Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun - mantan wartawan - Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor - Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak - Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Pengurus IKA UNJ (2017-sekarang). Penulis dan Editor dari 47 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN, Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen Surti Bukan Perempuan Metropolis. Penasihat Forum TBM Kab. Bogor, Education Specialist GEMA DIDAKTIKA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Bumi Kita Sama tapi Takdir Kita Berbeda

18 April 2024   07:37 Diperbarui: 18 April 2024   07:46 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sangat mungkin terjadi pada setiap kita. Saat pernah kecewa atas apa yang kita terima. Sedih atas apa yang kita alami. Sehingga kita sering mengeluh atas apa yang kita peroleh, dan mungkin kita sering merasa bahwa takdir yang menimpa kita tidaklah adil. Apalagi jika dibandingkan dengan apa yang diperoleh orang lain 

Karenanya, kita sangat suka menyakiti hati kita sendiri dengan cara membandingkan-bandingkan apa yang orang lain dapat dengan apa yang kita miliki. Selalu merasa tidak puas atas capaian diri sendiri. Akhirnya, hari-hati dijalani dengan penuh keluhan tanpa lagi mampu bersyukur sedikit pun. Semua kondisi itu, sangat mungkin terjadi pada diri kita. 

Keluhan kita makin menjadi-jadi. Saat gemar membandingkan diri dengan orang lain.

Ada yang bekerja cepat kaya, kita tidak suka.

Ada yang wisuda cepat, kita merasa iri hati.

Ada yang punya aktivitas sosial, kita benci.


Ada yang hidupnya enjoy, kita fitnah.

Ada yang berhasil, kita malah menggibahi. Dan ada yang punya harta, kita justru menipunya.

Serba iri, benci, dengki, hingga tidak ada lagi perbuatan baik yang bisa dilakukan. Mau sampai kapan nilai kehidupan selalu diukur dengan apa yang orang lain peroleh?  Di mana letak rasa syukur kita? 

Apa yang saya mau katakan. Catatan ini saya buat saat sedang menjalankan ibadah umroh (18/4/2024). Tepatnya di Masjid Nabawi di waktu tahajud. Ternyata, apa yang kita peroleh dan alami sejatinya adalah yang terbaik Allah berikan kepada kuat. Semua yang kita terima sangat pantas untuk diri kita. Allah tidak akan berikan yang kita belum siap mengelolanya. Tapi Allah pasti akan memberikannya ketika sudah siap untuk menerimanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun