Mohon tunggu...
Taufik Eko Susilo
Taufik Eko Susilo Mohon Tunggu...

Akademisi | Assisten Dosen | Peneliti Muda

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Romantisme Kakak Beradik di Bulan Oktober Tahun 1965

7 Oktober 2012   23:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:06 428 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Romantisme Kakak Beradik di Bulan Oktober Tahun 1965
13496531641121952146

Suasana keheningan menyelimuti keluarga Bindra siang itu, hari ini Bindra bersama keluarga besar lainnya sedang berziarah ke makam kedua orang tua mereka, Galan dan Siti. Ikut pula ketiga adik Bindra bersama keluarga masing-masing , mereka adalah Isdin, Iput, dan Icit. Mereka berdoa untuk kelapangan kubur kedua orang tua mereka.

Bulan ini merupakan kelam dalam sejarah Indonesia  47 tahun yang lalu. Pemberontakan G30SPKI mengancam konstitusi Indonesia menjadi berhasil di tumpas oleh sang Mayjen. Semua atribut yang bergambarkan palu dan arit di cap sebagai komunis, musuh bangsa.  Dalam tempo beberapa saat, semua anggota dan massa PKI berhasil di tumpas. Negara terselamatkan.

Hiruk-pikuk di ibu kota tidak serta-merta dimengerti oleh berbagai orang di daerah. Terutama daerah pelosok. Galan merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara. Saat ini Galan sudah beristri. Siti namanya, Gadis desa seberang yang ia nikahi 7 tahun yang lalu. Sekarang mereka sudah memiliki 3 anak. Sedangkan Icit masih dalam kandungan.

Galan yang kesehariannya sebagai petani mempunyai kehidupan yang sederhana. Walaupun bertampang lumayan untuk ukuran desa. Tidak serta merta membuat Galan menjadi pria yang suka mempermainkan wanita. Pilihannya jatuh pada Siti yang usianya 5 tahun lebih tua dibandingkan dirinya.

Tahun itu masih euforia kemerdekaan dengan silih berganti sistem pemerintahan. Masyarakat desa yang tidak mengerti masalah hal demikian membuat mereka sedikit apatis terhadap masalah nasional. Mereka hanya mengetahui bahwasanya presiden negeri ini adalah Soekarno.

Keapatisan masyarakat desa tidak ada diri dalam Hamsir, anak no. 3 yang merupakan kakak kandung dari Galan. Hamsir yang mempunyai jiwa berfikir kritis merupakan pemuda yang tidak biasanya pada kebiasaan masyarakat desa pada waktu itu. Hamsir berpikir bagaimana bisa bermanfaat pada negeri ini. Demi memenuhi keingintahuannya, Hamsir muda berangkat ke kota untuk mencari pengalaman.

Galan yang merupakan adik kandung dari Hamsir merasa sedikit sedih karena di tinggal oleh kakaknya sendiri. Tak lama kemudian terdengar kabar bahwasanya Hamsir sudah bergabung dengan partai politik. Partai politik besar di tahun 60an. Seluruh keluarga besar tidak mengeluarkan respons apa-apa. Mereka tetap apatis.

Tujuh bulan kemudian Hamsir pulang ke desa untuk memberi kabar bahwasanya akan ada perombakan dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Syaratnya tidak banyak mereka cukup di bekali palu dan arit serta bendera merah bergambarkan palu dan arit pula. Masyarakat desa yang terbuai dengan janji pemerintah pada saat itu terluap dengan euforia akan harapan baru menuju kesejahteraan yang lebih baik.

[caption id="attachment_216846" align="aligncenter" width="360" caption="sumber : metatron13.blogspot.com"][/caption]

Hamsir mengatakan bagi siapa yang ingin bergabung mereka adalah pengikut Soekarno. Pemimpin bangsa Indonesia. Mendengar nama Soekarno, para masyarakat desa bergidik. Semua mengangguk takzim. Seluruh masyarakat desa mengamini perkataan Hamsir. Bagi mereka, Hamsir adalah sosok Soekarno yang mereka sanjung selama ini.

Di akhir bulan September tahun 1965, pemberontakan PKI meletus. Masyarakat desa tetap dalam rutinitas sehari-hari tanpa mengetahui huru-hara yang terjadi di ibu kota negara ini. Bulan Oktober 1965, para tentara berbaju loreng masuk desa. Para warga desa menyambut suka cita, mereka beranggapan Soekarno akan datang. Tentara-tentara pun tetap berjalan tegap, hening, dan tapa bergeming.

