Taufik Uieks
Taufik Uieks karyawan swasta

Hidup adalah sebuah perjalanan..Nikmati saja..

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Mengembara ke Makam Tiga Presiden dengan Tiga Macam Rasa

11 November 2018   00:02 Diperbarui: 11 November 2018   00:33 634 3 1

Perjalanan saya kali ini bukan perjalanan biasa. Bukan ziarah biasa, melainkan napak tilas kisah tiga presiden dengan tiga kisah yang berbeda. Meliputi tiga tempat yaitu Blitar, Astana Giri Bangun dan Jombang.

Ziarah ke tiga makam presiden yang paling telah menorehkan sejarah panjang republik ini. Ternyata dengan berkunjung sekaligus berziarah ke makam tiga presdien ini kita pun bisa membayangkan bagaimana gaya hidup ketiganya.

Perjalanan saya dimulai dengan mampir sejenak ke Astana Giri Bangun. Perjalanan dimulai dari kota Yogyakarta dengan hanya berbekal peta online di gadjet.

Setelah hampir 3 jam berkendara, akhirnya menjelang siang, kendaraan pun sampai di kompleks Astana Giri Bangun. Kesan petama memang menggoda. Kompleks ini memang kompleks raja-raja dengan rasa feodal yang kental.

Maklum makam Pak Harto memang meruakan makam keluarga Pura Mangkunegaran. Sesampainya di tempat parkir, kita harus mampir sejenak di pos untuk mengurus Surat Ijin Ziarah.  Disini pengunjung dikutip uang seikhlasnya untuk biaya surat ijin tersebut.

Memasuki kompleks, suasana terasa sangat sakrat. Apalagi untuk masuk ke cungkup kita harus menaiki beberapa anak tangga yang menunjukan bahwa yang dimakamkan adalah sosok keluarga yang terhormat dari jaman kerajaan.

Untuk masuk ke dalam cungkup utama dimana terdapat makam Bu TIen, Pak Harto dan beberapa keluarga dekat, kita harus bergantian, di dalam kita tidak boleh berfoto dan hanya tukang foto yang boleh beraksi. 

Suasana siang itu tidak terlalu ramai, tetapi beberapa rombongan ziarah tetap datang silih berganti.

Kesan pertama Astana Giri Bangun memang cocok dengan gaya hidup Pak Harto yang penuh dengan wibawa dan selalu kental dengan suasana yang sedikit fedal. Maklum Bu Tie memang masih keluarga kerajaan.

Makam kedua yang dikunjug adalah komleks Perpustakaan dan makam Bung Karno di Blitar.  Kesan terbuka dan hagat ada di komoleks ini. Perpustakaa terasa sangat megah dan modern. PAtung BK yang duduk di kursi raksasa pun sangat menarik.

Di perpustakaan kita bisa melihat pameran foto-foto Bung Karno yang menceritakan kisah hidup beliau yang flamboyan.  Mampir kesini kita merasakan seakan-akan Bung Karno  masih hidup dan bercerita dengan santai mengenai masa hidupnya. Dari kecil, dewasa, namun minus kisah hidup yang sedikit menyedihkan di akhir hayat.

Selesai berkunjung ke perpustakaan, kami mampir ke makam. Sederhana, dan terbuka untuk siapa saja. Diapit makam kedua orang tua, pusara 'Putra Sang Fajar' memang membuat kita kagum akan kecintaan rakyat terhadap BK.  

Makam Bung Karno tidak pernah sepi dan membuat kita merasa bawha beliau seakan-aan masih hadir di tegnah-tengah penziarah walau telah meninggal lebih dari 48 tahun lalu.

Makam terakhir yang dikunjungi adalah makam Gus Dur di Jombang. setelah berkendara sekitar 3 jam dari Bitar, kita sampai di kompleks Tebu Ireng sekitar jam 4.30 sore hanya untuk mengetahuo bahwa kompleks makam ditutup dan baru dibuka jam 8 malam.

Baru kali ini penulis mampir ke makam di malam hari. Namun suasana makam Gus Dur memang berbeda. Di malam hari selalu ramai penziarah. Memasuki kompeks kita hanya perlu mengisi buku tamu dan menyumbang seikhlasnya di kotak amal.

Makam Gus Dur berada di tenagh kompleks makam keluarga pesantren Tebu Ireng. Makam kakek dan ayah Gus Dur juga ada disitu. Namun lantunan doa terus bergema sampai pagi menjelang.

Terasa sekali bahwa Gus Dur yang ingin disebut sebagai pahlawan kemanusiaan juga tidak menciptakan jarak antara dirinya dan penziarah. Semua bebas mampir dan mengucapkam salam kepada beliau dengan rasa egalitarian. Sama sepeti ketika beliau masih hidup dan bahkan ketika menjabat sebagai presiden.

Demikian kisa ziarah ke tiga makam presiden dengan tiga rasa yang berbeda.

Karang Anyar, Blitar, Jombang. 2018