Mohon tunggu...
Tabita Larasati
Tabita Larasati Mohon Tunggu... disainer

suka jalan-jalan dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Keragaman adalah Anugerah

14 September 2019   03:41 Diperbarui: 14 September 2019   03:47 0 3 0 Mohon Tunggu...
Keragaman adalah Anugerah
www.annursolo.com

Bukan hal yang tabu diungkapkan bahwa sejak tahun 1990 an, gerakan islam eksklusif amat massif berkembang di beberapa kampus di Indonesia. Gerakan itu makin berkembang dengan besar, kokoh dan kuat saat reformasi, dimana akses informasi dari dalam dan luar negeri berjalan dengan baik dan ditambah perkembangan teknologi.

Gerakan islamis menyakini bahwa suatu bangsa harus hidup dengan tunduk pada aturan yang sudah ditetapkan Tuhan dan al Quran dan hadits. 

Sedangkan Tarbiyah yang banyak berkembang di kampus-kampus dan selalu membawa ribuan mahasiswa baru setiap tahunnya adalah gerakan yang menitik beratkan pada pendekatan cultural pendidikan untuk membentuk satu masyarakat atau komunitas yang patuh pada aturan Tuhan dan Hadits.

Singkat kata sebenarnya mereka mencita-citakan sebuah masyarakat yang berdasarkan SIlam dan secara politik mereka ingin menegakkan syariah. Cita-cita itu mutlak untuk diraih oleh para kader mereka.

Hal penting lain adalah bahwa mahasiswa harus menjadi muslim kaffah, artinya mereka harus menjadi muslim yang benar-benar menjalankan agama dengan benar dan sungguh-sungguh. 

Mereka juga sering menggaungkan seakan islam dibawah ancaman kaum kafir (non Islam),  dan islam liberal. Sehingga narasi yang dibangun oleh mereka adalah narasi-narasi yang penuh dengan diksi intolerasi dan eksklusifitas kaum mereka sendiri. Karenanya, sering muncul ujaran kebencian terhadap kaum yang berbeda.

Yang paling berbahaya adalah merekaterafiliasi dengan sebuah partai politik yang bergaris islam keras. Seringkali kader partai adalah mahasiswa yang dulunya mendalami tarbiyah di kampus mereka.  

Mereka juga sadar bahwa untuk mewujudkan cita-cita mereka adalah menduduki kursi-kursi penting dalam organisasi; mula-mula di kampus. Sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadi ketua-ketua kegiatan ekstrakulikuler, aktif di lembaga penelitian.

Mereka sangat agresif dibandingkan organisasi islam moderat seperti organisasi Islam dibawah muhammadiyah maupun nahdatul ulama. Mereka merekrut anggota baru dengan massif dan menarik hati sehingga banyak mahasiswa baru yang terjaring. 

Menurut beberapa penelitian yang sudah dilakukan, kader-kader islam garis keras ini memang disiapkan untuk bisa bersaing mendapatkan kursi public yang penting untuk masa mendatang. Dengan menduduki berbagai kursi itu maka perubahan masyakat menuju Islam kaffah juga lebih mudah terwujud.

Mungkin kita harus membentengi diri sendiri terhadap gerakan islam di kampus yang seperti ini. Ingatlah negara kita dibangun atas dasar persatuan dan amat sulit sekali menyeragamkan perbedaan yang dimiliki Indonesia. 

Di negara kita keragaman adalah takdir, sehingga kita harus melihatnya sebagai Anugerah , bukan hal yang harus diberantas.