Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Guru

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ketika Saya Makan Bersama dengan Dua Presiden Finlandia

30 Desember 2017   01:14 Diperbarui: 30 Desember 2017   10:27 1240 8 5
Ketika Saya Makan Bersama dengan Dua Presiden Finlandia
Dokumentasi Pribadi

Oleh Tabrani Yunis

Ketika petinggi Negara, kala itu Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan diiringi oleh pasukan pengamanan Presiden melintasi jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya, Banda Aceh, aku berdiri di depan POTRET Gallery, sambil menanti mobil yang digunakan oleh Pak SBY. Lalu, di belakang mobil polisi, tampak mobil Pak SBY dengan membuka kaca jendela mobilnya, Ia melambaikan tangan ke arah kami yang sedang menyaksikan Pak SBY lewat. Kami membalasnya dan merasa senang atau bahagia sekali, karena mendapat lambaian tangan dari seorang kepala negara.

Kemudian, di era Pak Jokowi, beliau sering ke Aceh dan melewati jalan di depan POTRET Gallery, jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya itu, kesempatan yang sama juga kami dapatkan. Ya, ketika Pak Jokowi melewati jalan itu, kami juga berdiri di depan toko dan mengarahkan pandangan ke mobil yang membawa Pak Jokowi. Ketika lewat, Pak Jokowi juga membuka kaca mobil sambil melemparkan senyum dan lambaian tangan ke arah kami. 

Dengan tasa terharu, kami juga membalasnya. Begitulah bahagianya kita ketika bisa bertemu, dekat atau bahkan bisa bersalaman dengan pejabat tinggi. Banyak orang yang berusaha untuk bisa bersalaman dengan sang pejabat. Apalagi sekaliber kepala negara. Akan sangat berbangga bila bisa berfoto atau selfie dengan kepala negara tersebut. Hal ini, bukan saja dirasakan dan dialami oleh orang-orang awam dan biasa, malah para pejabat pun akan sangat bangga bisa berfoto dan duduk berdampingan dengan sang Presiden.

Jadi, apalagi  sebagai orang awam, masyarakat biasa, tentu ini sesuatu yang sangat membanggakan. Ya, bisa bersalaman, bisa duduk dekat dengan para pejabat, setingkat Menteri, biasanya kita sering senang dan bahkan ada banyak orang yang merasa bangga dan menjadi momentum yang dibangga-banggakannya. Agar tidak kehilangan momentum atau hilang jejak, maka momentum itu diabadikan dalam foto kenangan. 

Kalau di zaman sekarang disebut selfie. Lalu disebarkan di dunia maya. Banyak yang like atau memberikan komentar. Maka hati pun senang. Nah, apa yang membuat seseorang senang dengan hal itu, sebenarnya masing-masing punya alasan tersendiri, termasuk penulis yang juga sedang berada di era digital yang membuat orang suka selfie itu. Ya, ini memang sudah zamannya saling selfie.

Bagi penulis yang dalam starata sosial, sebagai orang biasa, yang hanya berprofesi sebagai guru SMA di daerah paling ujung Barat Sumatera, bisa wajar juga ikut berbangga dan bersyukur karena pernah mendapat kesempatan bisa bertemu, bersalaman dan bahkan duduk se meja makan  dengan orang-orang hebat, setingkat Presiden.

Alhamdulillah, pada bulan Maret 2007, penulis mendapat berkah yang luar biasa. Ya, tidak pernah terbayangkan, bahkan tidak pernah punya rencana untuk melakukan perjalanan ke Helsinki, ibu kota Finlandia yang selama ini dikenal dengan negara yang sistem dan kualitas pendidikannya diakui sebagai yang terbaik itu. Penulis sangat bersyukur kala itu mendapat kesempatan untuk datang ke negeri yang pernah dipimpin oleh seorang Presiden Marti Ahtisaari itu. 

Kala itu, penulis mendapat undangan dari Crisis Management Initiative (CMI) yang saat itu di bawah kepemimpinan Presiden Marti Ahtisaari yang berkantor di Helsinki. Penulis mendapat undangan untuk ikut mengisi seminar Internasional di Helsinki University dan di Abo Akademi di Turku, Finlandia sebagai salah satu pembicara. Di dua Universitas/academi ini penulis mempresentasikan tentang keterlibatan perempuan Aceh dalam proses pengambilan keputusan. Di Helsinki, penulis sempat duduk bersama Presiden Marti Ahtisaari di kantornya, sekalian selfie dan menikmati sajian minuman ringan. Ini adalah sebuah momentum yang sangat berharga dan mahal.

fullsizerender-2-5a470766f13344295d62b202.jpg
fullsizerender-2-5a470766f13344295d62b202.jpg
Selain dengan Presiden Marti Ahtisaari, penulis juga pernah mendapatkan kesempatan emas kedua duduk semeja dengan Presiden Finlandia yang sekarang, yakni Tarja Halonen ketika beliau datang ke Aceh. Penulis, salah satu dari 5 aktivis perempuan diundang untuk makan malam di pendopo Gubernur Aceh, di Banda Aceh. Kala itu, tampuk kekuasaan atau Gubernur Aceh adalah drh, Irwandi Yusuf yang berpasangan dengan Muhammad Nazar. 

