4 0
Penasihat yang Bijak Menjadi Cermin Sejarah
Tugu Rumah Adat Karo di Jl. Abdul Kadir Kabanjahe (dokpri)

Sejarah adalah catatan peristiwa, dan filsafat adalah cermin bagi sejarah.

Hegel dalam puncak kesimpulannya mengemukakan bahwa manusia dan kehidupannya terdiri atas tiga tingkatan roh, yakni roh subjektif terkait dengan individualismenya, roh objektif terkait dengan hubungan pribadinya dengan keluarga, masyarakat dan negara, serta roh mutlak terkait dengan  seni, agama dan filsafat. 

Filsafat adalah cermin bagi sejarah, yang melaluinya manusia bisa memikirkan sesuatu mendahului pengalamannya, memikirkan sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat atau  didengarnya. 

Membayangkan manusia tanpa pikiran, sama tidak masuk akalnya dengan membayangkan negara tanpa warga, atau warga tanpa negara. Satu hal yang memungkinkan keleluasaan berpikir adalah adanya kebebasan. 

Manusia sering menemukan dirinya sendiri dalam cermin sejarah, dan tanpa disadarinya ternyata ia melakukan hal-hal yang sama seperti dahulu orang-orang lain juga melakukannya.

Guru Cai Li Xu, dalam Buku Pembahasan Budi Pekerti Di Zi Gui, melanjuntukan pembahasannya seputar hubungan pejabat dengan para pembantunya. Para pembantu kaisar mempunyai kewajiban moral memberi nasihat kepada kaisar apabila dipandang perlu. Tentang hal ini Guru Cai bercerita tentang seorang pejabat tinggi, seorang penasihat kaisar pada Dinasti Tang yang bernama Wei Zheng.

Sebelum menjabat sebagai pembantu kaisar, Wei Zheng berterus terang kepada kaisar Tang: "Yang Mulia, saya tidak ingin menjadi pejabat yang setia. Saya ingin menjadi pejabat yang bijak." Setelah mendengar ini kaisar Tang sedikit kesal dan balik bertanya mengapa Wei Zheng berkata demikian. 

Wei Zheng menjawab: "Karena pejabat setia akan berakhir dipancung, sedangkan menteri yang bijak tidak akan kehilangan nyawa." Mendengar ini kaisar Tang terbahak-bahak.

Kaisar Tang adalah orang pintar, maka sambil terbahak terpikir olehnya siapakah yang dapat membunuh pejabat tinggi yang setia selain dari pada kaisar yang jahat. Apa yang ingin disampaikan oleh Wei Zheng adalah bila Kaisar Tang membunuh Wei Zheng, padahal ia setia kepada kaisar, maka itu berarti Kaisar Tang telah memerankan diri sebagai kaisar yang jahat. 

Sebenarnya dengan berkata demikian Wei Zheng sedang mengamankan nyawanya sendiri. Seringkali ketika mendapati kaisar melakukan kekeliruan, Wei Zheng dengan yakin tanpa ragu-ragu akan menasehatinya.

Suatu ketika Wei Zheng menasehatinya begitu keras sehingga membuat kaisar marah besar dan tergesa-gesa kembali ke kamarnya. Sambil berjalan kaisar berteriak bahwa ia akan membunuhnya karena telah kurang ajar. Ratu kebetulan mendengar amarah kaisar dan segera masuk ke istana untuk berdandan. Ia mengenakan baju dengan dandanan yang indah, cantik sekali.

Ratu berkata: "Selamat kepada kaisar, karena ada kaisar yang bijak, barulah ada pejabat seperti Wei Zheng yang berani menyampaikan nasihat-nasihat kepada kaisar." Mendengar kata-kata ratu maka kaisar berubah dari marah menjadi gembira karena dipuji sebagai kaisar yang bijaksana. 

Terlihat jelas bahwa nasihat seorang istri sangat penting bagi suami. Seandainya ratu berkata yang tidak baik tentang Wei Zheng, mungkin sejarah pemerintahan Dinasti Tang yang bijak akan berakhir sampai di sini.

Kejayaan sebuah keluarga atau bahkan sebuah dinasti kekaisaran mutlak memerlukan dukungan dari banyak pihak supaya terwujud. Dalam keberhasilan seseorang pada perjalanan hidupnya, terdapat banyak orang di sekelilingnya yang ikut berjasa. Kaisar Tang bukan saja memiliki Wei Zheng yang bijak, tetapi juga ratu yang bijak dan pejabat-pejabat bijak lainnya yang bersama-sama membantunya.

Saat Wei Zheng wafat, Kaisar Tang berkata pada saat pemakamannya bahwa dia sebagai kaisar memiliki tiga buah cermin dalam hidupnya. Cermin pertama adalah cermin dalam arti sebenarnya untuk memastikan bahwa ia berpakaian dengan rapi, cermin kedua adalah sejarah guna memastikan apakah ia telah memimpin dan mengurus negara pada masanya dengan benar, dan cermin ketiga adalah manusia melalui nasihat-nasihatnya untuk memastikan agar ia dapat segera memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Kisah Dinasti Tang adalah cermin sejarah bahwa hanya kaisar yang bijaksana, yang sangat menghargai dan menyayangi pembantu-pembantunya, yang kompeten dan bijak, yang akan mampu memenangkan kepercayaan dari para pembantu-pembantunya.