Humaniora

Islam dan Islami

12 Januari 2018   19:34 Diperbarui: 12 Januari 2018   19:38 3079 0 0
Islam dan Islami
sumber foto: carriagesfuneralservice.co.uk


By Zainul Maarif


Yang "Islami" tidak selalu "Islam", sementara yang "Islam" belum tentu "Islami". Demikianlah kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil penelitian Hossein Askari dan Scheherazade S. Rehman.

Pada tahun 2010, dua peneliti dari The George Washinton University tersebut menulis dua artikel di Global Economy Journal. Artikel pertama berjudul "How Islamic are Islamic Countries?" (Global Economy Journal, Vol. 10, Issue 2, 2010). Artikel kedua berjudul "An Economic Islamicy Index" (Global Economy Journal, Vol. 10, Issue 3, 2010).

Mereka mengacu pada Al-Quran dan Sunnah Nabi untuk mengetahui karakterisitik negara "Islami", lalu menjadikan parameter tersebut sebagai alat teropong bagi ratusan negara. Dari penulusuran atas sumber utama Islam tersebut, mereka menemukan 113 kategori negara Islami, kemudian meninjau 208 negara, baik negara berlabel Islam dan/atau dimayoritasi muslim maupun negara tanpa label Islam dan/atau tidak dimayoritasi muslim.
Hasilnya, pada tahun 2010, Irlandia dinyatakan sebagai negara paling Islami. Saudi Arabia yang notabene negara Islam, justru menempati rangking ke 91. Sementara negara kita, Indonesia, yang mayoritas penduduknya Islam, berada di urutan ke 104. 

Atas dasar itu, dapat disimpulkan bahwa negara Islam tidak selalu Islami, demikian pula negara yang dimayoritasi muslim belum tentu Islami, sedangkan negara non Islam dan/atau dimayoritasi oleh non-muslim justru mungkin Islami.Kesimpulan tersebut bisa diabstraksikan menjadi distingsi antara Islam dan Islami. "Islam" merupakan tampilan luar. Kadang "Islam" mewujud sebagai label pada negara, kelompok masyarakat dan/atau individu. Kadang "Islam" juga termanifestasi dalam formalitas ritual.

Apakah negara, kelompok masyarakat dan/atau individu berlabel "Islam" pasti "Islami"? Dapatkah dipastikan bahwa masyarakat dan/atau individu yang menjalankan ritual formal "Islam" itu "Islami"? Jawabannya ternyata negatif.
Ada negara, kelompok masyarakat dan/atau individu yang berlabel Islam justru tidak Islami, sebagaimana banyak pula masyarakat dan/atau individu pelaku ritual formal Islam yang tidak Islami. Penyebabnya adalah substansialitas kategori "Islami".

"Islami" adalah atribut bagi entitas sosial/individual yang melakukan intisari ajaran Islam, meskipun tidak secara eksplisit menyatakan diri sebagai Islam. Negara yang bertindak adil kepada seluruh warga negaranya tanpa diskriminasi merupakan negara Islami, walaupun bukan negara Islam. Masyarakat/individu berakhlak mulia adalah masyarakah/individu Islami, kendati tidak menyatakan diri sebagai kelompok/persona Islam.Sebaliknya, negara atau masyarakat yang diskriminatif dan korup justru tidak Islami, walaupun menyatakan diri sebagai negara atau kelompok Islam. Demikian pula, individu yang buruk dalam berpikir, berbicara dan bertindak bukanlah individu Islami, meskipun individu itu rajin salat, puasa, zakat bahkan haji.

Mengapa demikian? Sebab, standar negara dan mayarakat Islami bukanlah label Islam, melainkan keadilan dan kesetaraan, sehingga Rasulullah, misalnya, pernah membela orang Yahudi yang tak bersalah tapi dituduh mencuri; dan Rasulullah pun menyatakan akan memberi hukuman yang sama kepada Fatimah putri Rasulullah andai Fatimah mencuri.

Di samping itu, standar individu Islami juga bukan identitas sebagai muslim atau melakukan ritual-ritual Islam, melainkan akhlak mulia. Secara terang benderang Rasulullah mengatakan bahwa alasan pengutusannya adalah "untuk menyempurnakan perilaku baik". Ritual-ritual dalam Islam pun bukan tujuan pada dirinya, melainkan sarana untuk memperbaiki perilaku, misalnya dalam ayat tentang salat yang berarti: "Sesungguhnya salat mencegah berbuatan buruk dan keji".(QS. Al-Ankabut: 45) Lagi pula yang disebut oleh Rasulullah sebagai muslim bukanlah orang yang rajin ibadah, melainkan "orang yang mulut dan tangannya selamat" dari keburukan.Yang keliru adalah menjadikan sarana sebagai tujuan sambil melupakan tujuan yang hakiki; dan yang keliru pula adalah mengutamakan yang formal-ekternal daripada yang esensial-internal. 

Yang ideal adalah terpenuhinya tujuan seiring dengan pelaksanaan sarana, dan terselenggaranya formalitas-eksternal bersama dengan terwujudnya sisi esensial-internal. Namun sekiranya yang ideal itu tidak tercapai, maka minimal jangan sampai terjadi kekeliruan tersebut di atas. Sebab, yang utama adalah tujuan-esensial-internal, sementara sarana-formal-eksternal "hanya" sarana, bukan tujuan pada dirinya.

Artinya, lebih baik "Islami", daripada sekadar "Islam". Tapi, akan lebih sempurna bila atribut "Islami" terengkuh bersama atribut "Islam". Sehingga, yang "Islam" mewujud secara "Islami", bukan justru yang "Islam" mewujud secara tidak "Islami", karena yang terakhir itu justru merusak citra Islam ketimbang memperindahnya. []

Sumber: syiarnusantara.id