Mohon tunggu...
Taufik Uieks
Taufik Uieks Mohon Tunggu... penulis buku dan suka jalan-jalan kemana saja

Hidup adalah sebuah perjalanan..Nikmati saja..

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Sumbang Mahram Dang Ayang di Brunei

2 Maret 2016   10:22 Diperbarui: 2 Maret 2016   10:55 1438 3 3 Mohon Tunggu...

[caption caption="dokpri"][/caption]

Bandar Seri Begawan, ibu kota negri Brunei Darussalam , walaupun hanya merupakan kota kecil yang kebetulan berstatus sebagai ibukota negara, namun banyak menyimpan banyak misteri dan kejutan. Kali ini misteri itu terletak tepat di pusat Bandar, demikian orang lokal menyebut nama kota yang sering juga disingkat BSB itu.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]

Pagi itu, saya berjalan dari Hotel Radisson, salah satu hotel di pusat Badar yang dulunya sempat bernama Hotel Sheraton Utama. Menyebrangi Jalan Tasek yang masih belum terlalu ramai lalu lintasnya dan menyusuri lapangan parkir yang ada di persimpangan Jalan Bendahara dan Jalan Sultan Omar Ali Syaifuddin.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Bangunan pertama yang ada di sebelah kanan adalah Royal Regalia Building yang dalam bahasa tempatan disebut “Bangunan Alat-alat Kebesaran Diraja”. Bangunan ini cukup ikonik dengan kubah besarnya yang megah terbuat dari marmer dan berkilauan di bawah tempaan sinar mentari pagi.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Dengan santai, Jalan Sultan Omar Syaifuddi dijelalahi di pagi itu. Tidak ada orang lain yang berjalan kaki di kaki lima yang lumayan lebar. Sementara di sebrang terlihat bangunan Lepau alias parlemen Brunei. Bangunan yang saya lewati adalah Pusat Sejarah Brunei yang berada di bawah naungan Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Perjalanan dilanjutkan menyebrangi Jalan Elizabeth II sampai ke Lapangan Sir Muda Ali Syaifuddin dengan Masjid Perahu tampak di kejauhan. Masjid yang dinamakan sesuai dengan nama Sultan ke 28 negri Brunei yang juga merupakan ayah dari Sultan Hassanal Bolkiah yang bertahta sekarang ini. Pesis di sebrang Lapangan ini terdapat Kantor Penerbangan Diraja Brunei atau Royal Brunei Airlines . Dari sini saya berjalan balik menuju ke arah lepau dan di sebrang jalan terlihat Pejabat Pos Besar atau Kanto Pos Brunei.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Namun tepat di sebrang kantor pos ada sebuah bangunan kecil yang walaupun selama ini sering saya lewati selalu luput dari perhatian. Sebuah bangunan bercungkup dan tepat di depannya ada prasasti bertuliskan Huruf Jawi Maqam Raja Ayang. Di Bawahnya ada tulian dalam Huruf Latin Makam Raja Ayang.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Wah siapakah yang dimakamkan di tempat ini? Tepat di tengah pusat kota Bandar Seri Begawan. Dengan penuh rasa penasaran, saya mendekati bangunan ini, Masuk ke halamannya yang hanya berpagar hijau setinggi sekitar 1 meter.  Bangunan utamanya diberi pagar setinggi satu setengah meter. Namun bangunan di dalamnya tetap dapat terlihat dengan jelas berupa pondok kecil berbentuk segi enam yang sekelilingya dilengkapi dengan jendela kaca yang cukup besar sehingga ruangan di dalamnya dapat dilihat dengan cukup jelas. Terlihat sepasang pusara sederhana yang terbuat dari batu.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Tepat di depan bangunan cungkup utama, ada lagi sebuah prasasti dari marmer berwarna hitam dan bertuliskan tinta emas dalam huruf Jawi, Melayu, dan Inggris. Dikisahkan dalam prasasti itu, sebuah kejadian yang sangat memilukan tentang Raja Ayang atau Dang Ayang. Menurut legenda Ia adalah seorang putri yang masih berdarah bangsawan dan hidup di abad ke 15 pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman. Sultan Sulaiman adalah Sultan Brunei yang kelima dan memerintah negri ini pada 1432 – 1485.
Raja Ayang diketahui melakukan sumbang mahram atau incest alias hubungan haram  dengan saudara sekandung yang dalam hukum Islam yang berlaku saat itu harus dihukum dengan rajam atau dilempari batu sampai mati. Namun karena tidak ada yang tega untuk melakukan hukum rajam, akhirnya hukuman untuk raja Ayang dan kekasihnya diganti dengan membuang mereka ke dalam sebuah gua di hutan.

Sementara ada juga versi lain yang mengatkan hanya Dang Ayang yang dibuang ke dalam gua. Mereka tetap diberi makanan dan melalui sebuah cerobong asap dapat ditentukan apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Setelah kira-kira lebih dari sebulan lamanya akhirnya tidak ada lagi asap yang keluar dari cerobong itu yang menandakan bahwa keduanya telah meninggal.
Hukuman ini terlihat kejam, namun menurut cerita, apa yang akan mereka terima di akhirat bisa lebih pedih dari hukuman yang diterima di dunia ini. Dan dengan menghukum seperti ini, maka Sultan Sulaiman masih mencoba bertindak adil terhadap mereka yang dianggap bersalah tanpa memandang latar belakang mereka baik orang umum maupun masih keluarga kerajaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN