Tareq Albana
Tareq Albana Mahasiswa

Pejuang Literasi || Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Mesir. Jurusan Islamic Theology || Bekerja sebagai Reporter dan Penyiar Radio PPI Dunia.

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama

Rahmah El-Yunusiyah, Wanita Minang yang Menginspirasi Rakyat Mesir

21 April 2018   16:51 Diperbarui: 22 April 2018   10:01 2132 3 1
Rahmah El-Yunusiyah, Wanita Minang yang Menginspirasi Rakyat Mesir
Rahmah El-Yunusiyyah (Sumber; www.diniyahputri.org)

Sejak kemarin saya melihat di berbagai media massa tentang peringatan hari lahir Kartini, mulai dari media online hingga media cetak. 

Ribuan cetak poster dengan gambar lukisannya pun disebar, tak ketinggalan kata-kata fenomenalnya yang dijadikan judul buku Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang". Kata-kata ini sangatlah mengakar di benak rakyat Indonesia.

Sudah jamak diketahui mengenai sepak terjang Kartini dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan gagasan kebangsaan yang dimilikinya. Dengan saling bertukar surat dengan seorang temannya di Belanda.

Kartini terinspirasi untuk meningkatkan wibawa dan pendidikan kaum wanita yang terbelakang di zaman itu. Sehingga Kartini berjuang mendirikan sekolah yang dikhususkan untuk kaum wanita, dan kemudian terkenal dengan nama "Sekolah Kartini"

Sebenarnya pada zaman itu sangatlah banyak para pahlawan wanita lain nya yang berjuang untuk kaum wanita, karena memang pada awal tahun 1900 topik kesetaraan kaum wanita sedang menjadi perbincangan berbagai kalangan, sehingga timbullah berbagai gerakan dari kaum wanita. Di antaranya ada Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan Rahmah EL-Yunusiyyah.

Sehingga tidak adil rasanya jika kita hanya mengenal jasa-jasa Kartini saja, karena jasa pejuang wanita lain nya juga tidak bisa diremehkan dan bahkan jasa mereka berpengaruh kepada dunia Internasional. Salah satunya ialah Rahmah El-Yunusiyyah, Wanita Indonesia yang menginspirasi rakyat Mesir.

baca juga:4 Sifat Orang Indonesia Yang Bikin Orang Mesir Takjub

Mungkin sedikit orang yang mengetahui, bahwa tidak hanya Kartini saja yang berjuang dengan mendirikan sekolah untuk kaum wanita. Nun jauh di sana, lebih tepatnya di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat ada seorang wanita yang alim dan juga memilki kesadaran yang sama untuk meningkatkan derajat wanita khusus nya di bidang pendidikan.

Rahmah El-Yunusiyyah, guru besar muslimah dunia
Rahmah El-Yunusiyyah nama nya, seorang wanita yang lahir dari keluarga terpelajar dan religius yang lahir pada 29 Desember tahun 1900. Rahmah adalah seorang pahlawan kemerdekaan yang juga membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang dalam Revolusi Nasional melawan penjajah Belanda dan Sekutu.

Awal dari perjuangan Rahmah sebenarnya bukanlah dari medan perang, melainkan dari pondok pesantren. Rahmah kecil adalah seorang wanita tekun belajar dan mendalami agama Islam, beliau belajar di Sekolah Diniyyah School yang dipimpin oleh abangnya Zainuddin Labay El-Yunusiy.

Dalam menuntut Ilmu, Tak jarang beliau menemui ulaman terkemuka Minangkabau untuk belajar dari mereka, walaupun dahulunya wanita dikenal tidak lazim dalam mempelajari ilmu agama, apalagi dari para ulama besar. 

Namun itulah kelebihan Rahmah yang tidak dimiliki wanita seusianya. Beliau memiliki pandangan yang luas ke depan terhadap perjuangan umat wanita dalam agama dan negara.

Kesadaran Rahmah dalam perjuangan kaum wanita
Beliau memiliki gagasan yang visioner dalam membela martabat kaum wanita. Di saat yang bersamaan Rahmah juga melihat bahwa wanita harus mendapatkan pendidikan agama untuk mendidik generasi Islam. Apalagi di dalam Islam, wanita adalah madrasatul ula bagi anak-anaknya. Sehingga jika ingin melahirkan generasi yang hebat, maka dimulai dari mendidik para wanita.

Karena lahirnya ulama besar seperti Imam AL-Ghazali, Imam Nawawi dan Imam Syafi'I tak terlepas dari peranan ibu yang telah mendidik dan membesarkan mereka sehingga menjadikan mereka sebagai generasi terbaik di zamannya.

Atas kesadaran itulah, Rahmah bersama dua orang temannya Siti Nansia dan Djawana Basyir mendirikan sekolah agama yang dikhususkan untuk wanita dan dinamakan Madrasah Lil Banat yang merupakan bagian dari diniyyah school yang dipimpin abang nya.

Di dalam sekolah khusus wanita tersebut, Rahmah mulai mengajar berbagai disiplin ilmu dan yang utamanya ialah pendidikan Islam yang diajarkan kepada wanita yang terdiri dari ibu-ibu, remaja dan lansia.