Di tengah banyaknya tamu istimewa yang hadir di acara makan malam tersebut, 5 aktivis perempuan, termasuk penulis, duduk dan makan bersama semeja dengan Sang Presiden dan Menteri pemberdayaan perempuan. Bisa dipastikan, pasti ada yang bertanya bagaimana lima aktivis perempuan tersebut bisa duduk di kursi atau meja istimewa bersama Presiden Finlandia?

Selayaknya, penulis bersyukur bisa mendapatkan kesempatan duduk dan makan bersama dengan Presiden Finlandia ini, baik dengan Presiden Marti Ahtisaari, maupun Presiden sekarang Tarja Halonen. Tentu tidak banyak orang yang bisa mendekat kedua Presiden, tetapi Alhamdulilah, penulis sudah bisa duduk dan makan semeja dengan orang nomor satu di Finlandia tersebut. 

Semua ini, sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah disangka-sangka bisa bertemu, berjabat tangan, selfie dan bahkan duduk semeja makan dengan mereka dalam dua kesempatan. Sebenarnya, penulis malah berkeinginan bisa dekat atau bersalaman dengan Presiden sendiri, namun itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Dikatakan tidak mungkin, karena banyak factor. Ya, salah satunya, tidak ada yang membuat penulis bisa bertemu dengan Presiden, apalagi penulis bukan orang penting atau pejabat.

Namun demikian, pada tahun 2003, di bulan Oktober, penulis pernah mendapat kesempatan untuk berkunjung ke istana Negara di Jakarta, bersama sejumlah guru internasional yang kala itu sedang mengadakan acara konferensi guru Internasional di Novotel hotel, Bogor. Salah satu dari tangkaian acara tersebut adalah berkunjung ke istana Negara. 

Tentu ini adalah momentum  yang sangat menyenangkan penulis dan  para guru Internasional. Saat itu, penulis dan para guru Internasional itu sangat senang dan gembira untuk bisa bersalaman dengan Presiden Indonesia saat itu, yakni Ibu Megawati. Ya, dengan menumpangi tiga bus yang dikawal polisi saat itu, kami menuju istana negara. Dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta saat itu, para guru dari Asia dan Eropa juga ikut merasa bahagia, karena bisa datang ke Istana negera. Maka, dengan rasa senang dan haru pun bercampur. Tentu karena bisa ke istana Negara dan bisa bertemu dengan orang nomor 1 di Indonesia saat itu, ibu Negara Megawati.

Namun, setiba di istana Negara semua guru yang menjadi peserta konferensi guru internasional itu memasuki ruangan tempat pertemuan dengan Presiden Megawati saat itu, dengan penuh harap mendapat ucapan " Welcome to Jakarta atau apalah lainnya, seperti we welcome you warmly". Kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya Presiden Megawati saat itu. Bu mega hanya duduk diam, tanpa ada satu kata pun terucap, kecuali wejangan dari Menteri Pendidikan dan kebudayaan yang saat itu dijabat oleh Bapak Malik Fajar. 

Seusai wejangan dari Malik Fajar saat itu, para guru Internasional pun keluar dari ruang pertemuan dan kembali ke Bogor dengan penuh tanya. Seorang rekan guru dari Finlandia saat itu bertanya kepada penulis, mengapa Bu Presiden tidak bicara ya? Banyak pertanyaan yang muncul dan penulis juga ikut heran saat itu. Kendatipun kami sudah ke istana Presiden, tidak satu orang pun kala itu yang bisa atau dapat bersalaman dengan Presiden, termasuk penulis sendiri. Oleh sebab itu, wajarlah kalau penulis merasa bahagia dan bersyukur bisa bertemu, bersalaman, duduk semeja makan dengan dua Presiden Finlandia itu.

Pertemuan dengan dua Presiden Finlandia itu memang sebuah momentum penting dan berharga. Namun yang penting menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa bertemu, bersamalam, berfoto dan bahkan makan semeja dengan dua Presiden tersebut, baik di Aceh, maupun di Helsinki?  Semua ini, tidak lepas dari hikmah melakukan kegiatan-kegiatan social dan kemanusiaan di tengah masyarakat marginal di Aceh selama bertahun-tahun. 

Ini adalah buah dari semua kegiatan social yang dilakukan selama bertahun-tahun itu. Paling tidak ini juga karena doa orang-orang khususnya perempuan-perempuan marginal terhadap penulis. Penulis yakin sekali bahwa Allah selalu memberi jalan bagi kita untuk berbuat baik, sekecil apa pun. Alhamdulillah, semua karena kebesaran Allah. Semoga Allah masih memberikan kesempatan lagi ke depan. Amin.