Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Literasi Itu Bukan hanya Membaca dan Menulis

12 November 2017   00:51 Diperbarui: 12 November 2017   01:08 525 4 2
Literasi Itu Bukan hanya Membaca dan Menulis
doc. Pribadi

 

Seperti biasa, malam hari selepas pukul 21.00 WIB, aku menuju ke warung kopi langgananku, Gerobak Arabica coffee yang letaknya tidak jauh dari tempat usahaku, POTRET Gallery. Ya, biasalah, aku bisa jadi tergolong sebagai seorang pelanggan yang loyal, bila tidak bisa dikatakan fanatic terhadap tempat minum kopi. Ya, lebih baik tidak menyebutkan fanatic, karena fanatic sering berkonotasi negatif. Bisa jadi pula aku digolongkan sebagai sosok yang membabi buta atau babibu. 

Begitulah aku dalam bersikap sebagai pelanggan. Jangankan untuk urusan minum kopi atau makan di warung, untuk urusan bengkel mobil, urusan belanja barang kebutuhan sebulan dan bahkan membeli pakaian, aku memang tidak suka di banyak tempat, aku lebih cendrung di tempat yang sudah biasa dan kemudian menjadi pelanggan yang setia. Apakah karena aku sebagai sosok seorang yang setia? Tergantung siapa yang menilainya. Kalau penilaianku sendiri yang subjektif, ya aku boleh katakan aku setia. 

Namanya saja pandangan pribadi. Ya, sudahlah. Apa yang ingin aku sampaikan mala mini, bukan soal minum kopi atau soal berbelanja dan juga kebiasaan memilih bengkel kalau sedang mengalami kerusakan mobil. Yang akan aku bicarakan adalah soal perbicanganku dengan seorang teman ketika tiba di Gerobak Arabica coffee malam Minggu ini.

Sambil menutup payung yang aku gunakan saat menuju warkop (warung kopi), karena hujan, aku lewati beberapa meja yang dipenuhi para pelanggan atau penikmat kopi. Aku mencoba mencari tempat duduk dan tiba-tiba aku melihat Pak Budi, ya nama lengkapnya Budi Azhari. Sosok yang aku kenal sebagai seorang dosen Matematika di Universitas Islam Negeri (UIN) Darussalam, Banda Aceh. Kami sudah lama saling kenal. 

Pak Budi duduk sendiri, sementara di tempat masih bisa diisi oleh tiga orang lagi. Aku pun menyapanya dan bertanya, sendiri ya Pak Budi? Ya, Pak Tabrani, jawabnya. Silakan duduk Pak, ia mempersilakan aku duduk. Namun, matanya belum tertuju kepadaku, karena ia sedang asyik dengan HP-nya. Hmm, sebentar ya Pak, lanjutnya lagi. "Aku selesaikan sedikit lagi, karena sedang ada ide" ungkapnya. Ternyata ia sedang menulis sebuah tulisan sambil menyeruput segelas kecil kopi 'sanger".

Aku menunggu ia menyelesaikan tulisannya. Namun, aku tidak tahu ia sedang menulis apa dan tentang apa. Ya, aku pun membuka HP yang ada di tanganku, membuka dan ingin melihat jumlah pembaca tulisanku yang aku posting sore tadi. Ya sore tadi aku posting sebuah tulisan yang berjudul, Pioner Literasi di Sekolah itu Juga Pahlawan". Aku melihat jumlah pengunjungnya sudah lebih dari 100, ya Alhamdulillah, tulisanku dibaca banyak orang. 

Ya bagiku sangat senang kalau tulisanku banyak yang membaca. Apalagi kalau ada yang memberikan tanggapan, aku merasa sangat terhormat. Tidak peduli apakah itu pujian atau kritik, yang penting itu adalah sebuah bentuk apresiasi yang juga wajib aku berikan apresiasi kepada mereka yang memberikan tanggapan.

Pak Budi pun sudah meletakan HP di atas meja, pertanda ia sudah menyelesaikan tulisannya. Kami pun mulai terlibat pembicaraan.  Ia meneguk sanger yang tampaknya sudah dingin. Aku bertanya, "  sedang sibuk dengan banyak kegiatan Pak Budi ya? Ya, lumayanlah Pak Tabrani, balasnya. Sekarang sedang membantu memfasiltasi training menulis PTK untuk para guru matematika. Oo, barusan Bapak menulis soal itu? Tidak, katanya. Ini mengenai hal lain. "Aku kalau sedang ada ide, ya aku harus tulis terus. Karena kalau ide sedang ada, biasanya libido menulis itu tinggi dan ide yang ditulis bisa mengalir dengan mudah". 