Suasana suka cita yang awalnya pun langsung berubah menjadi tangis. Para tentara yang semulanya disambut oleh warga malah menerobos masuk ke dalam rumah warga. Seluruh warga panik, para tentara membentak-bentak para warga dan bertanya “kalian PKI ya ? kalau tidak dari mana kalian dapat bendera ini ?”

[caption id="attachment_216845" align="aligncenter" width="320" caption="sumber : lakulintang.wordpress.com"]

13496531201812724117
13496531201812724117
[/caption]

Bindra yang merupakan anak tertua dari Galan berlari ke sawah memanggil bapaknya. Galan pun bertanya gerangan apa yang terjadi. Setelah diberi penjelasan dengan menangis, Galan dan Bindra berlari menuju desa. Terlihat di balai desa semua warga sudah bertekuk lutut dan tangan di atas kepala.

Para tentara tidak mengeluarkan senjata. Mereka hanya mengeluarkan pukulan dan tendangan kepada warga yang tidak menjawab pertanyaan dari tentara. Para prajurit itu hanya bertanya dari mana mereka mendapatkan bendera merah palu dan arit. Semua tidak menjawab, mereka takut akan keselamatan diri masing-masing. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berujar, “itu bendera dari Hamsir. Warga kami yang sudah merantau di kota seberang”.

Seorang pria berkumis, berbaju berbeda dibandingkan tentara lainnya mengepalkan tangannya. Lalu bertanya kepada warga yang berujar tadi. “kamu tahu siapa Hamsir, di mana ia sekarang ?” tanya Komandan pasukan tersebut.

Siti yang mengatakan perkataan kepada para tentara menyadari perbuatannya salah. Ia salah telah membongkar identitas kakak iparnya sendiri. Siti semakin pucat pasi.

“pak tentara, saya Hamsir yang kalian cari”. Seluruh warga terhentak mencari sumber suara. Bindra yang di sebelah suara pria tersebut memegang erat-erat kaki ayahnya. Seluruh warga menyayangkan pengakuan palsu Galan. Galan yang tenang maju perlahan, sekejap tentara membekapnya dan menggelandangkannya. Bindra yang diambil oleh Siti semakin meraung-raung saat Ayahnya di tangkap oleh tentara. Sebelum di masukkan dalam mobil, Galan tersenyum simpul kepada BIndra mengisyaratkan semua akan baik-baik saja nak. Tapi bagi Bindra, ia mempunyai firasat bahwa tadi merupakan senyum terakhir yang ia lihat dari ayahnya.

Para tentara perlahan keluar meninggalkan desa yang sudah di porak-porandakan. Sebagian besar warga menyimpan amarah kepada Siti karena telah membeberkan identitas dari Kakak Iparnya yang menyebabkan suaminya sendiri di tangkap oleh tentara. Siti menangis semalam sembari mengelus-elus perutnya yang sudah semakin membesar.

Pasca penangkapan Galan, seluruh keluarga besar berunding. Yang tidak tampak hanyalah Hamsir. Sedangkan kelima saudara dari Galan mendiskusikan bagaimana caranya bisa menebus agar Galan bisa bebas. Menurut kabar memang Galan masih di tahan dalam proses pemeriksaan. Sulai yang merupakan kakak pertama dari Galan menghubungi paman dari Istrinya yang merupakan tokoh berpengaruh di kota seberang. Dari hasil diskusi Sulai dengan pamannya, Galan bisa di tebus dengan jaminan berupa uang, tanah, ataupun harta lainnya. Keluarga pun berdiskusi lagi.

Bindra, Isdin, dan Iput berlari-lari sambil tertawa di halaman depan, mereka belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sementara di dalam rumah, Sulai yang memimpin pembicaraan membujuk Siti untuk menjual sawah dan kebun kopi mereka kepada para tentara. Siti tidak bergeming.

Tak lama kemudian Siti menjawab, “aku tak mau menjualnya da, biarlah abang di penjara sana asalkan anak-anakku tidak melarat”.

Sontak saja mendengar jawaban Siti, Sulai naik pitam. Ingin rasanya ia menampar muka adik iparnya itu. Namun rasa iba menyelimutinya sekejap. Saudara yang lain pun menenangkan Sulai.

“bukan karena apa da, walaupun kita sudah menebusnya saya yakin abang tidak akan dikembalikan oleh mereka. Ini hanya jebakan biar mereka dapat duit saja.”

Lanjut Situ menjelaskan kepada keluarga lainnya. keluarga pun menerima dengan masuk akal dan mengangguk tanda setuju kepada Siti. Sedangkan di situasi lainnya Hamsir masih menyembunyikan dirinya dari keluarga. Ia tak menunjukkan batang hidungnya sedikit pun.

