Mohon tunggu...
Tarsy Asmat
Tarsy Asmat Mohon Tunggu... lainnya -

Suka membaca buku, olahraga. perhatian pada kerarifan lokal dan filosofi dalam budaya masyarakat.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Retorika Data dan Kekuasaan

19 Januari 2019   13:27 Diperbarui: 19 Januari 2019   16:23 359
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Analisis Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Debat putaran pertama (17/01) Capres-cawapres yang akan bertarung pada pilpres mendatang, tampak monoton dan kurang menggairahkan nalar publik. Nalar publik yang banjir dengan hoax dan narasi liar memang perlu mendapat kepastian dan pencerahan dari panggung perdebatan ini. 

Akumulasi dari pertarungan isu dan narasi politik yang diproduksi secara massal tanpa memperhatikan fakta dan otoritas keilmuan berkelindan liar di Media Sosial telah menempatkan masyarakat pada "ruang tunggu"untuk menanti pencerahan dan kepastian pengetahuan dan pemahaman yang utuh tentang persoalan bangsa. 

Sayangnya dalam perdebatan 17/01/19 kemarin, saya menyimak kedua kubu masih mengurung harapan pencerahan itu.  Ide dan gagasan pencerahan belum dikeluarkan oleh para paslon. 

Retorika

Semakin canggihnya nalar berdemokrasi menentukan dan memperkembangan nalar masyarakat terhadap situasi politik. Dengan demikian pula menuntut para politisi untuk menguasai retorika. 

Retorika dan kekuasaan memang setali tiga uang. Namun retorika tidak sama dengan asal seni merangkai kata dan berargumentasi yang memikat semata. Tetapi retorika ialah seni berbicara, berargumentasi, evokatif dan mengendalikan bahkan mengubah persepsi audiens. 

Tuntutan transparansi yang menjadi semangat perkembangan teknologi mestinya ikut memengaruhi para politisi untuk seni berbicara dan memikat simpati publik.

Namun dijaman sekarang retorika tidak sebatas seni berpidato, tetapi seni merangkaikan fakta, data yang sudah dikuantifikasi, program politik yang aplikatif, kalkulatif dalam target serta pencapaiannya, itulah yang diharapkan dan memikat banyak masyarakat yang telah disengat hoaks. Seni semacam ini memadukan data, fakta dan seni berkomunikasi yang luwes, sungguh dinanti-nantikan oleh publik. 

Karena itu masing-masing capres, cawapres, perlu membenah diri pada debat putaran berikutnya agar menyajikan suatu paradigma kepemimpinan yang berkualitas, menawarkan solusi kemajuan, program yang terukur serta visioner kemajuan demi keselamatan dan kemajuan negara dan bangsa yang tercinta ini. 

Pencerahan

Seperti kita semua tahu, hoaks telah menenggelamkan negara suriah yang berdaulat menjadi palagan pertumpahan darah antara warganya sudah semestinya pembelajaran bagi negara kita ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun