Mohon tunggu...
Taufiq Sentana
Taufiq Sentana Mohon Tunggu... Guru - Pendidikan dan sosial budaya

Praktisi pendidikan Islam. peneliti independen studi sosial-budaya dan kreativitas.menetap di Aceh Barat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ekspresi Puisi di Meja Makan dan Ruang Tamu

4 Agustus 2021   01:15 Diperbarui: 4 Agustus 2021   01:15 36 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ekspresi Puisi di Meja Makan dan Ruang Tamu
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Seorang Zakir Naik pun beranggapan bahwa puisi telah kehilangan daya pikatnya. Sebab zaman kita yang saintifik, industrialis dan digitalis telah menakar kembali fungsi keindahan, semula dari kata lalu beranjak ke rupa dan suara.

Walaupun demikian puisi tetap memiliki ruangnya sendiri dalam simbol ekspresi bagi kebudayaan yang dikepung nilai instan dan gairah pop.

Untuk itu puisi-puisi tetap ditulis. Puisi-puisi selalu tercipta. Dan puisi-puisi akan tetap menjadi saksi dari realitas kita: Terlepas apakah ia laku dijual atau sekadar pemantik rasa dan akal.

Terkadang puisi sangat personal dan individual. Tapi puisi mesti bisa melompat ke arena perubahan. Tanpa melulu tersedu, merintih-malu dan bersolek di kamar. Rendra (Alm) menyebutnya puisi "anggur dan rembulan".

Puisi hendaknya menjadi alternatif ekspresi yang paling masuk akal, lembut dan bahkan frontal. Puisi mesti hadir di ruang tamu dan di meja makan, atau di halaman sekolah saat jam- jam istirahat berlangsung, bahkan sebagai hadiah pernikahan!

Meskipun puisi tetaplah menghendaki pra syarat diksi yang ketat, tapi puisi bisa menjadi lentur tanpa kehilangan keindahan dan maknanya.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x