Namun lama kelamaan Rahmah mulai berpikir untuk membangun sekolah putri yang berdiri sendiri. Hal itulah yang membuatnya berani mengungkapkan kepada Zainuddin Labay El-Yunusiyy yang dikutip oleh Juniadatul Munawwara di dalam bukunya "Ulama Perempuan Indonesia".

"Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum wanita akan tetap terbelakang. Saya harus mulai dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika kakanda bisa, kenapa saya tidak bisa? Jika pria bisa, kenapa perempuan tidak bisa?"

-Rahmah kepada Zainuddin

Rintangan dalam perjuangannya
Sejak saat itulah Rahmah mulai merintis sekolah perempuan pertama yang berbasis Islam dan dinamakan Diniyyah Putri School. Namun perjalanan sekolah ini tidak lah mulus, satu persatu rintangan dihadapi oleh Rahmah dalam mengemban misi mulia nya mendidik para wanita Islam.

Mulai dari kematian abangnya yang membuat Rahmah sedih dan kehilangan pegangan dalam berjuang hingga peristiwa gempa bumi besar dan menghancurkan sekolah Diniyyah Putri School dan menewaskan satu guru terbaiknya, Nanisah karena tertimpa bangunan.

Namun satu persatu rintangan dihadapi oleh Rahmah dan muridnya hingga bisa kembali membangun Diniyyah Putri School dan berkembang hingga memiliki 500 murid di tahun 1940-an. 

Diniyyah Putri School memberikan dampak positif kepada masyarakat Sumatra barat kala itu, bahkan salah seorang sejarawan mengatakan "Jika anda melihat ada perempuan yang memakai baju kurung dan jilbab lebar, maka dia adalah murid Rahmah El-Yunusiyyah"

Sepak terjang Rahmah tidak hanya menginspirasi rakyat Indonesia, lebih dari itu Rahmah ternyata juga menginspirasi Rakyat Mesir dan Universitas AL-Azhar dalam mengembangkan pendidikan khusus untuk wanita. Karena pada saat itu, walau memiliki puluhan universitas besar, Mesir belum memiliki lembaga pendidikan Islam khusus wanita

Kunjungan dan pujian Rektor Al-Azhar Mesir
Pengaruh Diniyyah Putri School terhadap rakyat Mesir semakin diakui ketika kedatangan Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, Abdurrahman Taj ke Diniyyah Putri tahun 1955 dan saat itu Rektor tersebut sangat kagum dengan sistem dan inovasi pendidikan khusus untuk perempuan. Universitas Al-Azhar itu sendiri adalah Universitas tertua di dunia yang berumur 1000 tahun lebih dan melahirkan berbagai ulama dan penerima Nobel.

Baca juga; 4 Fakta Unik Dosen Al-Azhar Yang Harus Kamu Ketahui

Universitas Al-Azhar hingga tahun 1955 belum memiliki cabang pendidikan Islam yang khusus mendidik para perempuan, walaupun ada Cairo Univeristy dan Alexandria University, namun 2 univeristas ini bukanlah yang konsen di bidang pendidikan agama Islam.

Sehingga dengan kedatangan bersejarah Rektor Al Azhar ke Diniyyah Putri School, menginspirasi masyarakat Mesir dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam khusus untuk wanita. Puncaknya saat Al Azhar mendirikan Kuliyyah Banat (Kuliah Khusus Perempuan) berkat inovasi Rahmah El-Yunusiyyah yang masih eksis hingga hari ini.

Foto: Blog.umy.ac.id
Foto: Blog.umy.ac.id

Penobatan Syeikhah, gelar tertinggi Al-Azhar untuk muslimah dunia
Rahmah adalah contoh wanita Indonesia yang menjadi inspirator bangsa dan dunia dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya di bidang pendidikan. Atas jasa-jasanya, saat ini telah berdiri ribuan sekolah islam khusus putri dan melahirkan jutaan wanita muslim yang paham dengan agamanya dan menjadi ahli di berbagai bidang keilmuan.

Saya berani mengatakan bahwa pengaruh dari gagasan Rahmah El-Yunusiiyah jauh lebih besar dibandingkan dengan Kartini, namun keduanya adalah tokoh yang sama-sama bergerak dalam membela kaum wanita sehingga sudah sepatutnya kita mensyukuri perjuangan mereka.

Hamka di dalam bukunya, "Islam dan Adat Minangkabau" menyatakan bahwa Rahmah adalah pelopor pendidikan Islam wanita bagi Indonesia dan Minangkabau. Begitu juga Azyumardi Azra meyakini bahwa pergerakan muslimah Indonesia saat ini tidak bisa dilepaskan dengan jasa beliau sebagai perintis.

Atas jasa-jasa beliau, Universitas Al-Azhar Mesir memberikan gelar "Syaikhah" yang merupakan gelar tertinggi yang diberikan Al-Azhar kepada wanita. dan Rahmah El-Yunusiyyah adalah wanita pertama di dunia yang mendapatkan gelar tersebut.

Pengaruh Rahmah yang terasa hingga ke mancanegara patut membuat kita berbangga, karena kualitas dan peran wanita muslimah di Indonesia tidak bisa diremehkan. Sudah seharusnya bagi kita untuk selalu mengenang dan menjadikan nya sebagai motivasi dalam memajukan bangsa ini.

Selamat Hari Kartini untuk wanita Indonesia!

Tareq Albana, Kairo Mesir.