Mohon tunggu...
Syihab Zaenal Musthofa
Syihab Zaenal Musthofa Mohon Tunggu... Wawasan Tentang Ekonomi, Politik dan Pemerintahan

Dalam menyampaikan informasi saya akan berusaha untuk memperhatikan validasi data, mengkaji secara rasional dan berbobot. Di laman ini teman-teman bisa membaca kajian yang didalamnya terdapat perpaduan antara data terkini sebagai representasi keadaan sosial sebenarnya dan berbagai landasan teori yang merupakan kerangka menuju kesimpulan.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

IPTEK dan SDM Dalam Wawasan Ekonomi

19 Mei 2020   13:09 Diperbarui: 19 Mei 2020   13:49 431 0 0 Mohon Tunggu...


Oleh : Syihab Zaenal Musthofa
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga

 

            Pendapatan nasional merupakan tolak ukur kemampuan suatu negara memajukan taraf kualitas hidup rakyatnya. Segala sektor yang memajukan taraf kualitas hidup manusia dapat dibangun jika pendapatan nasional negara mumpuni, karena pendapatan nasional bisa menjadi tolak ukur jumlah pendapatan perkapita suatu negara, yang mana pendapatan itu mereka dapat dari pekerjaan mereka. Teori Klasik telah ditunjukkan bahwa menurut pendapat mereka tingkat kegiatan ekonomi (yang selalu mencapai tingkat kesempatan kerja penuh) dan pendapatan nasional ditentukan oleh faktor-faktor produksi yang tersedia. Dalam persamaan                                          Y = f (K,L,R.T)  dimana Y adalah pendapatan nasional, K adalah jumlah barang modal, L adalah jumlah tenaga kerja, R adalah kekayaan alam, dan T adalah tingkat teknologi (Sukirno, 2008, hlm. 98).

            Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2018 (Pusat Statistik, 2019, hlm. 634–635), pendapatan nasional Indonesia banyak disumbang oleh sektor pangan, industri pengolahan (manufacturing), retailer dan pertambangan serta didukung oleh sektor jasa lainnya yang jika kita perhatikan lebih jauh kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah sektor tersebut masih didominasi oleh industri padat karya yang mana disini masih mengandalkan banyak pekerja operator.

            Industri padat karya tentu bukan sebuah tolak ukur presepsi agraris suatu negara, karena semakin besar perindustrian suatu negara maka semakin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan perekonomian perusahaan. Indonesia memiliki laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dari tahun ke tahun, namun hal ini tidak bersamaan dengan majunya perekonomian di Indonesia yang mengimbangi pesatnya laju penduduk Indonesia sehingga angka pengangguran sulit untuk direduksi. Berbagai upaya pemerintah untuk mengurangi pengangguran sudah dilakukan, seperti mempermudah perizinan perusahaan, program pemerintah dalam memajukan UMKM, hingga mempermudah investor untuk berinvestasi. Namun hal itu belum mampu memberikan pertumbuhan jumlah lapangan pekerjaan yang dapat mengurangi jumlah pengangguran secara signifikan.

            Roda penggerak perekonomian Indonesia masih banyak disumbang oleh sektor pangan yang mana sektor ini dan komoditi hasil bumi menjadi komoditi ekspor terbesar Indonesia bersamaan banyak negara di Asia Tenggara. Komoditi ekspor menjadi tolak ukur kelebihan yang dimiliki oleh suatu negara, seperti halnya Indonesia yang komoditi ekspornya banyak berasal dari sektor pangan dan hasil bumi. Namun perlu kita ketahui perkembangan zaman terus bergerak ke arah digitalisasi dan kemudahan disetiap aktivitas manusia, sektor industri elektronik dan alat transportasi tentu menjadi sektor yang sangat menjanjikan di era globalisasi ini. Seperti halnya negara Singapura yang komoditi ekspornya banyak didominasi oleh industri elektronik, saat ini negara tersebut memiliki personal income hampir 1 Milyar.

Berbagai paparan data BPS 2018 diatas yang menunjukan berbagai sektor yang menjadi dominasi penggerak perekonomian Indonesia dan komoditas ekspor Indonesia adalah sektor sektor padat karya di bidang pangan dan hasil bumi. Ini menunjukan bahwa taraf kualitas SDM di Indonesia belum berorientasi pada produksi sektor industri-industri elektronik, otomotif, atau bahkan aviasi yang mana industri-industri tersebut memerlukan ilmu pasti tinggi, kemampuan daya analitis dan  inovatif progresif agar mampu mengkuti pergerakan globalisasi yang semakin menuju kepada digitalisasi dan artifical intelegence.

Demografi Indonesia 2019 menunjukan penduduk usia dibawah 40 tahun terus mengalami peningkatan sampai ke usia termuda yaitu 0-4 tahun(Pusat Statistik, 2019, hlm. 84). Dari data ini kita bisa melihat bahwa Indonesia akan disambut oleh bonus demografi yang jumlahnya menyentuh angka 176.000 di tahun 2018 terhitung untuk umur 0-39 tahun. Tentu jumlah ini terus bertambah dari tahun ke tahun seiring bertambahnya jumah penduduk di Indonesia. Bonus demografi merupakan sebuah momentum besar untuk memperbaiki sejak dini generasi SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa agar kelak dapat memberikan kontribusi yang dapat merubah nasib dan kondisi bangsa.

Ilmu pengetahuan dan wawasan adalah ujung tombak pembangunan SDM suatu negara, banyak sejarah negara yang sebelumnya bukan negara maju namun saat ini menjadi negara yang menguasai berbagai sektor perekonomian di dunia karena mereka sejak awal membangun kualitas SDMnya dengan meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan SDMnya. Ilmu dan pegetahuan berkaitan erat dengan penalaran manusia, yang mana kemampuan penalaran menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuatan manusia itu sendiri (Latif, 2016, hlm. 70). Disini peran ilmu pengetahuan sebagai ujung tombak perbaikan SDM di Indonesia karena jika kita memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas kita bisa menganalisis masalah kehidupan manusia dan memberikan inovasi solusi atas masalah tersebut yang kompatibel di setiap perubahan zaman.

Proses manajemen sumber daya manusia dimulai dari perencanaan SDM, penarikan, seleksi, sosialisasi, pelatihan dan pengembangan, evaluasi prestasi, promosi, transfer, demosi, serta pemberhentian kerja (M. Hanafi, 1997, hlm. 130). Perencanaan SDM yang baik harus dimulai sejak dini agar kemudian dapat menghasilkan SDM yang matang dan kompatibel di berbagai kondisi permasalahan masyarakat indonesia. Melatih intelektual dan berfikir analisis tingkat tinggi adalah salah satu cara untuk menciptakan Opinion leaders di masa yang akan datang. Dan itu sangat mungkin diterapkan melalui pembaharuan dan penjaminan mutu kualitas pendidikan di indonesia. Terbelenggu diantara dinding-dinding kelas memang dapat melatih daya teoritis kita dan melatih intelektual serta berfikir tingkat tinggi kita, namun hal itu perlu diimbangi dengan kegiatan luar kelas seperti organisasi sekolah atau kampus, kegiatan ekstrakulikuler atau unit kegiatan mahasiswa atau bahkan organisasi kemasyarakatan, karena di sana adalah wadah sesungguhnya kita menggunakan daya berfikir kita untuk menyelesaikan persoalan dan merancang kemajuan suatu kelompok kecil masyarakat. Dengan pemecahan masalah diberbagai persoalan dari kelompok kecil itulah Saya berpandangan bahwa kita dapat membentuk Opinion leader baru yang dapat memajukan peradaban bangsa Indonesia kelak.

Opinion leader adalah orang yang mempunyai keunggulan dari masyarakat kebanyakan. Sudah sepantasnya jika mereka mempunyai karakteristik yang membedakan dirinya dengan yang lain. Beberapa karakteristik yang dimaksud yaitu lebih tinggi pendidikan formalnya, lebih tinggi status sosial ekonominya, lebih inovatif dalam menerima dan mengadopsi ide baru, lebih tinggi pengenalan medianya, kemampuan empati dan sosial yang besar serta lebih berwawasan dan berpengetahuan luas (Aldhily, 2019, hlm. 65). Mencetak Opinion leader tentu bukan hal yang mudah, perlu berbagai perbaikan di berbagai sektor yang mempengaruhi segala aspek pembentuk sumber daya manusia. Tidak hanya itu, kepedulian setiap individu masyarakat terhadap pentingnya berprogres untuk kemajuan bangsa perlu ditingkatkan. Karena jika diantara kita tidak ada keinginan untuk merubah peradaban bangsa menjadi lebih baik maka kita pun tidak akan termotivasi untuk menjadi Opinion leader tersebut.

VIDEO PILIHAN