Kandidat

Ma'ruf Amin Effects

10 Agustus 2018   15:03 Diperbarui: 10 Agustus 2018   15:30 231 0 2
Ma'ruf Amin Effects
hidayatullah.com

Mohon maaf tidak melengkapi nama beliau dengan sebutan gelar keagamaan. Bukan bermaksud tidak menghargai maqom keilmuan, kesholehan dan ketokohan dan pencapaian lain yang telah dicapai oleh beliau. Hanya kebutuhan agar judul tulisan ini lebih seksi saja, lebih eye and hear catching!

Lepas dari segala kontroversinya pemilihan Pak KH. Ma'aruf Amin sangat strategis dari berbagai kepentingan. Pertama dari figur, kapasitas dan popularitas segmental Pak KH. Ma'aruf Amin adalah untuk melengkapi kondisi eksisting Pak Joko Widodo (Jokowi). Seperti yang pernah dikatakan oleh Mahatma Gandhi bahwa orang akan mencari atau  meminta sesuatu yang tidak dimilikinya. 

Sebagian opini publik mempersepsikan bahwa pemerintah sekarang ini kurang bersahabat dengan umat Islam. Walaupun kenyataannya tidak sepenuhnya benar, toh sikap itu hanya terkait terhadap warna Islam yang mana. 

Secara umum hubungan Islam dan Negara di Indonesia baik-baik saja, tetap harmonis. Tapi setidaknya untuk kepentingan elektoral, keberadaan Pak KH. Ma'aruf Amin sebagai cawapres Pak Joko Widodo dapat mereduksi pandangan tersebut.

Kedua pemilihan Pak KH. Ma'aruf Amin juga akan mempunyai efek positif terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Diakui atau tidak walaupun dari beberapa survey yang dilakukan PDIP masih unggul, PDIP cukup khawatir dengan distigmakan sebagai partai pendukung penista agama. Walaupun PDIP tidak sendirian mendukung Ahok dalam Pilkada DKI, entah kenapa getah paling banyak justru diterima PDIP. 

Hasil Pilkada serentak 2017 dan 2018 setidaknya mengamini fenomena tersebut. Karena Pilpres 2019 akan berbarengan dengan Pileg maka aura positif religiusitas Pak KH. Maruf Amin akan dirasakan PDIP, setidaknya berupa berkurangnya sentiment negatif dan stigma yang tidak menguntungkan.

Ketiga diharapkan Pak KH. Ma'aruf Amin akan menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa yang hampir 4 tahun terakhir banyak mengalami goncangan, polarisasi dan dikotomi. Dinamika demokrasi berbuntut perselisihan berkepanjangan di tingkat pendukung. Ini tidak sehat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Dalam suatu wawancara ketika dalam masa kandidasi Cawapres Pak Jokowi, Pak KH. Ma'ruf Amin pernah menyatakan bahwa, "Kalau untuk kepentingan bangsa dan negara memanggil harus siap!".  

Untuk menyatukan kembali bangsa inilah mungkin kepentingan bangsa dan negara yang dimaksud. Keberadaan Pak KH. Ma'ruf Amin juga diharapkan dapat mengeliminasi gesekan-gesekan bernuansa SARA di berbagai tingkatan.

Tapi efek-efek itu juga tidak akan sepenuhnya bekerja. Di lapangan variabelnya sangat banyak yang terkadang sulit untuk dianalisa. Polarisasi dan dikotomi dikalangan pemilih muslim juga menjadi sesuatu yang sulit untuk diurai. Sepertinya konsep Abangan, Santri, Priyayi-nya Clifford Geertz sepertinya masih bekerja. Santripun afiliasinya beraneka rupa mengikuti kepentingan, panglima dari segala asal muasal sikap dan tindakan.

Siapapun yang terpilih nanti mudah-mudahan yang terbaik bagi bangsa ini. Pak Prabowo dan Pak Jokowi adalah orang hebat dan baik. Pak Sandiaga Salahuddin Uno dan Pak KH. Ma'ruf Amin juga hebat dan baik. Mudah-mudahan dinamika demokrasi ini menemui tujuan akhirnya menciptakan masyarakat adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin