Mohon tunggu...
Syifa Maulida Hajiri
Syifa Maulida Hajiri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada

Syifa tertarik dengan dunia jurnalistik dan media kreatif, terutama dalam serba-serbi perfilman.

Selanjutnya

Tutup

New World Artikel Utama

AI dan Seni (Kontemporer): Kawan atau Lawan Seniman?

12 April 2023   09:08 Diperbarui: 13 April 2023   01:09 589
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Artificial Intelligence, Gambar: Freepik.com

Sejak artificial intelligence mulai mendisrupsi berbagai lini kehidupan, pro kontra terhadap kehadiran teknologi ini mengundang perbincangan (bahkan perdebatan) yang cukup hangat.

Mungkin banyak orang di dunia sudah tahu soal teknologi AI yang bisa melakukan berbagai pekerjaan manusia, salah satu yang paling populer saat ini adalah ChatGPT.

Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir bahwa AI benar-benar bisa menggantikan berbagai pekerjaan manusia yang variatif, terutama dalam bidang pekerjaan kreatif. Namun, nyatanya AI sudah membuktikan yang sebaliknya.

AI, tidak hanya dapat mengerjakan pekerjaan yang terkait hitung-hitungan matematis saja, teknologi ini juga bisa melakukan kerja kreatif, salah satunya menghasilkan karya seni

DALL-E, merupakan AI yang disa memproduksi gambar sesuai entry deskripsi karya yang ingin Anda buat. Tidak hanya DALL-E, masih banyak AI lainnya yang memiliki kemampuan serupa.

Melihat kemampuannya ini, apakah kita dapat langsung menyimpulkan bahwa kerja seniman dapat tergantikan oleh AI?

Mari mundur sejenak 1 tahun, ketika kontoversi besar AI dan seni menjadi perdebatan panas. "Thtre D'opra Spatial", karya Jason M. Allen yang dibuat dengan bantuan program AI bernama Midjourney, memenangkan Colorado State Fair's Annual Art Competition pada tahun 2022. Tentu saja kemenangannya mendapat banyak hujatan, salah satunya melalui media sosial. 

Perbincangan soal kontroversi ini merebak ke seluruh dunia. Saya sendiri melihat bagaimana beberapa seniman merasakan amarah. Saya mempunyai beberapa relasi dengan orang-orang yang cukup berdedikasi dengan seni. Meskipun bukan seniman besar, tetapi gagasan mereka soal kontroversi AI dan seni patut diperhitungkan.

Satu hari saya membuka Instagram, menonton stories dari orang-orang yang saya ikuti, sampai akhirnya saya berhenti sejenak mengamati unggahan story tentang kontroversi AI dan seni. 

IG Story itu diunggah oleh salah satu relasi saya yang merupakan seorang seniman, lebih spesifiknya ia menghasilkan karya-karya ilustrasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten New World Selengkapnya
Lihat New World Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun