Mohon tunggu...
Tony Herdianto
Tony Herdianto Mohon Tunggu... Suka kopi dan jajanan

saya senang membaca dan sedang belajar menulis . senang menanam pohon atau kembang . mendengarkan musik . mencoba selaras dengan alam menyatu secara harmoni.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tiga Negara Corona dan Koen Ojok Koyok Bosmu

14 Mei 2020   17:09 Diperbarui: 14 Mei 2020   17:15 17 4 2 Mohon Tunggu...

Pada masa sekarang ketika sebuah virus sanggup menghegemoni hajat hidup manusia. Dan terpaksa hidup damai berdampingan padahal dampaknya luar biasa. Saya kemudian bertamasya ketika pada suatu jaman berdiri tiga negara dalam satu wilayah.

Masing-masing negara memiliki jumlah pasukan yang besar dan kuat. Namun yang keluar jadi pemenang adalah yang terkuat. Nah konteks ini ditarik ke jaman sekarang. Siapa pemenang perang ? jelas mereka yang kuat secara ekonomi dan jaringan sebagai pemenang sementara.

Disaat virus ini butuh penanganan lebih masih ada jalan lain yang bisa ditempuh. Bagaimana memperbaiki kekebalan tubuh terhadap "virus" yang katanya baru ini. Jawaban tidak segera ditemukan namun mereka yang meregang bergelimpangan. Menarik bahwa rempah-rempah nusantara mendapat perhatian sangat tinggi. Kandungan alami dipercaya sanggup menambah daya tahan terhadap virus.

Ini tentu saja peluang sekaligus tantangan jika dikelola lebih baik maka rempah-rempah nusantara akan semakin menarik. Kajian ilmiah tetap diperlukan sembari mencari penangkal virus. Dus dengan begitu seiring waktu hidup manusia akan nampak seperti biasa sekalipun dikepung dari berbagai sisi oleh virus.

Paradigma baru hidup ditengah wabah yaitu mengurangi kegiatan diluar rumah. Seperti mudah dalam konsep namun amburadul dalam pelaksanaannya. Berita hangat hangat tahi ayam pemerintah berusaha melonggarkan kebijakan terkait pembatasan berskala besar. Bagaimana dengan mereka yang berjibaku dengan virus ini sejak awal?. Tidak segera terjawab namun penuh cemas dan was was.

Sayup-sayup terdengar suara dari langit ( rumour of angels ) virus ini akan sirna dengan sendirinya ketika muncul bintang tsuroya. Ini belum bisa dikaji secara ilmiah namun berharap akan datangnya keajaiban dari langit bukan hal yang tabu.

Bahkan dipasar tempat saya berdagang para bakul terutama para ibu sedikit dongkol soal sanak saudara yang tak bebas berkunjung. Tiba tiba datang agen barang dagangan mendatangi salah satu pedagang sambil bersikap sedikit kurang ajar. Tentu saja ibu pedagang sedikit meradang "koen ojok koyok Bosmu!". Pasar sedang kurang gairah jangan terlalu menekan. Begitu kira-kira deskripsi bebas atas keadaan ibu pedagang agar ada pelonggaran pembayaran saat wabah masih berlangsung.

Ya ini situasi nyata tanpa simulasi bahwa mereka pelaku pasar mengalami penurunan pendapatan bahkan sebelum wabah datang.
Diseberang samudra sana kekuatan raksasa sedang gelar senjata dan pasukan. Kita disini jadi penonton yang baik saja sambil berharap wabah segera berlalu. Ini akan membantu sedikit lega untuk bernafas di tengah kepungan gelombang kapitalisme neoliberal. Barangkali ada juga negara yang mau hibah kapal perangnya buat menjaga daripada penangkapan ilegal dilaut teritorial maupun ZEE Indonesia. Ini lebih penting agar roda perekonomian Indonesia lebih baik dari saat sekarang.

Maka menjadi superior sangat dibutuhkan apalagi ditengah wabah yang sungguh dahsyat. Inferioritas hanya jadi hambatan ditengah gojag gajeg pengambilan keputusan. Memang itulah buah simalakama dalam keadaan darurat.

VIDEO PILIHAN