Mohon tunggu...
Taufikson Abakian Julakian
Taufikson Abakian Julakian Mohon Tunggu... Mantan foto model yang terzalimi

Teramat sangat menyayangi Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Mencari Gaharu ke Kapuas Lintang

28 Januari 2020   16:23 Diperbarui: 28 Januari 2020   16:50 5 0 0 Mohon Tunggu...
Mencari Gaharu ke Kapuas Lintang
dokpri

Iseng-iseng membuka Google Maps.  Kucari tempat aku dulu pernah merambah hutan mencari gubal gaharu. Bersama ratusan orang lainnya. Yang terbagi dalam beberapa rombongan. Waktu itu tahun 1992. Pangkalan kerja kami bernama Habean. 

Di kamp itu berjejer dua puluhan pondok berdinding kulit kayu, beratap tenda biru. Lokasinya Sungai Kapuas bagian hulu. Terbaca titik koordinatnya 1.322955,114.015798. Perlu dua hari perjalanan long boat bermesin 40 PK untuk bisa sampai ke sana. Dihitung dari Nanga Bungan, pemukiman terakhir warga.

Esoknya kami berangkat mendaki Bukit Habean. Bismillah dimulai di belakang pemondokan. Terlebih dahulu kaos kaki panjang mirip yang dipakai Messi dan Ronaldo disemprot dengan racun serangga. Mengantisipasi serangan pacat yang menyusup ke dalam sepatu. Mengisap darah, menyelip di celah jari-jari kaki dan pangkal kuku.

Tiga hari berjalan kami baru menemukan rimba perawan. Prinsip mencari gaharu harus membuka daerah baru. Agar leluasa memilih dan bebas menebang. Bukan sisa pilihan rombongan yang sudah duluan. Di situlah kami mulai bekerja. Kata temanku yang sok tahu, tempat itu dinamai orang Kapuas Lintang.

Yaitu aliran sungai yang hanyutnya berlawanan arah dengan Kapuas di Pangkalan Habean. Tapi air masih tetap mengalir lewat di sana. Titik koordinat Kapuas Lintang itu 1.387366,113.993936. Tapi aku tak terlalu yakin dengan perkataan temanku. Sungguh itu di luar nalar. Dugaanku, air itu hanyut ke Kalimantan Timur. Dan dibenarkan oleh dua tiga orang teman. Dugaanku lagi, air itu hanyutnya ke Malaysia. Mereka juga membenarkannya. Kok semua dugaanku dibenarkan? Padahal aku ingin berdebat dengan sedikit pertengkaran.

Tak usah kalian resapi dukanya turun naik bukit berhari-hari. Terkadang merayap di tebing bersama beban perbekalan yang beratnya lebih 30 kilogram. Aku tak tega kalian ikut mengangis, setelah tertawa mendengar rakusnya kami melahap dua, bahkan tiga piring penuh nasi. Walaupun hanya berlauk sepotong ikan seluang goreng terasi. Tahu kan seberapa besar ikan seluang? Tak lebih dari jempol kalian yang bengkak akibat sering mengetik komentar, chatingan dan me-like postingan. Hanya secuil kan?

Kadang juga nasi hanya disirami minyak goreng merek Bimori. Namanya sengaja kupleset. Karena ini bukan iklan. Minyak goreng yang  populer ketika itu menjadi kuah dalam keadaan mentah maupun sudah jelantah. Sebab apapun campuran nasinya, makan di suasana rimba lahapnya tetap luar biasa. Kalau tidak memikirkan penghematan, ditambah sepiring lagi pun perut masih mampu menerima. Mungkinkah hantu-hantu rimba juga ikut duduk bersila, dan melahap makanannya?

Namun adakalanya juga kami menyantap makanan istimewa. Misalnya panggang semah. Yaitu ikan yang saat ini sekilonya berharga jutaan rupiah. Pernah juga berlauk kijang, pelanduk dan rusa. Karena di antara kami ada yang sigap memasang perangkap, bergiat membuat jerat.

Selain nikmat perut, mata dan telinga juga kebagian suka. Indahnya pemandangan air terjun yang gemuruhnya disahut ributnya kicauan aneka burung. Pantaslah kalau lisan memuji kebesaran Yang Mencipta. Subhanallah!

Yang kuingat ketika itu, aku kaget mendengar ada mesin menderu. Dari kejauhan, setelah di atas bukit, pakai memanjat pohon lagi, aku dan seorang temanku menyaksikan kendaraan berat mengangkut kayu. Diduga kuat kami berada di wilayah perbatasan. Bila benar, perusahaan kayu yang beraktivitas itu pasti dari negara tetangga. Yaitu Malaysia. Karena bermental terasi, sebab belum cukup dewasa, kami memilih menjaga jarak. Tak berani mendekat. Padahal bila sedikit gaul, tentu tak lagi berjalan kaki tiga hari membawa puluhan kilogram bekal dengan cara dipanggul.

Di Google Maps kutemukan posisi itu. Berdekatan dengan titik koordinat tempat dulu aku menatap lugu. Benar! Terpantau banyak jalan-jalan blok yang berwarna kuning merayap menghiasi lapak peta. Pasti itu jalan untuk mengangkut kayu. Tentulah milik salah satu perusahaan yang beroperasi di situ. Pasti atas izin pemerintahan Malaysia. Karena berada di wilayah negaranya.

Yang dikhawatirkan bila mereka keliru membaca peta. Sehingga tak sengaja mencabut pohon kita sebatang dua. Misalnya seperti yang ditulis Liputan 6 tentang helikopter yang diduga menjarah kayu. Bisa jadi kita harus bersikap seperti dengan China di Natuna.

Demikianlah negara tetangga mengeksploitasi hutannya yang berdekatan dengan perbatasan. Itu hak mereka yang punya kedaulatan. Kontras sekali dengan hutan di wilayah kita. Yang masih hijau dan terjaga. Seolah tak bermanfaat dan berdayaguna. Kecuali dijadikan Taman Nasional. Itupun untuk kepentingan internasional. Kepentingan bersama seluruh bangsa. Hamparan hutan kita disanjung sebagai produsen oksigen dunia. Istilahnya hutan konservasi. Seberapa besar sih Indonesia mendapat kompensasi?

Di peta kutemukan juga sungai yang hanyutnya berlawanan. Benarlah! Saat itu aku masih berada di wilayah tanah airku. Indonesia. Sungai yang dulu aku pernah uuk dan cebok di situ memang masih hanyut ke Pontianak juga. Sebagai bagian dari Sungai Kapuas kita. Yang masih mandi cuci di sungai aemsoriya! Soalnya temanku yang sok tau itu benar. Terserah namanya Kapuas Lintang.

VIDEO PILIHAN