Memang benar pak Budi, selaku lagi. Aku juga demikian, jawabku. Makanya, kalau sedang ada ide itu, jangan ditunda-tunda, kalau ditunda, ide itu akan hilang dan belum tentu bisa kita ambil lagi. Kalau pun ide itu kembali lagi, konteks ide pasti akan berbeda. Maka, sekali lagi janganlah ditunda-tunda. Tulis saja dulu, walau hanya sekedar judul tulisan, atau sebagai bentuk rumusan masalah saja.

" Aku, kalau menulis suka menggunakan imajinasi, ya suka berimajinasi, sehingga tidak bisa focus" tutur Pak Budi lagi. Makanya, setelah aku menulis, aku sering minta isteriku membaca tulisanku dulu, baru kemudian aku posting di facebook.. Biasanya isteriku suka kritik tulisanku dan mengatakan agar aku mengubah sedikit agar tidak ada yang tersinggung dengan tulisanku, lanjut Pak Budi. O, begitu Pak Budi ya? Tanyaku lagi. Kalau aku bersikap dan berfikir bebas saja, bagiku menulis itu adalah sebuah ekspresi atau ungkapan dari pikiranku yang ingin kutulis secara bebas dan independen

 Aku suka menulis di Kompasiana, kataku. Aku merasa tidak terikat dengan pikiran orang lain, yang penting aku tidak menulis tentang hal-hal yang menyinggung pribadi orang. Jadi tidak masalah. Makanya, sekarang aku sedang melatih diriku untuk menulis, paling sedikit satu tulisan atau satu artikel satu hari. Dalam dua hari ini aku memilih topic tulisan mengenai para pegiat literasi. Aku menulis tentang itu untuk memotivasi mereka untuk terus menjadi pegiat dan pionir literasi agar semakin banyak yang bergerak mengajak anak dan bahkan masyarakat untuk membaca dan bila mungkin menulis. 

Semakin banyak yang bergerak dan menggerakan literasi, maka akan semakin banyak anak dan masyarakat yang akan terdorong membangun budaya membaca dan menulis di sekolah dan di masyarakat.

Nah, mendengar penjelasanku, Pak Budi langsung menanggapiku. " Aku ingin mengingatkan teman-teman  pegiat literasi. Ingatkan mereka bahwa literasi itu bukan hanya baca -- tulis, tetapi juga matematika"  jadi, matematika sama pentingnya dengan membaca dan menulis. Sebab dalam prakteknya, dalam kehidupan kita, matematika itu selalu diperlukan. Misalnya, ketika kita meminta anak-anak menunggu, maka mereka akan menggunakan atau mengaplikasikan matematika. 

Ada yang tidak bisa dihitung dengan menggunakan jari di dua telapak tangan, pasti akan menggunakan rumus-rumus matematika. Seharusnya dalam kampanye literasi, titik beratnya jangan hanya pada ranah baca dan menulis, tetapi juga harus memasukan matematika. Aku tidak membantahnya, karena aku tahu bahwa matematika dan dalam Bahasa sederhana hitung berhitung adalah kebutuhan dasar bagi kita. Kalau kita tidak bisa matematika, maka kita akan tidak bisa menghitung dan menganalisis jumlah, kali, bagi dan sebagainya.

Terus terang, aku merasa tertarik dengan apa yang dikatakan pak Budi. Di pikiranku, nanti setelah selesai menikmati kopi Arabika, aku langsung pulang dan menuliskan tentang literasi numeric. Untuk itu, aku harus mencari referensi dulu, agar bisa menulis soal itu secara sempurna. Namun, seperti dikatakan di atas tadi, ketika ide itu datang, ya aku harus dengan segera dan sigap menangkap ide tersebut agar ide tidak terbang melayang, entah ke mana. Kalau ide itu terbang entah kemana, maka aku tidak bisa menulis, ya tidak bisa lahir sebuah tulisan yang seharusnya ada.

Jadi, agar aku bisa mengingatkan teman-teman pegiat literasi soal itu, aku harus menambah isi kepalaku dengan membaca literature mengenai apa yang dikatakan Pak Budi tadi. Maka, sepulang dari warung kopi, aku langsung mengambil laptop dan memulai tulisan ini.sayangnya, aku belum sempat membaca dan mencari tambahan literasi soal yang disampaikan pak Budi. 

Apalagi saat ini suah larut malam. Aku harus segera tidur, agar besok pagi bisa bangun cepat melakukan olah raga lari pagi, sekalian membaca buku-buku mengenai literasi matematika. Jadi mohon maaf, bila tulisan mengenai literasi itu, bukan hanya membac dan Menulis, tetapi juga matematika. Selamat malam dan selamat tidur.