Ekonomi

Ekonomi Kuartal II Menggeliat, Pasar Uang adalah Faktor Pendukungnya

16 April 2018   14:09 Diperbarui: 16 April 2018   14:10 275 0 1
Ekonomi Kuartal II Menggeliat, Pasar Uang adalah Faktor Pendukungnya
Ilustrasi Dollar Rupiah (Dok.umntra)

Bank Indonesia (BI) optimis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 akan lebih menggeliat dibandingkan kuartal sebelumnya. Dengan alasan, sektor riil mulai tumbuh, tercermin dari melimpahnya likuiditas dan peningkatan transaksi di pasar uang antar bank (PUAB). Pada kuartal I 2018, BI meprediksi pertumbuhan ekonomi 5,1% year on year (yoy), naik dibandingka periode sama tahun lalu yang hanya 5,01%.

BI mencatat total nilai transaksi repo (repurchase agreement) terus meningkat memasuki kuartal II ini. Pada Maret 2018, nilai transaksi repo melonjak hingga Rp 2 Triliun per hari. Pada saat yang sama, transaksi di pasar uang antar bank (PUAB) melonjak menjadi Rp 29 Triliun per hari.

Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah, menuturkan adanya alasan mengenai kenaikan likuiditas tersebut.

"Karena likuiditas ample (banyak). Banyak capital inflow dan pemerintah genjot belanja. Ini bagus," jelas Nanang di Gedung BI, Jakarta, akhir pekan lalu.

Perhitungan BI, kisaran total perputaran pasar uang di Indonesia sekitar Rp 31 Triliun per hari pada Maret 2018. "Sekarang (April) mungkin Rp 33 Triliun sampai Rp 35 Triliun per hari. Jika dibandingkan dengan perputaran di pasar uang pada periode lalu di bulan yang sama hanya Rp 24 Triliun sampai Rp 25 Triliun," terang Nanang.

Peningkatan volume transaksi di pasar uang menandakan menggeliatnya kegiatan ekonomi. "Ini mencerminkan bahwa ada perputaran uang di money market yang sebenarnya juga menghubungkan sektor keuangan dan sektor riil," ujar Nanang.

Project Consultant Asia Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi mengatakan, peningkatan transaksi di pasar uang tidak selalu mencerminkan pertumbuhan sektor riil yang cepat juga. Hubungan antara pasar uang dan sektor riil tergantung pada seberapa banyak dana yang bisa dilaksanakan ke sektor riil dan sebaliknya.

"Tapi, dalam kasus ini, belanja pemerintah yang besar mempercepat pertumbuhan sektor riil. Dan spendling pemerintah ini ikut berpengaruh pada likuiditas yang ample pada perekonomian," terang Eric, Minggu (15/4).