Waktu terus berlalu beberapa bulan. Desember 1965, Sulai berangkat ke kota seberang sekedar ingin menjenguk dari adiknya tersebut. Hasil nihil yang ia dapat, Galan sudah di bawa tentara ke provinsi seberang. Galan di pertemukan dengan para orang-orang berbendera palu arit bersama. Sejak saat itu, Galan tidak diketahui lagi keberadaannya.

Sulai pulang ke desa dengan tangan hampa dan memberitahukan kabar ini kepada keluarga lainnya. Terutama kepada Siti yang sedang mengandung 8 bulan. Siti hanya bungkam dan tersenyum kepada Sulai tanda terima kasih karena sudah diberikan kabar.

Satu Minggu kemudian, Hamsir pulang ke desa dengan pakaian compang-camping. Iput yang melihat pamannya baru pulang dengan pakaian seperti itu berlari ketakutan. Iput seperti melihat ayahnya dengan pakaian compang-camping. Hamsir dan Ganal bagaikan saudara kembar, lagi pula usia mereka hanya terpaut 1 tahun. Siti yang melihat Hamsir awalnya sempat melihat percaya bahwa suaminya pulang. Namun sontak tangisan keras oleh Siti. Para tetangga yang mendengar tangisan Siti langsung keluar dari rumah masing-masing. Mereka sadar Galan telah tiada dan Hamsir kembali ke desa.

Sulai yang mengetahui adiknya kembali langsung menemui Hamsir. Hamsir pun disambut tangisan oleh saudara-saudara lainnya. Seketika Hamsir sudah mulai sadar, ia bertanya ke manakah Galan ? yang lain hanya diam. Suaib, saudara paling bungsu dari tujuh bersaudara ini berbisik pelan kepada Hamsir. Suaib menceritakan kronologinya kepada Hamsir. Tak terasa air mata Hamsir menetes. Ia merasakan rindu yang mendalam kepada adik kandungnya tersebut. Selain kemiripan wajah, Hamsir dan Galan merupakan merupakan kakak beradik yang paling akrab di antara saudara-saudara lainnya. Ingatannya kembali saat mereka masih kecil dulu. Hamsir selalu membela adiknya saat Galan di permainkan oleh anak-anak desa lainnya. Hamsirlah pembela Galan saat mereka masih kanak-kanak. Sering kali Hamsir mengajak adiknya untuk bolos sekolah demi memancing ikan di sungai.

Tapi semuanya sudah terlambat, data yang terekam oleh tentara oleh saat itu adalah Hamsir adalah PKI. Dan Hamsir yang mereka tangkap adalah Galan.

Waktu terus berjalan. Pasca kejadian Oktober 1965 tersebut, kehidupan ekonomi keluarga Siti semakin memburuk. Hanya saja Siti masih terselamatkan oleh sokongan keluarga-keluarga lainnya. Bindra menyadari bahwa ia merupakan tumpuan keluarga saat ini memutuskan untuk putus sekolah. Ia memilih untuk menggarap ladang di sawah. Isdin kecil di ajak oleh Suaib untuk merantau di desa seberang. Sesekali Isdin pulang ke desanya untuk menjenguk Ibunya, Iput, dan Icit yang sudah lahir.

Tiga puluh tahun kemudian, Mayor Jenderal yang dahulu begitu santer namanya turun dari kekuasaannya. Para aktivis bersorak  gembira akan kemenangan yang mereka raih. Euforia kemenangan di ibu kota tidak berpengaruh kepada masyarakat desa Siti. Mereka tetap rutinitas dengan keapatisan terhadap masalah nasional.

Sesekali Icit menemui kakaknya, Bindra yang kini menjadi carik desa. Ikut pula Isdin dan Iput yang menemui kakaknya. Di antara ketiga saudara lainnya, Icit memang sedikit berkecukupan. Namun hal itu tidak serta merta membuatnya lupa akan Bindra yang telah menghidupinya selama ini. Maklum sejak itu Bindra menjadi tulang punggung keluarga. Icit memang dibesarkan tanpa seorang ayah, tidak jarang pula ia mendengar ejekan dari teman-temannya dulu di desa bahwasanya ia anak PKI. Namun bagi Icit, Bindra kakaknya adalah sosok ayah bagi dirinya. Sedangkan ayah mereka sendiri merupakan korban ketidaktahuan masyarakat desa akan kondisi politik negara saat itu. Dan ayah mereka hanya mengorbankan dirinya untuk keselamatan kakaknya sendiri.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x