Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Media

Ramai-ramai ke Steemit

21 Januari 2018   05:28 Diperbarui: 21 Januari 2018   11:08 361 0 0
Ramai-ramai ke Steemit
Doc. Pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Dulu, ketika media online masih belum ada dan berkembang seperti sekarang, orang-orang yang tergolong intelektual, yang kreatif menulis dan berkarya tulis seperti menggubah puisi, cerita pendek, cerita bersambung, artikel dan segalanya, mengirimkan karya tulis dan lainnya ke media cetak, seperti surat kabar, majalah dan media cetak lainnya. Artinya, media cetak adalah tempat menyalurkan segala hasil karya, terutama karya tulis seperti artikel, essay atau opini. Begitu pula dengan karya lainnya. 

Tentu untuk memuat tulisan di media cetak tersebut tidaklah gampang atau mudah, karena di samping jumlhanya tidak banyak, juga halaman atau ruang yang tersedia juga sedikit, Misalnya untuk halaman opini di sebuah surat kabar harian paling banyak bisa memuat 5 tulisan. Misalnya di Harian Kompas, kita bisa melihat bisa ada 5 tulisan sehari, nanun juga bisa hanya empat, karena disediakan hanya dua halaman. Di koran atau surat kabar lainnya, malahan bisa lebih sedikit, yakni satu halaman yang hanya menampun dua tulisan.

Bahkan karena tulisan yang sangat panjang, bisa hanya satu tulisan. Jadi sangat terbatas bukan? Sementara jumlah orang yang mengirim tulisan dalam satu hari begitu banyak. Di sejumlah majalah  di Indonesia yang umumnya terbit di Jakarta  juga menyediakan ruang menulis yang sangat sedikit kepada publik.  Alasannya bisa  karena penulis yang mengisi ruang atau halaman majalah itu umumnya para wartawannya sebdiri. 

Si samping itu, ketika kita ingin mengirim tulisan ke media massa cetak tersebut, wewenang atau otoritas untuk memuat tulisan itu keputusannya ada di  media itu sendiri. Kita hanya mengiirm tulisan-tulisan yang sudah ditulis dengan mengikuti kaedah-kaedah yang sesuai dengan media tersebut. Oleh sebab itu, kita harus mengikuti syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh sebuah media. Misalnya, tulisan yang dikirimkan harus yang aktual, disajikan secara menarik dan benar, analisis harus mendalam, panjang tulisan hanya sekian kata atau sekian halaman. Lalu, penulis harus menyertakan identitas diri berupa foto copy KTP dan lainnya. Pendek kata, menulis di media massa tersebut tidak gampang bagi semua orang, apalagi bagi pemula yang kualitas tulisannya masih jauh dari kriteria yang ada pada sebuah media.

Nah, ketika jumlah media yang ada terbatas, jumlah penulis yang banyak, maka tak dapat dipungkiri bahwa secara faktual kita mengalami kesulitan. Untuk bisa memuat tulisan kita di media cetak, kita memnag harus benar-benar membuat tulisan yang berkualitas, sesuai dengan kriteria yang dibuat media tersebut. Dengan demikian, tidak banyak orang menulis, apalagi dengan seadanya saja.

Wajar saja kalau yang menulis di media massa tersebut, yang itu-itu saja. Media cetak pun tidak akan sembarangan memuat tulisan kita. Media cendrung memuat tulisan-tulisan penulis yang sudah terkenal, karena tulisan orang-orang yang sudah terkenal akan banyak pembacanya. Media cetak juga bisnis, maka harus memiliki nilai jual yang tinggi agar oplah meningkat. Konsekwensinya, orang-orang yang menulis di media cetak termasuk golongan orang-orang yang hebat, intelektual dengan sebutan penulis. Sementara penulis pemula atau baru, harus berjuang dengan keras dan lama. 

Namun,  setelah media online hadir dan berkembang, karena tersedianya fasilitas internet, banyaklah muncul blog,vlog, website dan lainnya yang hadir atas nama pribadi,  komunitas dan media online lainnya, seperti www.potretonline.com, Kompasiana.com, dan lain-lain yang memudahkan orang-orang menulis dan melakukan publikasi karya sendiri. Kehadiran media online ini membuka kesempatan dan ruang yang seluas-luasnya kepada kita untuk menulis atau hal-hal lainnya yang lebih prduktif, kreatif, innovatif dan masif.  Artinya, media online menjadi media yang bisa digunakan kapan saja dan dimana saja serta oleh siapa saja, tanpa harus menunggu lama seperti menulis di media cetak.  Penulis bisa posting sendiri, tanpa harus menunggu hasil keputusan dari pengelola media, seperti halnya media cetak.

Media online hadir dalam berbagai format atau templet dan menjamur, karena munculnya jutaan blogger di belahan bumi yang telah memanafaatkan internet sebagai dunia lain yang membawa kita ke dunia maya. Tak dapat dipungkiri bahwa media online adalah pilihan masa kini. Oleh sebab itu, kehadiran Kompasiana.com sebagai media online yang menggunakan format sebagai forum warga yang memudahkan kita menulis dan memuatnya tanpa harus menunggu proses pemuatan yang lama itu, sudah sangat memudahkan banyak orang untuk menulis.

Begitu pula telah mendorong banyak orang untuk menulis, walaupn tanpa mendapat imbalan seperti di media cetak. Namun motivasi menulis warga Kompasiana yang terdaftar tidak surut. Wajar saja, bila kita melihat lalu lintas warga di kampung Kompasiana.com itu sangat tinggi. Setiap hari semakin banyak saja orang yang menulis. Tidak salah kalau dikatakan dalam tulisan penulis yang lalu dengan ungkapan hijrah ke dunia maya. Buktinya, semakin banyak media online yang kini tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Belakangan ini, bahkan semakin banyak pula media online yang hadir dengan konsep membuka ruang publik untuk menulis dan memuat berbagai macam karya sendiri dengan mendaftar menjadi warga dan member media tersebut. Salah satunya yang sedang ramai degeluti oleh masyarakat global adalah Steemit.com. Kehadiran Steemit.com, tampaknya telah membakar semangat atau motivasi warga dunia nyata untuk mendaftar mendapatkan ruang menulis dan berkarya. banyak orang yang belomba-lomba mengisi blog di Steemit.com dengan berbagai macam karya.

Mungkin setiap detik tulisan dan karya masyarakat dunia terus hadir di Steemit.com yang membakar semnagat orang dengan sistem mendatangkan income dari setiap postingan tulisan atau karya itu dengan tanda $ atau dolar itu. Sehingga saat ini ramai-ramai mengisi ruang di Steemit.com. Motivasinya tentu saja akan beda dengan apa yang selama ini kita lakukan di Kompasiana.com yang menjadi ajang menulis tanpa mendapat bayaran. Tanda dolar itu rupanya terus membakar semangat dan kemauan orang di mana saja untuk bisa meraup keuntungan finansial yang besar dari hasil karya mereka. Ini menjadi kesempatan bagus bagi orang-orang untuk menambah income dan bahkan menjadikan kegiatan menulis sebagai bentuk dari wirausaha yang menguntungkan saat ini. Pertanyaan kita adalah apakah orang-orang yang kini ramai-ramai mengisi ruang ekspresi dan berkarya di Steemit.com itu akan menjadi penulis yang loyal? Ayo kita cari jawabannya.