Mohon tunggu...
Taqyuddin Ibnu Syafii
Taqyuddin Ibnu Syafii Mohon Tunggu... Penulis

penulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Literasi, Budaya Ilmuwan Lintas Generasi

30 November 2020   15:18 Diperbarui: 30 November 2020   15:20 23 1 1 Mohon Tunggu...

Suatu ketika seorang dosen di kampus kami pernah melontarkan kalimat yang begitu menghunjam, yakni jika kau hendak mengenal dunia maka membacalah, namun jika dunia ingin mengenalmu maka menulislah. 

Kata-kata ini seolah menjadi falsafah hidup seorang penuntut ilmu bahwa jalan hidup mereka hanya ada dua : membaca dan menulis. Dengan menulis buku, seseorang sudah mendaftarkan diri pada sang waktu untuk hidup abadi.

Islam amat menganjurkan umatnya untuk belajar, belajar, dan belajar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan menegaskan bahwa barang siapa yang bepergian menuntut ilmu maka dia berada fii sabiilillah (di jalan Allah) sampai dia kembali pulang. 

Kata fii sabiilillah yang notabene sering dipakai dalam konteks jihad fisik ternyata disandingkan dengan konteks menuntut ilmu. Sehingga maknanya menjadi luas yang awalnya hanya bermakna berperang secara fisik untuk mempertahankan agama Allah, menjadi jihad yang meliputi segala pergerakan dan segenap usaha yang dikerjakan karena Allah dan semata mengharap keridhaan-Nya.

Dari konteks yang lebih universal itulah, orang-orang muslim terdahulu berlomba-lomba untuk mencapai grade tertinggi dalam tingkatan keilmuan. Semangat itulah yang menjadikan mereka imam-imam terkenal: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad menjadi rujukan utama umat muslim sekarang. 

Semua itu tidak lain karena banyak karya-karya mereka yang tertuang dalam kitab-kitab dari berbagai macam funun bidang-bidang ilmu seperti: Hadits, Fiqih, Ushul Fiqh, dan  lainnya, baik kitab yang ditulis sendiri maupun yang ditulis oleh murid-murid mereka. 

Maka pantas kalau para ulama disebut sebagai waratsatul anbiya, yaitu mereka yang mewarisi ilmu-ilmu kenabian dan menjadi penghubung antara generasi periode awal (salaf) dengan generasi periode akhir (khalaf).

Literasi bagi para ulama tidak hanya menjadi media dakwah bagi kaum muslimin saja, tetapi juga kepada agama-agama lain. Para cendekiawan muslim seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd ternyata sangat menginspirasi bangsa barat ketika itu. 

Banyak dari mereka yang dijadikan tokoh-tokoh keilmuan di bidang kedokteran, filsafat, sosiologi, dan bidang lainnya, sehingga membantu sarjana-sarjana barat untuk membangun peradaban mereka yang tengah terpuruk sampai kepada kemajuan hebat yang mereka rasakan sekarang.

Melalui literasi seluruh hasil gagasan, karya, dan peristiwa dapat dilestarikan. Betapa mudahnya seseorang terpengaruh dengan sebuah ideologi hanya karena membaca buku. 

Betapa mudah kita berwisata lintas waktu dengan hanya menelaah buku-buku sejarah dan sirah nabawiyah di masa lalu. Kapanpun dan dimanapun kita bisa membaca. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x