Mohon tunggu...
Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Mohon Tunggu... profesional

Menulis karena ingin berbagi

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Papua, Twitter, dan Perang untuk Jokowi

30 Agustus 2019   17:27 Diperbarui: 30 Agustus 2019   18:10 0 7 2 Mohon Tunggu...
Papua, Twitter, dan Perang untuk Jokowi
sumber: editorsay.com

HAMPIR seminggu terakhir ranah publik kembali dibuat riuh oleh sajian berita politik sangat hangat: tentang Papua dan HAM. Seperti yang sudah-sudah, panggung linimasa pun kembali ramai oleh beragam pendapat dan opini.

Termasuk di Twitter.

Setidaknya, dua (2) buah metadata tag saya lihat sedang wara-wiri di panggung lini masa hari-hari terakhir ini: #PapuaBergejolakJaeKemana dan #PapuaDamai.

#PapuaBergejolakJaeKemana mengkritisi ketidakmampuan seorang Jokowi mengelola isu rasisme yang disusul oleh kejadian kerusuhan di Papua. Seperti halnya laga di Pilpres, semua narasi yang sedang dibingkai itu dibungkus dalam format dan kalimat yang menyerang.

#PapuaDamai adalah sebaliknya. Tagar ini, dugaan saya, dibuat dengan tujuan untuk mengerem laju tagar #PapuaBergejolakJaeKemana agar tidak kian populer.

Saya tidak memerlukan ulasan berpuluh-puluh lembar halaman untuk sekedar membuat saya paham siapa-siapa orang atau kelompok yang berada di belakang dua (2) tagar tersebut diatas.

Sementara itu, di tempat yang lain, Kompas (30/08/2019) mengabarkan bahwa polisi saat ini terus mengejar ribuan akun yang sebelumnya telah terdeteksi sehubungan dengan isu rasisme dan Papua. Sebelumnya, selama 14-27 Agustus 2019, tim patroli siber gabungan sudah mendeteksi sebanyak 32.000 konten provokatif terkait Papua di media sosial.

Kembali, sekali lagi, tagar #PapuaBergejolakJaeKemana dan #PapuaDamai ini dan kabar Kompas di atas kian meneguhkan saja fakta-fakta dan kesimpulan (sebelumnya); bahwa media sosial (Twitter) dan buzzer politiknya kini sudah menjadi sebuah industri! Media sosial dan berbagai saluran daring, kini, telah menjelma menjadi panggung untuk membangun dan menggiring opini, baik yang baik dan yang buruk.

Peran Twitter dengan buzzer pun di ranah politik itu, kini, tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dalam banyak kasus dan kejadian, faktanya, peran mereka memang tak bisa dibantah.

Meski ruang yang disediakan Twitter sangat sempit (tak lebih dari 140 karakter), namun, Twitter (tetap) menjadi wadah sangat menarik untuk para penggunanya. Ia tidak saja menjadi wadah untuk sekedar bercakap-cakap, tetapi juga dibuat untuk berdebat, bersitegang, memaki dan mencela. 

Dalam tema dan narasi yang sedang dipercakapkan untuk menaikkan tagar #PapuaBergejolakJaeKemana dan #PapuaDamai itu, kadang-kadang, saya kerap menemukan (membaca) cacian dan makian (kepada Pemerintah).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2